7 Juta Penduduk Indonesia Disebut Idap Fibrilasi Atrium, Kenali Gejalanya

Pemeriksaan denyut nadi dan kesehatan jantung dapat membantu mengenali perubahan yang perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan medis. (Foto: Infografis/AI)

SUARAMALANG.COM – Gangguan irama jantung dapat terjadi tanpa disadari oleh penderitanya. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah fibrilasi atrium atau atrial fibrillation, yaitu gangguan irama jantung yang membuat denyut jantung menjadi tidak teratur dan terkadang terlalu cepat.

Kondisi ini penting dikenali karena sebagian penderita tidak merasakan gejala yang jelas. Akibatnya, gangguan irama jantung dapat luput dari perhatian hingga ditemukan saat pemeriksaan kesehatan atau ketika muncul komplikasi.

Sebuah topik kesehatan yang diangkat Kompas.com menyoroti angka sekitar tujuh juta penduduk Indonesia yang disebut mengalami fibrilasi atrium. Angka tersebut perlu ditelusuri kembali melalui sumber dan data epidemiologi yang menjadi rujukan sebelum digunakan sebagai angka pasti dalam pemberitaan.

Mengenal Fibrilasi Atrium dan Gejalanya

Fibrilasi atrium merupakan salah satu jenis aritmia, yakni kondisi ketika irama jantung mengalami gangguan. Pada fibrilasi atrium, aktivitas listrik di serambi jantung tidak terkoordinasi dengan baik sehingga denyut jantung menjadi tidak teratur.

Gejala yang dapat muncul berbeda pada setiap orang. Sebagian penderita merasakan jantung berdebar, sementara lainnya mengalami keluhan yang lebih samar.

Berikut sejumlah gejala yang perlu diperhatikan:

  • Jantung berdebar: denyut terasa cepat, tidak teratur, atau seperti bergetar.
  • Mudah lelah: tubuh terasa lemas meskipun aktivitas yang dilakukan tidak terlalu berat.
  • Sesak napas: napas terasa pendek saat beraktivitas atau dalam kondisi tertentu.
  • Pusing: kepala terasa ringan atau tubuh seperti kehilangan keseimbangan.
  • Penurunan kemampuan beraktivitas: aktivitas sehari-hari terasa lebih melelahkan dibandingkan biasanya.
Baca Juga:  13 SPPG di Malang Belum Kantongi SLHS, Apa Itu Sertifikat Laik Higiene Sanitasi dan Cara Urusnya

Namun, tidak semua penderita mengalami gejala tersebut. Seseorang juga dapat mengalami fibrilasi atrium tanpa menyadari adanya perubahan irama jantung.

Karena itu, tidak adanya keluhan bukan berarti seseorang pasti terbebas dari gangguan irama jantung.

Mengapa Fibrilasi Atrium Perlu Diwaspadai?

Fibrilasi atrium bukan sekadar persoalan detak jantung yang tidak teratur. Kondisi ini dapat menyebabkan darah mengalir kurang optimal dan meningkatkan risiko terbentuknya gumpalan darah di jantung.

Jika gumpalan darah terbawa aliran darah menuju otak dan menyumbat pembuluh darah, risiko terjadinya stroke dapat meningkat. Risiko pada setiap orang berbeda, bergantung pada sejumlah faktor kesehatan dan kondisi yang menyertai.

Oleh sebab itu, gangguan irama jantung perlu diperiksa dan ditangani sesuai kondisi pasien. Pemeriksaan dapat melibatkan elektrokardiogram atau EKG untuk merekam aktivitas listrik jantung. Dokter juga dapat merekomendasikan pemeriksaan tambahan jika diperlukan.

Informasi mengenai penyakit kardiovaskular dan faktor risikonya dapat dibaca melalui situs resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Skrining Dini, Jangan Hanya Mengandalkan Perasaan

Salah satu langkah sederhana untuk meningkatkan kewaspadaan adalah memperhatikan denyut nadi secara mandiri. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan merasakan denyut pada pergelangan tangan ketika tubuh sedang beristirahat.

Perhatikan apakah denyut terasa teratur atau justru tidak beraturan. Jika perubahan tersebut berulang, terutama disertai jantung berdebar, pusing, atau mudah lelah, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Baca Juga:  Bukan Sekadar “Masuk Angin”, Kapan Flu di Malang Perlu Diperiksa Dokter?

Meski demikian, pemeriksaan nadi mandiri maupun penggunaan jam tangan pintar tidak dapat memastikan diagnosis fibrilasi atrium. Denyut yang terasa normal juga tidak sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan adanya gangguan irama jantung. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan kondisi tersebut.

Masyarakat sebaiknya tidak menunda pertolongan apabila mengalami nyeri dada, sesak napas berat, pingsan, atau gejala yang mengarah pada stroke, seperti wajah mendadak menurun sebelah, kelemahan satu sisi tubuh, dan kesulitan berbicara. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan darurat.

Menjaga kesehatan jantung juga perlu dilakukan melalui kebiasaan sehari-hari, seperti beraktivitas fisik secara teratur, mengelola tekanan darah, menghindari rokok, membatasi konsumsi alkohol, serta mengendalikan penyakit yang dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.

Mengenali perubahan denyut jantung dan melakukan pemeriksaan ketika diperlukan merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan. Semakin cepat gangguan teridentifikasi, semakin cepat pula pasien dapat memperoleh penanganan yang sesuai.