SUARAMALANG.COM – Setiap peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni, nama Soekarno hampir selalu menjadi sosok yang paling sering disebut. Presiden pertama Indonesia itu dianggap sebagai tokoh paling berpengaruh dalam proses lahirnya dasar negara yang hingga kini menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Namun, benarkah Pancasila merupakan hasil pemikiran satu orang? Sejarah menunjukkan bahwa proses lahirnya Pancasila jauh lebih kompleks. Di balik rumusan yang kini dikenal masyarakat, terdapat perdebatan panjang, pertukaran gagasan, hingga kompromi politik yang melibatkan sejumlah tokoh bangsa menjelang kemerdekaan Indonesia.
Meski demikian, banyak sejarawan sepakat bahwa Soekarno memiliki peran sentral karena berhasil merangkum berbagai gagasan yang berkembang saat itu menjadi sebuah konsep yang utuh dan dapat diterima berbagai kelompok.
Pidato 1 Juni 1945 yang Mengubah Sejarah
Peran penting Soekarno bermula saat sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945. Dalam pidato yang kemudian dikenal sebagai “Lahirnya Pancasila”, Soekarno menyampaikan lima prinsip dasar yang menurutnya dapat menjadi landasan negara Indonesia merdeka.
Kelima prinsip tersebut adalah kebangsaan Indonesia, internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan.
Dalam pidato itulah Soekarno memperkenalkan istilah “Pancasila”. Kata tersebut berasal dari bahasa Sanskerta, yakni panca yang berarti lima dan sila yang berarti prinsip atau dasar.
Sejarawan Indonesia banyak menilai bahwa kontribusi terbesar Soekarno bukan semata menciptakan lima sila tersebut, melainkan kemampuannya menyatukan beragam pemikiran yang berkembang di kalangan nasionalis, kelompok Islam, maupun golongan kebangsaan lainnya menjadi satu konsep bersama.
Bukan Hanya Soekarno
Meski memiliki posisi sentral, sejarah mencatat bahwa gagasan dasar negara juga datang dari tokoh lain.
Mohammad Yamin, misalnya, menyampaikan usulan mengenai dasar negara pada sidang BPUPKI tanggal 29 Mei 1945. Sementara Soepomo pada 31 Mei 1945 mengemukakan konsep negara integralistik yang menekankan persatuan bangsa dan kepentingan bersama di atas kepentingan golongan.
Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia yang disunting sejarawan Sartono Kartodirdjo, dijelaskan bahwa sidang BPUPKI menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan mengenai bentuk dan dasar negara yang akan dibangun setelah Indonesia merdeka.
Artinya, lahirnya Pancasila bukan hasil kerja individu, melainkan hasil dialog intelektual para pendiri bangsa yang berlangsung dalam situasi politik yang sangat dinamis.
Peran Krusial Panitia Sembilan
Setelah sidang BPUPKI berakhir, dibentuk Panitia Sembilan yang bertugas merumuskan naskah pembukaan konstitusi.
Panitia ini beranggotakan Soekarno, Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, Achmad Soebardjo, A.A. Maramis, Abdul Kahar Muzakir, Abikoesno Tjokrosoejoso, Agus Salim, dan Wahid Hasyim.
Dari forum inilah lahir Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945. Dokumen tersebut menjadi cikal bakal Pembukaan UUD 1945 yang berlaku hingga saat ini.
Menurut banyak kajian sejarah, kemampuan Soekarno memimpin dan menjembatani berbagai kepentingan dalam Panitia Sembilan menjadi salah satu faktor penting yang membuat perumusan dasar negara dapat diselesaikan.
Analisis Sejarah: Mengapa Soekarno Menjadi Tokoh Utama?
Dalam berbagai literatur sejarah, Soekarno sering ditempatkan sebagai tokoh utama karena tiga alasan.
Pertama, ia menjadi figur yang memperkenalkan istilah Pancasila kepada publik melalui forum resmi negara.
Kedua, ia mampu mengintegrasikan berbagai gagasan yang sebelumnya berkembang menjadi konsep yang sistematis dan mudah dipahami.
Ketiga, Soekarno berperan sebagai pemimpin politik yang dapat mempertemukan kelompok nasionalis dan kelompok Islam dalam satu titik temu.
Sejarawan Anhar Gonggong pernah menjelaskan bahwa kekuatan Soekarno terletak pada kemampuannya membaca keragaman masyarakat Indonesia. Ia memahami bahwa negara yang akan lahir tidak mungkin dibangun berdasarkan kepentingan satu kelompok saja.
Karena itu, konsep Pancasila dirancang sebagai jalan tengah yang mampu menaungi berbagai identitas, agama, suku, dan budaya yang ada di Nusantara.
Lebih dari delapan dekade setelah pidato 1 Juni 1945, perdebatan mengenai siapa perumus utama Pancasila mungkin masih akan terus muncul. Namun sebagian besar kajian sejarah menempatkan Soekarno sebagai tokoh paling berpengaruh dalam proses kelahirannya.
Meski demikian, Pancasila pada hakikatnya merupakan hasil gotong royong pemikiran para pendiri bangsa. Soekarno menjadi figur sentral yang merangkumnya, sementara tokoh-tokoh lain memberikan kontribusi penting dalam penyempurnaan rumusan yang akhirnya disahkan pada 18 Agustus 1945.
Karena itulah, Hari Lahir Pancasila bukan hanya menjadi momentum mengenang sosok Soekarno, tetapi juga menghargai semangat musyawarah dan kompromi para pendiri bangsa dalam merumuskan dasar negara Indonesia.






















