SUARAMALANG.COM, Kota Malang- Kegiatan Ngalam Hebak 2026 akan mengajak masyarakat mengenali, merawat dan menggunakan Osob Kiwalan atau boso walikan sebagai bagian dari budaya Malang. Ajakan itu akan menjadi salah satu bagian dari deklarasi Ngalam Hebak yang dijadwalkan berlangsung di Sasana Krida Budaya Celaket, Kota Malang, Minggu (27/9/2026).
Ketua Pelaksana Ngalam Hebak 2026, Hanan Djalil, mengatakan penggunaan boso walikan akan diperkenalkan melalui interaksi langsung selama acara, termasuk dalam transaksi antara pengunjung dan pelaku UMKM.
“Seluruh peserta di dalam venue atau area acara kami imbau menggunakan Osob Kiwalan atau boso walikan, termasuk saat melakukan transaksi jual beli dengan UMKM,” kata Hanan, Senin (21/9/2026).
Menurut Hanan, Ngalam Hebak tidak hanya berbicara tentang kebanggaan terhadap Malang. Gerakan tersebut juga membawa gagasan untuk mengenali sejarah, merawat budaya, serta menjadikan Malang sebagai ruang bersama yang terbuka bagi masyarakat dengan beragam latar belakang.
“Yang kami undang tidak hanya pelaku budaya, tetapi juga akademisi, mahasiswa, tokoh pemuda, UMKM dan masyarakat umum. Harapannya, Ngalam Hebak menjadi ruang bersama,” ujar Hanan.
Semangat tersebut dituangkan dalam Holopes Janji Ngalam Hebak yang akan dibacakan sebagai bagian dari momentum deklarasi. Dalam janji tersebut, warga Malang Raya diajak menjaga sejarah Malang sebagai bagian dari sejarah, kebudayaan, dan peradaban Nusantara.
Komitmen itu juga mencakup upaya memelihara dan mengembangkan budaya Malang, termasuk bahasa walikan, sastra, seni, tradisi, serta berbagai kearifan lokal sebagai warisan dan identitas bersama.
Merawat Budaya dengan Holopes Janji
Selain merawat budaya, Holopes Janji Ngalam Hebak memuat komitmen untuk menumbuhkan kebanggaan sebagai warga Malang dengan tetap rendah hati, terbuka, serta menghormati keberadaan dan martabat masyarakat dari daerah lain.
Malang juga didorong menjadi ruang bersama yang aman, terbuka, inklusif dan ramah bagi setiap orang tanpa membedakan asal-usul, latar belakang maupun status sosial. Komitmen tersebut disertai penegasan untuk membangun kehidupan bersama yang bebas dari penghinaan, diskriminasi, kekerasan dan intoleransi.
Dalam Holopes Janji Ngalam Hebak, warga juga diajak menjaga keamanan, kedamaian, kerukunan dan kenyamanan Malang melalui kepedulian, gotong royong serta penghormatan terhadap hukum dan norma kehidupan bersama.
Di bidang pembangunan, komitmen tersebut mencakup dorongan terhadap kemajuan dan kesejahteraan Malang melalui ilmu pengetahuan, pendidikan, ekonomi, kebudayaan, teknologi, kelestarian lingkungan dan berbagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Holopes Janji Dibacakan dalam Ngalam Hebak
Hubungan antara warga lokal dan pendatang juga menjadi bagian dari komitmen tersebut. Khususnya generasi muda, hubungan itu didorong dibangun melalui pergaulan, komunikasi dan dialog yang terbuka, setara serta saling menghormati.
Holopes Janji Ngalam Hebak juga menekankan bahwa kecintaan terhadap Malang tidak menjadi alasan untuk merendahkan daerah maupun budaya lain. Sebaliknya, keharmonisan antardaerah dan antarbudaya dipandang sebagai bagian dari kecintaan kepada Indonesia.
“Jadi deklarasi ini bukan akhir. Setelahnya ada sarasehan Osob Kiwalan dan juga rencana city run yang mengajak peserta mengenal kampung-kampung tematik di Kota Malang. Yang digagas oleh Kapolresta Malang Kota, bapak Kombespol Danang Setiyo Pambudi Sukarno,” ujar Hanan.
Pertunjukkan Seni dan Budaya Khas Malang Warnai Ngalam Hebak
Rangkaian deklarasi Ngalam Hebak akan diisi berbagai pertunjukan seni dari Malang dan sejumlah daerah. Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan musik Rindik yang diiringi tari pergaulan khas Bali.
Pukul 09.30 WIB, acara dilanjutkan dengan pertunjukan jaran kepang atau luda lumping dari Dinoyo Aji. Setelah itu, panggung akan menghadirkan kolaborasi seni tari, mulai dari Tari Selamat Datang Beskalan khas Malang, Tari Remo khas Surabaya, Tari Jathilan khas Ponorogo, Tari Gandrung khas Banyuwangi, tari pendek khas Bali hingga Tari Topeng Malang.
Pertunjukan tersebut dilanjutkan dengan fashion show batik tulis Celaket khas Malang yang berkolaborasi dengan Andre Modelling School (AMS).
Rangkaian acara kemudian diisi sambutan perwakilan panitia, Dr. Imron Rozuli yang merupakan Dekan FISIP Universitas Brawijaya (UB), dilanjutkan sambutan Wali Kota Malang Dr. Wahyu Hidayat.
Penggagas Ngalam Hebak sekaligus Kapolresta Malang Kota Kombespol Danang Setiyo Pambudi Sukarno juga dijadwalkan menyampaikan sambutan.
Setelah rangkaian sambutan, pembacaan Holopes Janji Ngalam Hebak menjadi momentum deklarasi Ngalam Hebak 2026.
Kesenian dan Budaya Daerah Warnai Ngalam Hebak
Pada siang hari, penyanyi asal Banyuwangi, Demy, dijadwalkan tampil dalam konsep campursari hingga sekitar pukul 14.00 WIB. Selanjutnya, pukul 14.00-17.00 WIB, pengunjung akan disuguhi penampilan reog Ponorogo dan kalapan jaranan.
Pada malam hari, rangkaian acara dilanjutkan dengan pertunjukan pencak silat Pamor Garuda Hitam dari Rampalcelaket pimpinan Dahlil.
Ngalam Hebak 2026 juga mengundang kepala daerah se-Malang Raya, akademisi, organisasi mahasiswa daerah, tokoh pemuda, politisi se-Malang Raya, pelaku budaya, pelaku UMKM, Ikatan Keluarga Banyuwangi (IKAWANGI) Malang Raya dan Jawa Timur, serta masyarakat umum.
Ngalam Hebak Dimeriahkan City Run
Hanan mengatakan kegiatan Ngalam Hebak tidak berhenti setelah deklarasi. Pada pertengahan Oktober 2026, akan digelar sarasehan boso walikan atau Osob Kiwalan yang digagas Polresta Malang Kota.
Rangkaian kegiatan berikutnya juga direncanakan berupa city run pada akhir Oktober 2026. Para pelari nantinya akan diajak menyusuri sejumlah kampung tematik di Kota Malang.
Rute tersebut antara lain Kampung Warna-Warni, Kampung Putih, Kampung Celaket, Kampung Biru dan kawasan Kayutangan Heritage. Stadion Gajayana Kota Malang direncanakan menjadi titik start dan finish.
Dalam Holopes Janji Ngalam Hebak, seluruh komitmen tersebut dirangkum dalam semangat menjadikan Malang sebagai wilayah yang berbudaya, aman, rukun, terbuka dan berkemajuan.
Pewarta: * MS Alkatiri














