SUARAMALANG.COM, Nasional – Kasus dugaan penyelundupan ratusan ton mineral yang mengandung unsur radioaktif dan Logam Tanah Jarang (LTJ) terus berkembang. Aparat gabungan kini tidak hanya fokus pada barang bukti yang diamankan, tetapi juga memburu pihak yang diduga menjadi aktor utama di balik pengiriman tersebut.
Pendalaman dilakukan untuk menelusuri asal material tambang, lokasi penambangan, perusahaan eksportir hingga pemilik sebenarnya dari muatan yang ditemukan di perairan Kepulauan Riau. Langkah itu dinilai menjadi kunci untuk mengungkap keseluruhan jaringan yang terlibat.
Perhatian aparat menguat setelah hasil uji laboratorium menemukan sejumlah unsur strategis dalam sampel mineral ilminite yang diamankan dari kapal TB Capricorn 106/TK Capricorn 92.210. Beberapa di antaranya adalah Zirconium Oxide, Thorium Oxide, Neodymium Oxide, Triuranium Oktasida, dan Cerium Oksida.
Temuan tersebut bukan perkara biasa. Sebab, sebagian unsur itu masuk kategori mineral strategis yang banyak digunakan dalam industri teknologi tinggi, energi, hingga manufaktur modern.
Komandan Kodaeral IV Laksda TNI Berkat Widjanarko mengatakan penyelidikan masih berlangsung secara menyeluruh. Seluruh dokumen dan pihak yang terkait dalam proses pengiriman saat ini sedang diperiksa.
“Sekarang masih dilakukan pendalaman secara menyeluruh, mulai dari asal barang, dokumen pengiriman hingga pihak-pihak yang terkait dalam proses ekspor tersebut,” ujar Berkat.
Hingga kini, aparat telah membuka 15 dari 25 kontainer yang diamankan di Dermaga Mako Kodaeral IV Batam. Pemeriksaan dilakukan dengan mencocokkan isi muatan dengan dokumen ekspor yang menyertainya.
Langkah tersebut menjadi penting karena penyidik perlu memastikan jenis material yang sebenarnya dikirim. Hasil laboratorium juga digunakan untuk menguji kesesuaian antara dokumen dan kandungan mineral di lapangan.
Dugaan sementara mengarah pada kemungkinan adanya aktivitas pertambangan ilegal atau pengelolaan mineral tanpa izin resmi. Aparat juga menelusuri kemungkinan adanya jaringan yang memanfaatkan jalur laut Kepulauan Riau sebagai pintu keluar mineral bernilai tinggi menuju pasar internasional.
Jika dugaan tersebut terbukti, kasus ini tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran administrasi ekspor. Perkara tersebut dapat menyentuh aspek pengelolaan sumber daya alam strategis yang selama ini berada dalam pengawasan ketat pemerintah.
Dalam beberapa tahun terakhir, Logam Tanah Jarang menjadi komoditas yang diperebutkan banyak negara. Mineral ini merupakan bahan baku penting untuk kendaraan listrik, baterai, perangkat elektronik, hingga teknologi pertahanan.
Karena nilai ekonominya sangat tinggi, perdagangan LTJ sering menjadi perhatian dunia. Negara yang memiliki cadangan besar dianggap memiliki posisi strategis dalam rantai pasok industri masa depan.
Selain menelusuri sumber tambang, penyidik kini juga memburu pihak eksportir dan pemilik utama muatan. Identitas mereka masih dirahasiakan karena proses penyelidikan terus berjalan.
Pangkoarmada RI Laksdya TNI Denih Hendrata menegaskan bahwa pengawasan wilayah laut Indonesia akan terus diperkuat. Langkah itu dilakukan untuk mencegah praktik penyelundupan sumber daya alam yang berpotensi merugikan negara.
“Keberhasilan pengungkapan ini menjadi bukti kesiapsiagaan jajaran TNI AL dalam menjaga wilayah laut Indonesia serta mengamankan kekayaan alam nasional dari praktik ilegal,” kata Denih.
Pemeriksaan terhadap seluruh kontainer ditargetkan rampung dalam waktu dekat. Hasilnya diharapkan dapat mengungkap asal-usul mineral, jalur distribusi, serta pihak yang harus bertanggung jawab dalam kasus yang diperkirakan bernilai triliunan rupiah tersebut.






















