Ucapan Idul Adha - Pemkab Malang

Munas dan Konbes NU: Harus Diniatkan Mencari Kebenaran, Menjaga Persaudaraan

Iklan

Oleh: Dr. H. Ahmad Fahrur Rozi

Hari ini, 20 Juni 2026, keluarga besar pengurus Nahdlatul Ulama berkumpul di Kediri dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU. Forum ini bukan sekadar agenda organisasi, melainkan ruang musyawarah para ulama untuk membahas berbagai persoalan keagamaan, kebangsaan, dan keumatan yang terus berkembang di tengah masyarakat.

Iklan

Perbedaan Pendapat Diniatkan Sebagai Ilmu

Dalam forum seperti ini, perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar. Bahkan, perbedaan merupakan bagian dari tradisi keilmuan Islam yang telah diwariskan sejak masa para sahabat Nabi hingga para ulama dan imam mazhab.

Rasulullah SAW pernah memberikan teladan yang sangat penting ketika para sahabat berbeda dalam memahami perintah beliau mengenai pelaksanaan shalat Ashar di Bani Quraizhah. Sebagian memahami perintah tersebut secara tekstual, sementara sebagian lainnya memahaminya secara kontekstual. Ketika persoalan itu disampaikan kepada Rasulullah SAW, beliau tidak mencela salah satu kelompok. Perbedaan ijtihad yang lahir dari niat baik dan dasar ilmu dihormati sebagai bagian dari proses mencari kebenaran.

Tradisi itulah yang selama ini hidup di lingkungan pesantren dan Nahdlatul Ulama. Para ulama kita berbeda pendapat dalam banyak persoalan fiqih, tetapi tidak pernah kehilangan rasa hormat satu sama lain.

Mereka memahami bahwa tujuan musyawarah bukan untuk mengalahkan orang lain, melainkan untuk menemukan pendapat yang paling membawa kemaslahatan.

Karena itu, saya berharap Munas dan Konbes NU di Kediri ini benar-benar menjadi forum ilmiah yang bermartabat. Setiap peserta tentu memiliki pandangan, argumentasi, dan dasar pemikiran masing-masing, termasuk dalam pembahasan sejumlah persoalan rumusan perkum yang selama ini memunculkan perbedaan pendapat di kalangan pemimpin PBNU maupun para ulama.

Harus Tunduk Kepada Kebenaran

Perbedaan tersebut tidak perlu ditakuti. Yang perlu dijaga adalah cara kita menyikapinya. Jangan sampai perbedaan pandangan berubah menjadi perbedaan hati. Jangan sampai perbedaan argumentasi berkembang menjadi saling merendahkan atau saling menegasikan.

Dalam musyawarah, tidak mungkin semua pendapat akan diterima. Tidak semua usulan akan menjadi keputusan. Namun seluruh peserta harus memiliki kebesaran jiwa untuk menerima hasil musyawarah yang ditempuh melalui mekanisme yang sah dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Kita semua harus tunduk kepada kebenaran, bukan kepada ego pribadi, kelompok, atau kepentingan sesaat. Sebab yang sedang kita cari bukan kemenangan pendapat, melainkan kebenaran yang paling mendekati kehendak syariat dan membawa kemaslahatan bagi umat.

Perbedaan Pendapat Dikelola dengan Ilmu

Para imam mazhab telah memberikan teladan yang luar biasa. Imam Malik mengatakan bahwa setiap orang bisa diterima dan bisa ditolak pendapatnya, kecuali Rasulullah SAW. Imam Syafi’i bahkan mengajarkan bahwa apabila ditemukan dalil yang lebih kuat, maka pendapat beliau sendiri harus ditinggalkan. Sikap rendah hati seperti inilah yang menjadi fondasi peradaban ilmu dalam Islam.

Munas dan Konbes NU harus menjadi contoh bagi masyarakat bahwa perbedaan dapat dikelola dengan ilmu, adab, dan kedewasaan. Bahwa orang-orang yang berbeda pandangan tetap dapat duduk bersama, bermusyawarah bersama, dan pada akhirnya menerima keputusan bersama demi kepentingan yang lebih besar.

NU Menempatkan Persaudaraan di Atas Ego Pribadi

NU telah melewati perjalanan panjang karena para ulama pendahulu selalu menempatkan persaudaraan di atas ego pribadi. Mereka boleh berbeda dalam banyak hal, tetapi tetap bersatu dalam tujuan. Warisan inilah yang harus kita jaga bersama.

Mari kita hadir dalam Munas dan Konbes ini dengan niat yang tulus: mencari kebenaran, bukan mencari kemenangan. Menjaga marwah ulama, menjaga persatuan jam’iyah, dan menjaga amanat para muassis Nahdlatul Ulama.

Sebab pada akhirnya, yang akan menguatkan NU bukan keseragaman pendapat, melainkan kedewasaan dalam mengelola perbedaan.

Berbeda pendapat adalah keniscayaan. Menjaga persaudaraan adalah kewajiban. Dan tunduk kepada kebenaran adalah kehormatan seorang ulama.

Penulis: *Ketua PBNU Pusat Bidang Keagamaan dan Ketua MUI Bidang Pesantren

Iklan
Iklan
Iklan