Tim Pengabdian FISIP UB Gelar Sapa Tani di Desa Argosari Malang, Dorong Petani Perkuat Kesadaran Kolektif

SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Tim Pengabdian kepada masyarakat dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) menggelar forum diskusi bertajuk “Sapa Tani” di Kantor Desa Argosari, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.

Rangkaian awal kegiatan forum diskusi bertajuk “Sapa Tani” itu dimulai dengan sambutan Koordinator Mahasiswa FISIP Bakti Desa (FBD), Kepala Desa Argosari serta dosen pembimbing lapangan. Selain itu, para mahasiswa turut menampilkan seni tari tradisional yang memberikan nuansa kebudayaan lokal dalam kegiatan tersebut.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat FISIP UB Nabil Lintang Pamungkas bersama Sinergy Aditya Airlangga selaku anggota tim memimpin jalannya diskusi. Melalui sesi Rembug Bareng Petani, masyarakat diberikan ruang untuk menyampaikan pengalaman sekaligus persoalan yang selama ini para petani hadapi di lapangan.

Forum diskusi ini digelar berangkat dari berbagai persoalan petani. Mulai dari harga komoditas yang fluktuatif, akses terhadap pupuk bersubsidi, tingginya biaya produksi, hingga lemahnya hilirisasi produk pertanian merupakan rangkaian persoalan yang saling berkaitan.

Kegiatan yang berkolaborasi dengan mahasiswa FBD Kelompok 7 dan 8 ini tidak hanya sekadar menjadi ruang penyampaian aspirasi. Forum ini juga menjadi upaya untuk membaca realitas masyarakat dari dekat, khususnya dinamika sosial-ekonomi yang dihadapi warga yang menggantungkan kehidupannya pada sektor pertanian dan peternakan.

Dalam forum diskusi tersebut, petani tebu menjadi salah satu kelompok yang cukup banyak menyampaikan aspirasi. Persoalan harga jual tebu di tingkat lokal menjadi perhatian karena dinilai belum sepenuhnya mampu mengimbangi beban biaya produksi. Situasi tersebut semakin kompleks ketika petani menghadapi keterbatasan akses terhadap pupuk bersubsidi.

Kelangkaan pupuk tidak hanya berdampak pada proses produksi, tetapi juga berimplikasi terhadap meningkatnya biaya operasional. Dalam konteks tersebut, petani dihadapkan pada persoalan klasik, yakni biaya produksi yang terus meningkat, sedangkan posisi petani dalam menentukan harga jual relatif terbatas.

Persoalan serupa juga terlihat pada sektor peternakan. Para peternak sapi menyampaikan tantangan terkait pengelolaan limbah yang belum optimal. Di sisi lain, potensi susu sapi sebagai komoditas ekonomi dinilai masih dapat dikembangkan melalui inovasi dan diversifikasi produk.

Pengolahan susu menjadi produk bernilai tambah atau added value menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan. Langkah tersebut tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan peternak, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk membangun ekosistem ekonomi lokal yang lebih mandiri.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat FISIP UB Nabil Lintang Pamungkas menilai, berbagai persoalan tersebut tidak dapat dipandang sebagai masalah yang berdiri sendiri. Menurutnya, diperlukan pendekatan yang mampu menghubungkan pengalaman masyarakat dengan kajian akademis.

“Masalah fluktuasi harga tebu, pupuk subsidi yang langka hingga menaikkan HPP, hingga tata kelola limbah dan hilirisasi produk susu adalah persoalan sistemik. Kami hadir untuk menjembatani keluhan warga ini dengan kajian akademis,” ungkap Nabil, Senin (27/7/2026).

Dari forum tersebut, pembahasan kemudian bergerak lebih jauh. Nabil dan Sinergy menganggap bahwa penguatan sektor pertanian tidak cukup hanya dilakukan melalui intervensi teknis, bantuan sarana produksi, maupun kebijakan ekonomi. Terdapat aspek lain yang juga penting, yakni membangun kesadaran kelas di kalangan petani.

Kesadaran tersebut berkaitan dengan kemampuan petani dalam memahami posisi sosial-politik mereka sebagai kelompok yang memiliki peran strategis dalam struktur agraria. Dengan pemahaman terhadap hak dan kepentingan kolektif, petani diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi persoalan yang bersifat struktural.

Penguatan organisasi dan solidaritas antar petani menjadi penting untuk membangun posisi tawar atau bargaining position. Dengan demikian, petani memiliki kapasitas yang lebih kuat untuk menyuarakan kepentingan mereka, baik dalam persoalan ekonomi maupun dalam proses kebijakan yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat agraris.

Dalam perspektif tersebut, Sapa Tani tidak hanya diposisikan sebagai forum dialog antara akademisi dan masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang bertemunya pengetahuan akademik dengan pengalaman empiris masyarakat. Apa yang disampaikan petani dan peternak menjadi bahan penting untuk memahami persoalan desa secara lebih utuh.

Tim Pengabdian FISIP UB berkomitmen untuk tidak membiarkan hasil diskusi berhenti sebagai dokumentasi kegiatan. Aspirasi dan temuan yang diperoleh dari lapangan akan diolah menjadi dokumen Policy Brief yang diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para pemangku kebijakan.

Melalui dokumen tersebut, berbagai persoalan yang muncul di Desa Argosari diharapkan dapat dibawa ke ruang kebijakan yang lebih luas. Tujuannya agar kebijakan yang dirumuskan tidak hanya berbasis pada pendekatan administratif, melainkan juga mempertimbangkan pengalaman dan kebutuhan masyarakat yang menjadi subjek kebijakan.

Sementara itu, Kepala Desa Argosari yakni Arifin menyambut positif kehadiran akademisi FISIP UB bersama para mahasiswa yang secara langsung membuka ruang dialog bersama masyarakat. “Pertemuan semacam ini penting untuk mempertemukan pengalaman warga dengan perspektif akademik dalam membaca persoalan pembangunan desa,” tutur Arifin.

Selanjutnya, kegiatan diskusi ditutup dengan pemotongan tumpeng dan doa bersama. Namun, lebih dari sekadar penutup acara, forum Sapa Tani meninggalkan satu pesan penting yang harus dipahami oleh semua pihak. Yakni persoalan petani tidak cukup hanya didengar, tetapi perlu dipahami secara kritis, dikaji secara akademis, dan diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat di tingkat akar rumput.

Iklan
Iklan