Akademisi UB Buat Inovasi Digital Berbasis Souvenir untuk Perpanjang Ingatan Wisatawan di Destinasi Wisata Malang Raya

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Cendera mata wisata kini tidak lagi sekadar menjadi buah tangan yang dibawa pulang wisatawan. Melalui inovasi pengabdian masyarakat, produk souvenir dikembangkan menjadi media promosi digital yang memungkinkan pengalaman wisata tetap terhubung dengan pengunjung meski mereka telah meninggalkan destinasi.

Gagasan tersebut diterapkan tim pengabdian masyarakat melalui konsep Digital-Physical Integration dengan menggabungkan produk ekonomi kreatif dan teknologi kode QR (QR Code). Inovasi ini menyasar sejumlah destinasi dan kegiatan budaya, mulai dari Batu Love Garden (Baloga) di Kota Batu, Desa Wisata Toyomarto di Kabupaten Malang, hingga Festival Kampoeng Boedoyo Ketawanggede di Kota Malang.

Ketua Pelaksana Pengabdian Masyarakat Universitas Brawijaya (UB) Susenohaji mengatakan, pendekatan tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan promosi pariwisata yang tidak berhenti pada saat wisatawan berada di lokasi.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital membuka peluang agar produk ekonomi kreatif lokal tidak hanya memiliki nilai guna dan estetika, tetapi juga mampu menjadi pintu masuk menuju informasi mengenai destinasi.

“Inti bahasan dari pengabdian ini adalah bahwa pengembangan ekonomi kreatif produk wisata yang diintegrasikan dengan teknologi digital sangat penting untuk meningkatkan jangkauan promosi dan branding, sekaligus untuk meningkatkan daya tarik wisata berbasis teknologi digital,” ujar Susenohaji kepada Suaramalang.com, Senin (5/10/2026).

Konsep tersebut diterapkan pada berbagai jenis souvenir. Produk seperti penggaris edukatif, kipas tangan, gantungan kunci kayu, pemantik souvenir, topi heritage hingga kaos bertema alam dan budaya diberi QR Code yang dapat dipindai menggunakan telepon pintar.

Setelah dipindai, wisatawan tidak hanya memperoleh informasi produk, tetapi juga diarahkan menuju konten digital yang mengangkat sejarah, karakteristik flora, situs budaya, cerita rakyat hingga kearifan lokal yang berkaitan dengan destinasi.

Di Baloga, misalnya, gantungan kunci kayu dengan ornamen Bunga Begonia tidak berhenti sebagai cenderamata. QR Code pada produk tersebut dapat menjadi akses menuju informasi mengenai tanaman, termasuk edukasi mengenai karakteristik dan konservasinya.

Sementara di Desa Wisata Toyomarto, media souvenir dikembangkan dengan mengangkat sejumlah potensi kawasan, seperti Candi Sumberawan, Puncak Budug Asu dan kawasan kebun teh. Informasi mengenai sejarah serta potensi alam tersebut kemudian dikemas dalam bentuk yang lebih mudah diakses wisatawan melalui perangkat digital.

Hal serupa diterapkan dalam Festival Kampoeng Boedoyo Ketawanggede. Kipas tangan yang mengangkat karakter pewayangan dan ragam hias budaya lokal tidak hanya berfungsi sebagai suvenir festival. Produk tersebut juga dilengkapi QR Code yang menghubungkan pengunjung dengan informasi mengenai sejarah budaya Ketawanggede, filosofi busana adat hingga informasi pertunjukan seni.

Baca Juga:  FISIP UB Siapkan Rp 1,758 Miliar untuk Ringankan Biaya Pendidikan Mahasiswa

Susenohaji menjelaskan, pola tersebut membuat cenderamata memiliki fungsi yang lebih panjang. Ketika wisatawan membawa pulang souvenir, hubungan mereka dengan destinasi tidak otomatis berakhir.

“Souvenir tidak boleh berhenti pada fungsi estetis atau guna semata. Produk tersebut dapat menjadi media komunikasi pemasaran interaktif yang dibawa wisatawan ke berbagai tempat,” jelas Susenohaji.

Menurut dia, keberadaan QR Code memungkinkan pengalaman wisata terus diakses setelah kunjungan berakhir. Ketika souvenir kembali digunakan di rumah, tempat kerja maupun ruang publik, produk tersebut dapat menjadi pengingat terhadap pengalaman yang pernah diperoleh di destinasi.

Konsep ini sekaligus menciptakan pola promosi dari wisatawan kepada lingkungan sosialnya. Topi heritage, kaos bertema pelestarian fauna maupun souvenir khas destinasi yang digunakan di ruang publik secara tidak langsung dapat memperkenalkan identitas destinasi kepada orang lain.

Dengan demikian, satu produk dapat menjalankan beberapa fungsi sekaligus, yakni sebagai cenderamata, media edukasi, pengingat pengalaman wisata dan sarana promosi digital.

Dalam kajian teoritis tata kelola pariwisata modern, konsep Tourist Engagement menekankan pentingnya membangun keterikatan kognitif, emosional, dan perilaku antara wisatawan dengan destinasi, baik selama kunjungan (during-visit) maupun setelah kunjungan (post-visit).

Kehadiran souvenir berbasis kode QR ini memfasilitasi fenomena Post-Visit Destination Engagement. Berdasarkan teori Extended Service Encounter, pengalaman berwisata tidak berhenti ketika pengunjung keluar dari lokasi destinasi atau arena festival. Ketika wisatawan menggunakan barang-barang harian—seperti pemantik, topi, kipas, atau penggaris—di rumah atau tempat kerja, barang fisik tersebut berfungsi sebagai sensory trigger (pemicu sensorik).

Aktivitas pemindaian kode QR di kemudian hari secara berulang akan memperbarui retensi memori (memory footprint) dan memperpanjang ikatan emosional wisatawan terhadap pengalaman personal mereka di objek wisata.

Lebih jauh, inovasi tersebut juga diarahkan untuk memperkuat posisi pelaku ekonomi kreatif lokal. Integrasi teknologi pada produk souvenir membuka ruang peningkatan nilai tambah bagi UMKM dan pengrajin, tanpa harus meninggalkan karakter budaya maupun identitas lokal yang menjadi daya tarik utama.

“Yang kami dorong adalah bagaimana teknologi digital dapat memperkuat produk lokal, bukan menggantikan identitas lokalnya,” tegas Susenohaji.

Selain aspek ekonomi dan promosi, program pengabdian ini juga memiliki dimensi pelestarian. Narasi mengenai sejarah, budaya, flora, situs dan cerita rakyat yang dikemas secara digital dapat menjadi arsip pengetahuan yang lebih mudah diakses generasi berikutnya.

Baca Juga:  Universitas Brawijaya Menerima 3.900 Siswa dari Jalur SNBP Tahun 2026

Pendekatan tersebut sejalan dengan sejumlah agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Inisiatif pengembangan media promosi terintegrasi ini secara langsung mengakselerasi pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya pada empat pilar utama:

1. SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth) — Meningkatkan nilai tambah ekonomi produk UMKM pengrajin souvenir lokal melalui integrasi teknologi digital, yang membuka peluang pasar baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif inklusif di kawasan perdesaan.

2. SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur (Industry, Innovation, and Infrastructure) — Mendorong inovasi teknologi terapan berbasis kode QR dalam industri pariwisata dan rantai pasok ekonomi kreatif berbasis komunitas.

3. SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities) — Memperkuat upaya perlindungan, pelestarian, dan pemajuan warisan budaya serta alam (cultural and natural heritage) di Desa Wisata Toyomarto dan Festival Ketawanggede secara digital agar tahan terhadap perubahan zaman.

4. SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production) — Mengubah cenderamata sekali pakai menjadi produk fungsional ramah lingkungan yang bernilai edukatif jangka panjang dan dapat digunakan berulang kali (reusable merchandise).

Melalui model tersebut, tim pengabdian masyarakat melihat souvenir bukan lagi sebagai produk yang masa manfaatnya berakhir setelah dibeli wisatawan. Sebaliknya, cendera mata dapat menjadi “jembatan” yang menghubungkan pengalaman fisik di destinasi dengan ekosistem digital setelah wisatawan pulang.

Inovasi inilah yang diharapkan mampu membuat promosi pariwisata semakin berkelanjutan. Destinasi tidak hanya dikenang melalui foto dan cerita, tetapi juga melalui benda yang terus digunakan sekaligus menyediakan akses menuju cerita digital di baliknya.