Oleh: Nurudin
Saya sering heran melihat orang-orang di sekitar saya. Hidup mereka masih pas-pasan. Namun semangat membela tokoh politik sangat menggebu-gebu. Pasang badan membela habis-habisan.
Contoh ringan menjelang Pemilihan Umum (Pemilu). Warung kopi di Langlang, Singosari, Malang yang sering saya kunjungi berubah menjadi arena debat. Grup WhatsApp (WA) ramai dengan kiriman video politik. Bahkan, di desa saya sendiri, beberapa warga sempat bersitegang hanya karena berbeda pilihan. Padahal, setelah pemilu selesai, mereka tetap bertemu di sawah, di masjid, atau di warung yang sama.
Kampanye Politik Lewat Simbol Pengaruhi Masyarakat
Orang banyak bertanya, mengapa hal seperti itu bisa terjadi? Jawabannya bukan karena masyarakat kecil tidak rasional. Justru sebaliknya. Mereka sedang mencari harapan. Ketika hidup dipenuhi harga kebutuhan yang terus naik, pekerjaan sulit, dan masa depan terasa tidak pasti, kehadiran seorang tokoh politik sering dipandang sebagai jalan keluar. Tokoh itu bukan sekadar calon pemimpin. Ia dianggap sebagai orang yang mampu mengubah nasib.
Dalam ilmu komunikasi politik, kondisi seperti ini sangat mudah dimanfaatkan. Politik tidak hanya bekerja lewat program. Lewat cerita juga. Masyarakat tidak selalu mempertimbangan dokumen visi-misi. Mereka memilih kisah yang menyentuh perasaan. Mereka memilih sosok yang dianggap memahami penderitaan mereka.
Lihatlah, kampanye politik hampir selalu dipenuhi simbol. Ada yang memakai baju sederhana, makan di warung kaki lima, blusukan ke gang sempit, menggendong anak kecil, atau duduk bersama pedagang pasar. Ingat kandidat presiden 2014 yang masuk gorong-gorong di Jakarta? Semua itu bukan kebetulan. Semua dirancang agar publik merasa, “Dia orang seperti saya.”
Politik Memanfaatkan Rasa Kecewa Masyarakat
Ketika seseorang merasa diwakili, hubungan politik berubah menjadi hubungan emosional. Di titik inilah fanatisme kadang mulai tumbuh.
Dalam politik, disebut grievance politics (politik yang memanfaatkan rasa kecewa masyarakat). Lihat laporan Edelman Trust Barometer (2025). Ada sekitar 61 persen responden dunia memiliki tingkat kekecewaan sedang hingga tinggi terhadap pemerintah. Juga dunia usaha dan kelompok kaya karena merasa sistem hanya menguntungkan segelintir orang.
Gayung bersambut. Perasaan diperlakukan tidak adil itu membuat masyarakat semakin mudah menerima tokoh yang seolah menawarkan perubahan besar. Lalu menyalahkan kelompok lain sebagai penyebab penderitaan mereka.
Harapan akhirnya berubah menjadi ikatan. Ikatan berubah menjadi loyalitas. Lalu loyalitas perlahan berkembang menjadi fanatisme.
Rakyat Bertengkar, Elite Duduk Semeja
Saya sering melihat ironi yang sulit dijelaskan dengan akal sehat. Warga yang sama-sama berpenghasilan pas-pasan saling mengejek karena pilihan politik berbeda. Hubungan keluarga retak. Pertemanan renggang. Padahal mereka menghadapi persoalan hidup yang sama. Misalnya soal biaya sekolah anak, harga sembako, pekerjaan yang tidak selalu pasti, dan penghasilan yang terbatas.
Mengapa mereka rela bertengkar? Karena politik tidak hanya menawarkan calon pemimpin. Politik menawarkan identitas. Ketika seseorang bergabung menjadi pendukung sebuah tokoh, ia memperoleh rasa memiliki. Ia merasa menjadi bagian dari kelompok yang memperjuangkan masa depan yang sama. Kelompok itu kemudian memiliki simbol, slogan, sampai “musuh bersama”.
Itu namanya identitas kelompok. Ketika identitas politik menjadi bagian dari identitas diri, kritik terhadap tokoh yang didukung sering dianggap sebagai serangan pribadi. Akibatnya, orang tidak lagi mempertimbangkan benar atau salah sebuah informasi. Yang dipikirkan hanya bagaimana membela kelompoknya.
Media sosial mempercepat proses tersebut. Algoritma lebih senang menampilkan konten yang memancing emosi dibandingkan informasi yang “menenangkan”. Semakin marah seseorang, semakin besar peluang ia membagikan sebuah unggahan. Lama-kelamaan, seseorang hanya melihat informasi yang menguatkan keyakinannya sendiri.
Elite politik sering kali jauh lebih pragmatis daripada para pendukungnya. Seusai Pemilu, lawan politik bisa duduk semeja, berkoalisi, berbagi jabatan, bahkan saling memuji. Sementara para pendukung di bawah masih sibuk memperdebatkan siapa yang paling benar.
Elite Mengelola Politik Secara Kalkulasi
Di sinilah paradoks demokrasi muncul. Rakyat mempertahankan loyalitas dengan emosi. Sedangkan elite sering mengelola politik dengan kalkulasi.
Bukan berarti masyarakat yang kondisi ekonominya lebih baik pasti tidak peduli pada politik. Banyak juga kalangan mapan yang sangat fanatik. Namun, mereka umumnya memiliki lebih banyak sumber daya untuk menghadapi perubahan politik.
Kehidupan ekonomi yang lebih stabil membuat pergantian pemimpin tidak selalu dipandang sebagai penentu utama nasib keluarga. Sebaliknya, bagi sebagian warga yang merasa hidupnya berada di “ujung tanduk”, setiap Pemilu terasa seperti kesempatan terakhir untuk memperbaiki keadaan.
Itulah sebabnya janji politik sering terdengar jauh lebih meyakinkan dibandingkan data statistik. Harapan memiliki daya tarik yang tidak dimiliki angka.
Masyarakat Hanya Dijadikan Objek
Masyarakat tidak tahu bahwa harapan besar itu bisa dimanfaatkan. Ketika janji tidak pernah diuji, masyarakat mudah terjebak pada siklus yang sama. Tokoh berganti, slogan berubah. Persoalan pokok tetap tidak bergerak berubah.
Saya selalu merasa sedih ketika melihat sesama rakyat saling bermusuhan hanya karena pilihan politik. Mereka sebenarnya memiliki kepentingan dna kebutuhan yang sama, bukan? Namun perhatian mereka sering dialihkan kepada pertengkaran yang justru menguntungkan elite.
Saya kadang masih percaya masyarakat tidak membutuhkan “juru selamat”. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang bekerja dan warga yang tetap kritis. Politik memang boleh melibatkan perasaan. Namun demikian jangan sampai emosi mengambil alih akal sehat.
Saat seseorang lebih sibuk membela tokoh daripada mengawasi kebijakannya demokrasi kehilangan maknanya. Tokoh politik datang dan pergi, sementara rakyat tetap hidup berdampingan. Jangan sampai persaudaraan rusak hanya demi mempertahankan fanatisme yang belum tentu memperbaiki kehidupan.
Penulis : *Dr. Nurudin, M.Si, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Penulis bisa dihubungi: IG/tiktok/tread/X: nurudinwriter_











