Mengembangkan Robot Pascastroke, Dosen ITS Sabet Penghargaan ASEAN 

SUARAMALANG.COM, SURABAYA–Torehan prestasi membanggakan tak henti-hentinya dipersembahkan oleh sivitas akademika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Kali ini, dosen Departemen Teknik Mesin ITS Dr Latifah Nurahmi ST MSc PhD berhasil meraih penghargaan Honorable Mention kategori Mid-Career pada ajang UL Research Institutes’ ASEAN-U.S. Science Prize for Women 2026.

Digelar oleh ASEAN Committee on Science, Technology and Innovation (COSTI), beberapa waktu lalu, kompetisi sains internasional ini mengapresiasi kontribusi ilmuwan perempuan di ASEAN. Bersama US-ASEAN Business Council (USABC), UL Research Institutes (ULRI), dan UL Standards & Engagement (ULSE), perhelatan di tahun 2026 ini mengusung tema AI for Advancing Inclusive and Resilient Healthcare in ASEAN dengan fokus menyoroti penerapan kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) dalam memperkuat sektor kesehatan.

Pada ajang tersebut, Latifah mengawali tahapan seleksi dengan mengirimkan proposal riset serta surat rekomendasi akademik. Setelah dinyatakan lolos ke tingkat nasional, ia mengunggah video pitch yang memaparkan hasil penelitiannya.

Keunggulan inovasi yang digagas berhasil mengantarkannya sebagai salah satu dari empat finalis regional yang diundang untuk mempresentasikan karya secara langsung di Da Nang, Vietnam.

Baca Juga:  Hasil TKA SMA 2025 Diumumkan, Nilai Langsung Terintegrasi ke SNBP 2026

Perancangan Robot Rehabilitasi Medis

Keberhasilan perempuan asal Sidoarjo ini bertumpu pada penelitiannya mengenai perancangan robot rehabilitasi medis. Ia menerangkan bahwa pergeseran pola hidup modern kian meningkatkan prevalensi stroke di kawasan ASEAN.

Memandang realitas tersebut, ia mengembangkan teknologi robotik guna memfasilitasi pemulihan motorik bagi pasien pascastroke. “Sejalan dengan tema yang diusung, inovasi ini hadir sebagai wujud nyata kemandirian teknologi yang accessible,” tuturnya.

Terkait peranti unggulannya, perempuan kelahiran 16 November 1986 ini menyematkan tiga fitur utama, yakni Feel, See, dan Understand.

Ia menjelaskan, Feel berfungsi sebagai sensor pengendali gaya dorong robot agar mampu bergerak secara lembut dan menyesuaikan kenyamanan pasien.

Sementara itu, fitur See memanfaatkan kamera berbasis computer vision untuk merekam sekaligus memantau parameter gerak pasien secara presisi.

Sebagai terobosan mutakhir, Latifah mengintegrasikan AI untuk menyempurnakan fitur understand. Melalui algoritma Random Forest dan Support Vector Machine (SVM), sistem ini mengolah data yang dihimpun dari fitur Feel dan See untuk memprediksi kurva latihan yang optimal bagi pasien.

Baca Juga:  Akademisi UB Buat Inovasi Digital Berbasis Souvenir untuk Perpanjang Ingatan Wisatawan di Destinasi Wisata Malang Raya

“Ketiga fitur beserta integrasi AI inilah yang saya bawa sampai ke babak final,” imbuh Sekretaris Senat Akademik ITS ini.

Dengan demikian, raihan gemilang ini turut mengukuhkan komitmen ITS dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Antara lain meliputi poin ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.

Terobosan ini juga mempertegas kepemimpinan riset kaum perempuan yang turut mendukung poin ke-5 tentang Kesetaraan Gender.

Pewarta: *Riyanto/Ist