SUARAMALANG.COM, Banyuwangi – Kalau kamu pernah menonton trilogi Lord of the Rings dan terpesona dengan hutan Fangorn — hutan tua berisi pohon-pohon raksasa dengan akar yang menjalar di mana-mana — De Djawatan Banyuwangi adalah versi nyatanya yang bisa kamu kunjungi hari ini. Bedanya: tidak perlu terbang ke Selandia Baru. Tidak perlu budget besar. Dan tiket masuknya hanya Rp 7.500.
De Djawatan terletak di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi — sekitar 31 km atau satu jam perjalanan dari pusat Kota Banyuwangi. Kawasan seluas 6 hektar ini dipenuhi pohon trembesi (Samanea saman) berusia ratusan tahun dengan batang yang sangat besar dan kanopi yang sangat lebat. Pohon-pohon itu tumbuh begitu rapat sehingga tajuk-tajuknya saling bertautan di atas — menciptakan atap alami yang menaungi seluruh area dalam suasana teduh yang konstan.
Sejarah yang Memberi Konteks Berbeda
Tidak banyak yang tahu bahwa De Djawatan sebenarnya bukan kawasan hutan alam murni. Pada era penjajahan Belanda, kawasan seluas 6 hektar ini dimanfaatkan sebagai tempat penimbunan pohon jati yang siap diolah. Pohon-pohon trembesi yang sekarang menjadi daya tarik utamanya justru ditanam sebagai pagar pembatas dan peneduh gudang kayu.
Setelah kemerdekaan, lahan ini beralih ke pengelolaan Perhutani. Pohon-pohon trembesiny terus tumbuh selama puluhan tahun tanpa banyak yang memperhatikan. Barulah sekitar tahun 2017, seorang fotografer mengunggah foto suasana hutan ini ke media sosial — dan semuanya berubah. Foto itu viral, lokasi mulai ramai dikunjungi, dan pengelola kemudian serius mengembangkannya sebagai destinasi wisata.
Justru karena tidak dirancang dari awal sebagai taman wisata, De Djawatan memiliki keaslian yang sulit ditiru oleh destinasi wisata buatan mana pun.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan di Sini
Fotografi dan konten kreatif adalah aktivitas utama yang paling banyak dilakukan pengunjung. Efek cahaya yang menerobos sela-sela kanopi pohon menciptakan pola sinar dan bayangan di tanah yang sangat dramatis — terutama saat matahari berada di posisi rendah, yaitu pagi antara pukul 07.00–09.00 WIB dan sore antara 15.00–17.00 WIB.
Piknik keluarga sangat populer di De Djawatan karena kawasannya teduh, udara sejuk, dan medannya datar — tidak ada tanjakan atau jalur berbatu yang menyulitkan. Anak-anak bisa berlari bebas di bawah pepohonan tanpa khawatir panas atau kelelahan karena atap alami pohon trembesi menjaga suhu tetap nyaman sepanjang hari.
Foto pre-wedding sudah menjadi tradisi tersendiri di De Djawatan. Pasangan dari berbagai kota datang khusus ke sini karena latar hutan dengan efek cahaya natural yang sangat sulit direplikasi oleh studio foto mana pun.
Spot foto rumah pohon adalah titik yang paling banyak diminati pengunjung. Karena popularitasnya, antrean di titik ini bisa cukup panjang di akhir pekan. Datang pagi hari untuk menghindari antrean dan mendapat pencahayaan terbaik.
Tiket Masuk dan Jam Buka 2026
Tiket masuk De Djawatan hanya Rp 7.500 per orang. Parkir motor Rp 2.000 dan mobil Rp 5.000. Harga bisa berubah saat event atau libur panjang.
De Djawatan Forest buka setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga 17.00 WIB. Disarankan datang pagi atau sore untuk mendapat pencahayaan terbaik dan suasana yang lebih nyaman.
Fasilitas yang tersedia: area parkir, toilet umum, mushola, warung makan dan kafe, gazebo, tempat duduk, dan lapangan olahraga. Tersedia juga wahana seperti kuda, delman, dan ATV dengan biaya tambahan.
Cara Menuju De Djawatan
Dari Kota Banyuwangi: Jarak sekitar 31 km dengan waktu tempuh 1 jam menggunakan kendaraan pribadi. Ikuti rute ke arah selatan menuju Rogojampi, kemudian terus ke Srono dan Cluring. Di Pertigaan Benculuk, pintu masuk De Djawatan ada di kanan jalan atau sisi utara Masjid Jami’ Al-Falah.
Satu catatan penting: petunjuk arah menuju lokasi tidak terlalu besar, sehingga pengunjung yang baru pertama kali datang mungkin perlu bertanya kepada warga setempat. Gunakan Google Maps dengan kata kunci “De Djawatan” untuk navigasi yang lebih akurat.
Dari Malang atau Surabaya: Ambil jalur menuju Jember, lanjut ke Banyuwangi, kemudian ikuti rute ke selatan menuju Cluring. Waktu tempuh dari Malang sekitar 4–5 jam tergantung kondisi lalu lintas.
Waktu Terbaik dan Tips Berkunjung
Datanglah pagi hari antara pukul 07.00–09.00 WIB. Selain pencahayaan yang paling ideal untuk fotografi, kawasan ini belum ramai sehingga kamu bisa menikmati suasana hutan dengan lebih leluasa. Efek sinar matahari yang menerobos kanopi pohon paling dramatis justru di jam-jam pertama setelah buka.
Hindari hari Sabtu dan Minggu pagi di musim liburan sekolah jika kamu tidak siap dengan kepadatan pengunjung. Di akhir pekan peak season, spot foto favorit seperti rumah pohon bisa membutuhkan waktu tunggu yang cukup panjang.
Bawa uang tunai karena fasilitas pembayaran digital di area ini masih terbatas. Kenakan alas kaki yang nyaman karena kamu akan banyak berjalan di atas tanah dengan akar pohon yang menonjol di beberapa titik.
Lebih dari Sekadar Foto
De Djawatan membuktikan sesuatu yang menarik tentang pariwisata: tidak selalu yang paling mahal atau paling canggih yang paling membekas. Kadang sebuah hutan tua dengan pohon-pohon yang sudah ada jauh sebelum kamu lahir — dan tiket seharga segelas es teh — bisa memberikan pengalaman yang jauh lebih berkesan dari wahana tematik manapun.
Kalau kamu sudah merencanakan perjalanan ke Banyuwangi, De Djawatan sangat layak masuk ke dalam itinerary. Tidak perlu waktu lama — dua jam di dalam kawasan ini sudah lebih dari cukup untuk mendapat pengalaman dan foto-foto yang tidak akan kamu temukan di tempat lain manapun di Indonesia.


















