Bukan Sekadar “Masuk Angin”, Kapan Flu di Malang Perlu Diperiksa Dokter?

Ilustrasi warga mengenakan masker dan menjaga kesehatan saat aktivitas di tengah perubahan cuaca Kota Malang. (Foto: Ilustrasi/AI)

SUARAMALANG.COM, KOTA MALANG – Suhu dingin dan perubahan cuaca membuat keluhan seperti pilek, batuk, badan meriang hingga demam terasa akrab bagi warga Malang. Namun, kebiasaan menyebut semua keluhan tersebut sebagai “masuk angin biasa” bisa membuat gejala influenza yang lebih berat luput dari perhatian.

Istilah “superflu” belakangan ikut ramai digunakan untuk menggambarkan influenza yang beredar. Padahal, istilah tersebut bukan nama resmi dalam nomenklatur WHO maupun Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Kemenkes mencatat aktivitas influenza di Indonesia memang meningkat, tetapi masih berada dalam rentang kewaspadaan dan mengikuti pola musiman.

Flu Biasa dan Influenza Tidak Selalu Sama

Influenza cenderung muncul lebih mendadak dibandingkan selesma atau flu biasa. Gejalanya dapat berupa demam, batuk, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, sakit tenggorokan, hidung berair serta rasa lemas yang cukup berat.

Sebaliknya, flu biasa umumnya menimbulkan gejala yang lebih ringan seperti hidung tersumbat dan bersin. Karena gejala berbagai infeksi saluran pernapasan dapat terlihat mirip, diagnosis influenza tidak cukup hanya berdasarkan istilah “flu” yang digunakan sehari-hari.

Kemenkes mencatat Influenza A(H1N1)pdm09 menjadi subtipe yang dominan dalam pemantauan pada periode peningkatan kasus terbaru. Pada surveilans minggu ke-38, 148 dari 265 spesimen yang diperiksa positif influenza. Angka tersebut merupakan positivity rate dari spesimen yang diperiksa, bukan berarti 56 persen penduduk Indonesia terkena influenza.

Artinya, warga tidak perlu panik setiap kali mengalami pilek atau demam. Namun, gejala yang lebih berat tetap perlu mendapat perhatian.

Wedang Jahe Boleh, Tapi Jangan Jadi Pengganti Pengobatan

Bagi warga Malang, menikmati wedang jahe atau minuman hangat di warung bisa menjadi bagian dari kebiasaan ketika badan terasa kurang enak. Minuman hangat dapat membantu memberikan rasa nyaman, tetapi tidak dapat dijadikan pengganti pemeriksaan atau pengobatan ketika kondisi memburuk.

Baca Juga:  ISPA Masih Mengintai Saat Pancaroba, Kenali Tanda yang Berbahaya

Istirahat yang cukup, minum air putih dan menjaga kondisi tubuh tetap menjadi bagian penting saat mengalami gejala influenza. Orang yang sedang sakit juga sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah agar tidak menularkan infeksi kepada orang lain.

Kebiasaan menggunakan masker ketika sakit juga penting, terutama ketika harus berada di ruang publik, kendaraan umum, kampus, tempat kerja atau lokasi yang ramai.

Di tengah aktivitas warga yang padat, keputusan untuk tetap masuk kuliah atau bekerja saat demam dan badan terasa sangat lemas bukan sekadar persoalan produktivitas. Istirahat juga menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko penularan kepada orang lain.

Kapan Warga Malang Perlu Cari Dokter?

Keluhan ringan dapat dipantau sambil beristirahat di rumah. Namun, warga perlu lebih waspada ketika gejala memburuk atau tidak kunjung membaik.

Kemenkes menganjurkan masyarakat segera mengakses fasilitas pelayanan kesehatan apabila gejala memburuk atau tidak membaik dalam waktu lebih dari tiga hari. Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi juga perlu mendapat perhatian lebih, termasuk lansia, ibu hamil, anak kecil serta orang dengan penyakit kronis tertentu.

Karena itu, jangan menjadikan istilah “masuk angin” sebagai alasan untuk mengabaikan kondisi tubuh. Demam yang menetap, lemas berat atau gejala pernapasan yang semakin mengganggu layak menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Hal lain yang perlu dihindari adalah kebiasaan membeli dan mengonsumsi obat keras tanpa resep. Pengobatan influenza sebaiknya mengikuti kondisi pasien dan anjuran tenaga kesehatan, bukan sekadar mengikuti rekomendasi dari media sosial atau teman.

Baca Juga:  BGN Ultimatum Dapur MBG: 40 Dapur Ditutup, Ribuan Anak Jadi Korban Keracunan

Untuk mencegah penularan, kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker ketika sakit serta menjaga jarak dari orang lain saat mengalami gejala tetap penting.

Pada akhirnya, menghadapi musim dingin dan pancaroba di Malang bukan berarti setiap batuk atau pilek harus dianggap sebagai penyakit berat. Namun, warga juga tidak perlu terlalu meremehkan gejala dengan menganggap semuanya hanya “masuk angin”.

Kuncinya adalah mengenali perubahan kondisi tubuh. Ketika gejala masih ringan, beri tubuh waktu untuk beristirahat. Ketika kondisi memburuk atau tidak kunjung membaik, saatnya berhenti menebak-nebak dan mencari bantuan tenaga kesehatan.

Informasi mengenai kesehatan dapat membantu masyarakat memahami gejala penyakit, tetapi diagnosis dan keputusan pengobatan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang.

Influenza sendiri merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza. Karena gejalanya dapat menyerupai penyakit pernapasan lain, pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan bila kondisi tidak membaik atau muncul tanda yang mengkhawatirkan. Untuk informasi dasar mengenai influenza, pembaca juga dapat melihat penjelasan influenza.