SUARAMALANG.COM, Malang – Langit Malang Raya menyimpan ancaman tak kasat mata. Sinyal kemarau panjang mulai terasa seiring kemunculan El Nino.
BMKG kini meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi krisis iklim tersebut.
Fenomena El Nino diprediksi muncul pertengahan 2026. Meski masih lemah, dampaknya bisa meluas dan berbahaya.
Perubahan kecil pada intensitas dapat memicu gangguan besar pada pola hujan.
Ancaman yang Bisa Membesar
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno, menegaskan situasi masih dinamis.
“BMKG merilis akan ada El Nino pertengahan tahun dengan intensitas lemah,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut belum final. Peningkatan intensitas masih sangat mungkin terjadi.
“Nanti akan diupdate apakah El Nino lemah ini meningkat menjadi moderat atau kuat,” katanya.
Jika skenario terburuk terjadi, Malang Raya menghadapi kemarau lebih panjang. Dampaknya bisa menjalar ke berbagai sektor.
Awal musim hujan bahkan berpotensi mundur hingga tahun berikutnya. “Kalau meningkat menjadi moderat atau kuat, musim hujan bisa mundur. Bahkan ada daerah masuk musim hujan di 2027,” jelasnya.
Air Menyusut, Risiko Membesar
BMKG mulai memetakan risiko kekeringan sejak dini. Koordinasi lintas daerah terus diperkuat untuk menghadapi ancaman ini.
Fokus utama tertuju pada ketersediaan air dan potensi kebakaran hutan. Pemerintah menyiapkan langkah darurat, termasuk pembangunan sumur bor.
Skenario water bombing juga disiapkan jika karhutla terjadi. Langkah ini dirancang untuk menekan dampak ekstrem sejak awal.
Pemantauan ketat juga dilakukan di bendungan strategis. Salah satunya Bendungan Sutami atau Karangkates yang menjadi penopang utama air.
Perubahan tinggi muka air menjadi indikator penting dalam pengambilan keputusan. “Kalau tinggi muka air tidak sesuai pola, penyemaian awan bisa dilakukan,” ungkap Anung. Strategi ini bertujuan memaksimalkan potensi hujan buatan.
Sektor Pertanian dalam Tekanan
Sektor pertanian menjadi pihak paling rentan terdampak. Pola tanam yang sudah disusun kini menghadapi ketidakpastian.
Perubahan iklim dapat memaksa petani mengubah strategi secara cepat. BMKG memastikan kalender tanam telah disesuaikan dengan proyeksi iklim. Namun, skenario itu tetap fleksibel menghadapi anomali.
Penyesuaian akan dilakukan jika kondisi memburuk. “Kalau terjadi penyimpangan ekstrem, alokasi air berubah. Rencana tanam harus disesuaikan,” tegasnya.
Peralihan dari padi ke palawija menjadi opsi realistis.
Mitigasi terus diperkuat agar dampak tidak meluas. Pemantauan intensif menjadi kunci menghadapi ketidakpastian ini.
Malang Raya kini bersiap menghadapi kemarau yang bisa datang lebih ganas dari perkiraan.























