Ucapan Idul Adha - Pemkab Malang
Berita  

Bahaya Pendakian Tektok: Gunung Tak Pernah Jadi Tempat untuk Coba-Coba

Tektok Makin Populer, Risiko Tetap Sama

Iklan

SUARAMALANG.COM – Pendakian tektok atau naik-turun gunung dalam satu hari belakangan semakin populer. Konsep ini dianggap lebih praktis karena pendaki tidak perlu membawa perlengkapan berkemah dan dapat kembali ke rumah pada hari yang sama.

Popularitas media sosial turut mendorong tren tersebut. Banyak gunung kini terlihat mudah dijangkau melalui unggahan foto dan video berdurasi singkat.

Iklan

Padahal, tektok tidak otomatis membuat pendakian menjadi lebih aman. Dalam banyak kasus, justru metode ini menuntut kondisi fisik yang lebih prima karena seluruh tanjakan dan turunan harus diselesaikan dalam satu waktu tanpa jeda pemulihan yang cukup.

Tektok Sering Disalahartikan sebagai Pendakian Ringan

Di kalangan pendaki berpengalaman, tektok bukan hal baru. Namun metode ini umumnya dilakukan oleh mereka yang telah memahami karakter jalur, cuaca, kebutuhan logistik, dan kemampuan fisik pribadi.

Masalah muncul ketika tektok dipersepsikan sebagai jalan pintas untuk mencapai puncak. Tidak sedikit pendaki pemula yang menganggap gunung dapat diselesaikan hanya dengan bekal semangat dan kondisi tubuh yang dirasa masih kuat.

Padahal gunung tidak pernah membedakan pendaki berpengalaman maupun pemula. Kelelahan, hipotermia, dehidrasi, hingga kecelakaan dapat terjadi kepada siapa saja yang datang tanpa persiapan memadai.

Kasus Gunung Slamet Jadi Peringatan

Salah satu peristiwa yang sempat menyita perhatian terjadi di Gunung Slamet pada akhir 2024. Delapan pendaki tektok asal Brebes mendapat sanksi larangan mendaki setelah meninggalkan rekan mereka yang mengalami hipotermia di jalur pendakian. Pengelola basecamp menyebut kelompok tersebut juga membawa logistik yang tidak memadai untuk kondisi gunung saat itu.

Yang lebih mengkhawatirkan, para pendaki tersebut mengaku baru pertama kali mendaki Gunung Slamet. Kondisi cuaca yang buruk, minimnya perbekalan, dan kurangnya pengalaman menjadi kombinasi yang nyaris berujung tragedi.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa tektok bukan sekadar soal seberapa cepat mencapai puncak, tetapi juga tentang kemampuan mengelola risiko selama perjalanan.

Jatuh ke Jurang Saat Pendakian Tektok

Peristiwa lain terjadi di Gunung Muria, Jawa Tengah, pada 2025. Seorang pendaki tektok berusia 21 tahun meninggal dunia setelah terjatuh ke jurang sedalam sekitar 180 meter saat perjalanan turun dari puncak. Menurut laporan SAR, insiden terjadi ketika korban sedang mengabadikan pemandangan sebelum terpeleset dan jatuh ke jurang.

Kasus tersebut kembali mengingatkan bahwa fase turun gunung sering kali lebih berbahaya dibanding saat mendaki. Pada titik itu, kondisi tubuh biasanya sudah kelelahan sementara konsentrasi mulai menurun.

Kelelahan Adalah Musuh yang Sering Diremehkan

Dalam dunia pendakian, sebagian besar kondisi darurat tidak selalu diawali oleh cuaca ekstrem atau medan berbahaya. Banyak insiden justru berawal dari kelelahan.

Tubuh yang dipaksa bekerja terus-menerus akan mengalami penurunan kemampuan berpikir dan mengambil keputusan. Pendaki menjadi lebih lambat merespons situasi, mudah terpeleset, salah mengambil jalur, hingga mengabaikan tanda-tanda hipotermia.

Kondisi ini lebih rentan terjadi pada pendakian tektok karena seluruh energi dikeluarkan dalam satu hari perjalanan.

Semeru Bukan Gunung untuk Pendakian Coba-Coba

Fenomena tektok juga mulai banyak terlihat di jalur-jalur gunung populer, termasuk Gunung Semeru. Namun banyak pegiat alam bebas mengingatkan bahwa Semeru memiliki karakter yang jauh berbeda dibanding gunung wisata pada umumnya.

Jalur pendakian yang panjang, perubahan cuaca yang cepat, suhu dingin pada malam hingga dini hari, serta akses evakuasi yang tidak mudah membuat Semeru membutuhkan persiapan lebih matang.

Karena itu, gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut lebih tepat dipandang sebagai medan pendakian serius daripada sekadar destinasi yang sedang tren di media sosial.

Puncak Bukan Tujuan Utama

Dalam etika pendakian, keberhasilan tidak diukur dari seberapa cepat seseorang mencapai puncak. Keberhasilan justru ditentukan oleh kemampuan kembali pulang dengan selamat.

Pendakian tektok bisa menjadi pilihan yang aman apabila dilakukan oleh pendaki yang memiliki pengalaman, kebugaran fisik memadai, serta memahami karakter gunung yang didaki.

Namun bagi pendaki pemula, mengejar tren tektok tanpa persiapan sering kali hanya memperbesar risiko. Sebab pada akhirnya, gunung tidak pernah peduli apakah seseorang datang karena pengalaman, ambisi, atau sekadar takut ketinggalan tren.

Iklan
Iklan
Iklan