SUARAMALANG.COM, Nasional – Rupiah memulai pekan dengan tekanan kuat. Senin (13/4), mata uang ini dibuka di Rp17.128 per dolar AS.
Posisi tersebut melemah 24 poin dibanding perdagangan sebelumnya. Pelaku pasar merespons ketidakpastian global yang terus meningkat.
Dekati Rekor Terendah Baru
Level ini mendekati titik terlemah sepanjang sejarah. Pekan lalu, rupiah sempat menyentuh Rp17.104 per dolar AS.
Pergerakan tersebut menunjukkan tren pelemahan belum mereda. Sentimen eksternal masih menguasai arah pasar.
Kurs Acuan dan Pergerakan Regional
Kurs referensi Bank Indonesia melalui Jisdor menempatkan rupiah di Rp17.112 per dolar AS.
Di Asia, pergerakan mata uang cenderung bervariasi. Yen Jepang dan baht Thailand melemah, sementara yuan China menguat tipis.
Peso Filipina juga menguat. Namun, won Korea Selatan dan dolar Singapura justru tertekan.
Mata Uang Global Menguat
Mayoritas mata uang negara maju mencatat penguatan. Euro, poundsterling Inggris, dan franc Swiss bergerak naik.
Dolar Australia ikut menguat tipis. Sementara itu, dolar Kanada mengalami pelemahan terbatas.
Analis Soroti Level Kritis Rupiah
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai posisi saat ini masih fluktuatif.
“Level terendah penutupan sekitar Rp17.090. Intraday bisa menyentuh Rp17.130 per dolar AS,” ujarnya mengutip CNN.
Ia menegaskan pasar masih sensitif terhadap sentimen global. Pergerakan cepat bisa terjadi dalam waktu singkat.
Geopolitik Jadi Pemicu Utama
Lukman melihat tekanan berasal dari konflik Timur Tengah. Situasi memanas dan meningkatkan kekhawatiran investor global.
“Rupiah diperkirakan melemah di tengah ketidakpastian geopolitik,” katanya.
Ia juga menyinggung ancaman Donald Trump terkait Selat Hormuz. Pernyataan itu menambah tekanan pasar.
Proyeksi Pergerakan Hari Ini
Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.050 hingga Rp17.200. Rentang ini mencerminkan volatilitas tinggi.
Pelaku pasar kini menunggu perkembangan global terbaru. Arah rupiah sangat bergantung pada sentimen eksternal.























