SUARAMALANG.COM, Nasional – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperingatkan musim kemarau 2026 berpotensi lebih panjang. Kondisi ini melampaui rata-rata klimatologis normal.
Situasi tersebut membuat sejumlah sektor vital harus bersiap lebih awal. Ketersediaan air menjadi salah satu fokus utama.
Fase Netral, Tapi Risiko Tetap Mengintai
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Teuku Faisal Fathani, menyebut kondisi iklim global masih netral.
Ia menjelaskan indeks ENSO saat ini berada di angka sekitar +0,28. Meski begitu, potensi perubahan tetap terbuka.
El Nino Berpotensi Muncul di Semester Kedua
BMKG memproyeksikan fase iklim dapat bergeser pada paruh kedua 2026. Peluang kemunculan El Nino mencapai 50 hingga 80 persen.
Jika terjadi, dampaknya bisa memperparah kondisi kemarau. Intensitas kekeringan diprediksi meningkat signifikan.
Kemarau dan El Nino Tidak Selalu Bersamaan
Faisal menegaskan kemarau dan El Nino merupakan dua fenomena berbeda. Keduanya tidak selalu muncul dalam waktu yang sama.
“Jika El Nino terjadi saat kemarau, maka kondisi akan jauh lebih kering,” ujarnya dalam rapat di Jakarta.
Langkah Antisipasi Harus Dipercepat
BMKG mendorong langkah mitigasi berbasis data segera dilakukan. Wilayah dengan potensi curah hujan rendah harus menjadi prioritas.
Penguatan manajemen waduk dan sistem irigasi dinilai krusial. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan pasokan air.
Modifikasi Cuaca hingga Hemat Air
Selain itu, BMKG merekomendasikan operasi modifikasi cuaca. Upaya ini bertujuan menjaga ketersediaan air di daerah rawan.
Kampanye efisiensi penggunaan air dan energi juga harus digencarkan. Partisipasi masyarakat menjadi faktor penting.
Ancaman Ganda: Kekeringan dan Bencana Lingkungan
Faisal mengingatkan pengelolaan air harus seimbang. Air berlebih bisa memicu banjir dan longsor.
Sebaliknya, kekurangan air dapat menyebabkan kekeringan. Risiko kebakaran hutan dan lahan juga meningkat.
Pemerintah Soroti Dampak Lintas Sektor
Pelaksana harian Dirjen SDA Kementerian PU, Adenan Rasyid, menilai kemarau panjang sebagai tantangan serius.
Ia menegaskan dampaknya akan terasa di berbagai sektor. Mulai dari pertanian hingga lingkungan.
Debit Air Turun, Risiko Karhutla Naik
Penurunan debit sungai dan volume waduk menjadi ancaman nyata. Gangguan pola tanam juga berpotensi terjadi.
Selain itu, risiko kebakaran hutan dan lahan diprediksi meningkat. Kondisi ini perlu diantisipasi bersama.
Kunci Utama: Respons Cepat dan Terkoordinasi
Adenan menegaskan kemarau tidak bisa dihindari. Namun dampaknya masih bisa ditekan.
“Kecepatan antisipasi dan koordinasi menjadi kunci utama,” ujarnya.
Ajakan Bersatu Hadapi Kemarau 2026
BMKG mengajak seluruh pihak bergerak bersama. Antisipasi harus dilakukan sejak dini.
“Semoga kita dapat bersatu menghadapi kemarau yang lebih panjang ini,” pungkas Faisal.























