Festival Dolanan Hidupkan Kembali Permainan Tradisional 

SUARAMALANG.COM, Kota Batu--Taman Dolan Batu bersama mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang lewat Tim Wavvy Creative sukses menyelenggarakan Festival Dolanan sebagai puncak kegiatan Praktikum 3 Brand Activation.

Mengusung tema “Balik Dolanan”, festival ini menghadirkan pengalaman bermain permainan tradisional yang dipadukan dengan pertunjukan seni budaya, aktivitas keluarga, dan suasana alam pedesaan khas Taman Dolan Batu.

Festival ini menjadi bagian dari strategi brand activation untuk memperluas segmentasi pengunjung Taman Dolan Batu yang selama ini didominasi rombongan sekolah menuju keluarga muda, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan tim, tingginya minat masyarakat terhadap wisata alam dan pengalaman kebersamaan menjadi dasar lahirnya konsep festival yang mengangkat kembali nilai-nilai budaya lokal melalui permainan tradisional.

Berbagai aktivitas disuguhkan sepanjang acara, mulai dari permainan tradisional seperti engklek, congklak, egrang, bakiak, bentengan, gobak sodor, hingga bekel yang dapat dimainkan oleh peserta dari berbagai kalangan usia.

Sebelum permainan dimulai, peserta mendapatkan sesi edukatif yang dipandu oleh Mbah Jo, yang memperkenalkan sejarah, filosofi, serta tata cara memainkan setiap permainan tradisional secara interaktif.

Suasana festival semakin meriah dengan penampilan Laskar Angin Percussion yang membawakan musik tradisional, dilanjutkan pertunjukan Teater Sinden FISIP UMM bertajuk Kalah Menang, Sing Penting Dolan Bareng yang mengangkat nilai kebersamaan, sportivitas, dan pelestarian budaya melalui permainan tradisional.

Kemeriahan acara semakin lengkap dengan penampilan Miben Voice,  yang membawakan lagu-lagu tradisional Jawa, seperti Padang Bulan, Cublak-Cublak Suweng, dan Prau Layar, yang dipadukan dengan interaksi permainan tradisional sehingga menciptakan suasana nostalgia sekaligus mengajak pengunjung untuk kembali mengenal dan mencintai warisan budaya lokal.

Lentera Malam Simbol Harapan Masa Depan

Puncak acara ditandai dengan prosesi Lentera Malam, ketika seluruh peserta menuliskan harapan pada secarik kertas lalu menerbangkan lentera secara bersama-sama. Momen tersebut menjadi simbol harapan agar nilai kebersamaan, budaya, dan permainan tradisional tetap hidup di tengah perkembangan era digital.

Ketua Pelaksana Festival Dolanan, Muhammad Farelino, mengatakan bahwa festival ini lahir dari keprihatinan terhadap permainan tradisional yang mulai terlupakan oleh generasi muda.

“Permainan tradisional perlahan mulai dilupakan oleh generasi sekarang. Padahal di setiap dolanan terdapat nilai kebersamaan, kejujuran, kreativitas, serta kearifan lokal yang perlu terus diwariskan. Melalui Festival Dolanan, kami ingin menghadirkan kembali pengalaman bermain secara langsung dalam suasana yang edukatif dan menyenangkan bagi keluarga yang berkunjung ke Taman Dolan Batu,” ujarnya.

Implementasi Pembelajaran Mahasiswa

Hal senada disampaikan oleh dosen pembimbing Praktikum Brand Activation Ilmu Komunikasi UMM, Jamroji, S.Sos., M.Comms. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi implementasi pembelajaran mahasiswa, tetapi juga bentuk nyata pelestarian budaya.

“Festival ini menjadi upaya untuk mengingatkan kembali permainan-permainan tradisional yang dahulu pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, namun kini mulai terlupakan oleh generasi muda. Harapannya, budaya bermain bersama dapat kembali dikenal dan diwariskan kepada anak-anak saat ini,” jelasnya.

Sementara itu, Owner Taman Dolan Batu, Miftah Hadi, mengapresiasi inisiatif mahasiswa dalam menghadirkan kegiatan yang selaras dengan nilai-nilai Taman Dolan.

“Semoga kegiatan ini memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjadi momen yang mampu mempererat hubungan keluarga melalui pengalaman bermain, belajar, dan menikmati budaya bersama di Taman Dolan Batu,” ungkapnya.

Festival Dolanan mendapat antusiasme tinggi dari para peserta. Banyak keluarga mengaku senang karena anak-anak mereka dapat mencoba langsung berbagai permainan tradisional yang selama ini hanya dikenal melalui cerita orang tua. Bagi para orang tua, festival ini menjadi kesempatan berharga untuk memperkenalkan kembali budaya bermain yang sederhana, penuh kebersamaan, dan sarat nilai edukatif.

Pewarta: * Tim Wavvy

Iklan
Iklan