SUARAMALANG.COM – Kesulitan berkonsentrasi, kebiasaan menunda pekerjaan hingga mendekati tenggat waktu, dan mudah terdistraksi saat bekerja kerap dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, ketika berbagai konten tentang Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) ramai beredar di media sosial, sebagian orang mulai mempertanyakan kondisi dirinya sendiri.
“Jangan-jangan aku ADHD?”
Pertanyaan tersebut semakin relevan di tengah meningkatnya perbincangan tentang kesehatan mental, terutama mengenai fenomena late diagnosis ADHD pada orang dewasa. Banyak orang baru mengenali kemungkinan adanya gangguan perhatian ketika tuntutan pekerjaan, tanggung jawab pribadi, dan kehidupan sosial semakin kompleks.
Di satu sisi, tren ini dapat membantu masyarakat mengenali kondisi yang sebelumnya kurang dipahami. Namun, di sisi lain, informasi yang beredar tanpa konteks medis berpotensi mendorong self-diagnosis atau upaya mendiagnosis diri sendiri tanpa pemeriksaan profesional.
Dalam episode terbaru Podcast SuarAkademia, dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Nabhan Husein, membahas fenomena tersebut, termasuk perbedaan antara meningkatnya literasi kesehatan mental dan kecenderungan menyimpulkan kondisi diri berdasarkan konten internet.
ADHD pada Orang Dewasa Tidak Selalu Mudah Dikenali
ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai pola gejala kurang perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Selama bertahun-tahun, ADHD kerap diasosiasikan dengan anak-anak yang sulit diam, terlalu aktif, atau mengalami masalah perilaku di sekolah. Padahal, gejalanya dapat berlanjut hingga dewasa dan tidak selalu terlihat dalam bentuk hiperaktivitas fisik.
Pada orang dewasa, kesulitan dapat muncul dalam bentuk mudah terdistraksi, sulit mengatur prioritas, sering melupakan kewajiban, kesulitan menyelesaikan pekerjaan, atau bertindak secara impulsif.
Menurut National Institute of Mental Health (NIMH), sebagian orang baru mendapatkan diagnosis ADHD ketika dewasa karena gejalanya tidak dikenali sejak kecil atau mereka mampu mengelola tantangan tersebut sampai tuntutan kehidupan semakin berat.
Kondisi ini membantu menjelaskan mengapa sebagian orang mulai mencari bantuan profesional ketika memasuki usia produktif. Perubahan lingkungan kerja, tanggung jawab yang meningkat, dan kebutuhan mengelola banyak aktivitas dapat membuat kesulitan yang sebelumnya tersamarkan menjadi lebih terasa.
Dalam pembahasan Podcast SuarAkademia, Nabhan juga menyoroti individu yang mampu mempertahankan prestasi atau menjalankan aktivitas sehari-hari meskipun menghadapi hambatan perhatian.
Namun, kemampuan seseorang untuk tetap produktif tidak otomatis menandakan adanya ADHD. Begitu pula sebaliknya, kesulitan mengatur waktu atau menyelesaikan pekerjaan tidak serta-merta menjadi bukti seseorang mengalami gangguan tersebut.
Tes ADHD Gratis di Internet Tidak Bisa Menjadi Penentu Diagnosis
Salah satu persoalan yang muncul seiring meningkatnya popularitas topik ADHD adalah banyaknya tes singkat dan daftar gejala yang beredar di internet.
Sebagian konten menggambarkan perilaku yang umum dialami banyak orang, seperti menunda pekerjaan, melupakan barang, kehilangan fokus saat rapat, atau kesulitan mempertahankan perhatian ketika membaca.
Ketika seseorang menemukan beberapa kesamaan dengan pengalaman pribadinya, ia bisa merasa bahwa seluruh gejala tersebut menggambarkan kondisi dirinya.
Padahal, kesamaan perilaku belum cukup untuk memastikan diagnosis ADHD.
Penelitian Anthony Yeung, Enoch Ng, dan Elia Abi-Jaoude yang diterbitkan dalam The Canadian Journal of Psychiatry pada 2022 mengevaluasi 100 video ADHD populer di TikTok. Hasilnya, 52 persen video dikategorikan menyesatkan, 27 persen berupa pengalaman pribadi, dan hanya 21 persen dinilai bermanfaat berdasarkan penilaian penelitian tersebut.
Temuan ini menunjukkan bahwa popularitas sebuah konten kesehatan mental tidak selalu sejalan dengan ketepatan informasinya.
Cerita pengalaman pribadi tetap dapat membantu seseorang merasa dipahami. Akan tetapi, pengalaman satu individu tidak bisa langsung dijadikan patokan untuk menilai kondisi orang lain.
Risiko lainnya adalah confirmation bias, yaitu kecenderungan mencari atau memperhatikan informasi yang mendukung keyakinan yang sudah terbentuk sebelumnya.
Ketika seseorang telanjur menduga dirinya memiliki ADHD, ia mungkin lebih mudah mengingat konten yang memperkuat dugaan tersebut dan mengabaikan penjelasan alternatif.
Karena itu, tes daring sebaiknya tidak diperlakukan sebagai alat untuk memastikan diagnosis. Jika digunakan sebagai skrining awal, hasilnya tetap perlu dipahami sesuai keterbatasannya dan tidak menggantikan pemeriksaan profesional.
Mengapa Diagnosis ADHD Bisa Baru Diketahui Saat Dewasa?
Fenomena late diagnosis tidak selalu berarti ADHD baru muncul ketika seseorang memasuki usia dewasa.
Menurut NIMH, gejala ADHD harus sudah muncul pada masa kanak-kanak, meskipun pada saat itu belum tentu dikenali oleh keluarga, guru, maupun individu yang mengalaminya. Penilaian pada orang dewasa karena itu mencakup penelusuran riwayat perkembangan dan perilaku sejak masa kecil.
Sebagian orang mungkin tidak menunjukkan perilaku yang dianggap mengganggu di lingkungan sekolah. Ada pula yang mampu mempertahankan prestasi dengan mengembangkan strategi untuk mengatasi kesulitan perhatian dan pengorganisasian.
Ketika memasuki dunia kerja, strategi tersebut bisa menjadi kurang memadai. Pekerjaan yang menuntut pengelolaan banyak tugas, pengambilan keputusan, komunikasi, dan pemenuhan tenggat waktu dapat membuat hambatan yang sebelumnya tidak terlalu terlihat menjadi lebih nyata.
Meski demikian, perubahan produktivitas pada usia dewasa juga dapat dipengaruhi banyak faktor lain. Kurang tidur, stres berkepanjangan, kecemasan, depresi, dan kelelahan kerja atau burnout dapat menimbulkan keluhan yang menyerupai sebagian gejala ADHD.
Oleh sebab itu, diagnosis tidak cukup hanya didasarkan pada kondisi seseorang saat ini. Riwayat gejala, keberlangsungannya, dampaknya terhadap kehidupan, serta kemungkinan penyebab lain perlu diperiksa secara menyeluruh.
Mengenal Masking: Ketika Seseorang Berusaha Menutupi Kesulitannya
Selain late diagnosis, istilah masking juga kerap muncul dalam pembahasan ADHD dan kondisi neurodivergen lainnya.
Secara umum, masking merujuk pada upaya menyembunyikan atau mengompensasi karakteristik tertentu agar seseorang dapat menyesuaikan diri dengan harapan lingkungan sosial.
Dalam konteks ADHD, seseorang mungkin mengembangkan rutinitas yang sangat ketat, berulang kali memeriksa pekerjaannya, atau mengerahkan upaya ekstra untuk menghindari kesalahan dan menjaga penampilannya tetap teratur di hadapan orang lain.
Strategi tersebut dapat membantu seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari. Namun, jika membutuhkan upaya yang besar dan terus-menerus, strategi kompensasi juga dapat menambah beban yang dirasakan individu.
Sebuah tinjauan sistematis mengenai risiko ADHD dan autisme yang tidak terdiagnosis menemukan bahwa sebagian individu dapat menyamarkan kesulitan atau melakukan penyesuaian besar dalam kehidupan sehari-hari sehingga hambatannya lebih sulit dikenali.
Meski demikian, tidak semua orang yang merasa harus menyembunyikan kesulitannya berarti mengalami ADHD. Kebiasaan bekerja berlebihan, perfeksionisme, atau kelelahan sosial juga tidak cukup untuk memastikan adanya kondisi tersebut.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah upaya mempertahankan fungsi sehari-hari menimbulkan tekanan berkepanjangan, mengganggu hubungan, atau membuat aktivitas rutin terasa semakin sulit dijalani.
Diagnosis ADHD Memerlukan Pemeriksaan Menyeluruh
Menentukan ADHD pada orang dewasa bukan perkara mencocokkan beberapa gejala dengan daftar yang ditemukan di internet.
Pedoman dari National Institute of Mental Health menjelaskan bahwa proses penilaian dapat mencakup wawancara klinis, penggunaan skala penilaian gejala, penelusuran riwayat perilaku pada masa kanak-kanak, serta pemeriksaan kondisi kesehatan mental dan fisik yang relevan. Informasi tambahan dari keluarga atau orang yang mengenal individu sejak kecil juga dapat membantu jika diperlukan.
Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah gejala yang dialami sesuai dengan kriteria ADHD atau lebih mungkin berkaitan dengan kondisi lain.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa diagnosis gangguan mental perlu dilakukan oleh tenaga profesional kesehatan jiwa. Informasi mengenai ADHD dapat dibaca melalui laman edukasi Kementerian Kesehatan.
Bagi orang yang merasa kesulitan berkonsentrasi atau mengatur aktivitasnya secara terus-menerus, langkah yang lebih tepat adalah berkonsultasi dengan psikolog klinis atau psikiater yang memiliki kompetensi dalam penilaian ADHD pada orang dewasa.
Konsultasi bukan berarti seseorang pasti akan mendapatkan diagnosis ADHD. Proses tersebut justru membantu mengidentifikasi penyebab kesulitan dan menentukan bentuk dukungan atau penanganan yang sesuai.
Meningkatkan Literasi Kesehatan Mental Tanpa Terjebak Label
Ramainya pembahasan ADHD di media sosial tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang sepenuhnya negatif. Konten yang akurat dapat membantu masyarakat mengenali gejala, memahami pengalaman orang lain, dan mengurangi stigma terhadap gangguan perkembangan saraf.
Namun, kesadaran kesehatan mental perlu disertai kemampuan memilah informasi. Tidak semua pengalaman yang terasa relevan menunjukkan kondisi klinis yang sama, dan tidak setiap kesulitan sehari-hari harus segera diberi label diagnosis.
Bagi masyarakat yang sedang mempertanyakan kemungkinan ADHD, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan: mencatat kesulitan yang dialami beserta dampaknya, memperhatikan kapan masalah tersebut mulai muncul, mencari informasi dari sumber kesehatan tepercaya, dan berkonsultasi apabila hambatan berlangsung terus-menerus atau mengganggu kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, pertanyaan “jangan-jangan aku ADHD?” dapat menjadi awal untuk memahami diri dengan lebih baik. Namun, jawaban yang tepat tidak selalu ditemukan melalui tes singkat atau video berdurasi satu menit.
Kesadaran kesehatan mental seharusnya membuka jalan menuju pemahaman dan pertolongan yang tepat, bukan membuat seseorang terburu-buru menetapkan diagnosis bagi dirinya sendiri.













