Berita  

Tembakau Tak Melulu Jadi Rokok, Berbagai Negara Sudah Kembangkan Jadi Vaksin hingga Bioenergi

close up on Tobacco plants

SUARAMALANG.COM – Selama ini tembakau identik sebagai bahan baku rokok. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan tanaman tersebut dapat dimanfaatkan untuk industri kesehatan, pertanian, energi, hingga bioteknologi dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Sejumlah negara mulai mengembangkan hilirisasi tembakau agar tidak hanya bergantung pada industri hasil tembakau. Meski demikian, pemanfaatan nonrokok masih didominasi skala riset dan industri terbatas, sementara pasar terbesar tembakau dunia tetap berasal dari produk tembakau.

Dari Daun Tembakau Menjadi Vaksin

Salah satu pemanfaatan paling maju berada di sektor biofarmasi. Tanaman Nicotiana benthamiana, kerabat dekat tembakau budidaya, dimanfaatkan sebagai biofactory atau “pabrik biologis” untuk menghasilkan protein, antibodi, hingga kandidat vaksin.

Perusahaan bioteknologi asal Kanada, Medicago, menjadi salah satu pelopor teknologi tersebut. Perusahaan itu berhasil mengembangkan vaksin berbasis tanaman tembakau yang sempat mencapai uji klinis fase III untuk COVID-19 menggunakan teknologi virus-like particles (VLP).

National Geographic dalam artikelnya Your Next Vaccine Could Be Grown in a Tobacco Plant menjelaskan daun tembakau dapat “diprogram” menghasilkan protein tertentu melalui rekayasa genetika. Sementara kajian ilmiah yang dipublikasikan di PubMed Central menyebut teknologi molecular farming berbasis tembakau kini menjadi salah satu platform penting dalam pengembangan obat dan vaksin.

Teknologi serupa juga terus dikembangkan lembaga penelitian di Amerika Serikat dan Jepang. Selain vaksin, tanaman tembakau digunakan untuk menghasilkan antibodi, enzim, hingga protein terapeutik yang dibutuhkan industri farmasi.

Nikotin untuk Dunia Kesehatan

Pemanfaatan lain yang sudah digunakan secara luas ialah ekstraksi nikotin sebagai bahan baku Nicotine Replacement Therapy (NRT). Produk ini membantu perokok mengurangi ketergantungan terhadap rokok melalui plester nikotin, permen karet, tablet hisap, maupun semprotan mulut.

Berbagai pedoman kesehatan internasional memasukkan terapi pengganti nikotin sebagai salah satu metode yang dapat meningkatkan peluang keberhasilan berhenti merokok apabila digunakan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Pestisida hingga Bioenergi

Di sektor pertanian, ekstrak tembakau telah lama dimanfaatkan sebagai pestisida nabati karena kandungan nikotinnya mampu mengendalikan beberapa jenis hama. Meski begitu, penggunaannya kini lebih terbatas karena nikotin juga dapat berdampak terhadap organisme non-target apabila tidak digunakan secara tepat.

Sementara itu, biomassa tembakau juga menjadi objek penelitian sebagai bahan baku bioetanol, biomassa padat, hingga biofuel. Kandungan selulosa pada batang dan limbah tanaman dinilai berpotensi mendukung pengembangan energi terbarukan di masa depan.

Peluang Hilirisasi di Indonesia

Sebagai salah satu produsen tembakau terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang mengembangkan hilirisasi nonrokok. Diversifikasi produk dapat membuka pasar baru sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil panen petani.

Meski demikian, pengembangan industri tersebut membutuhkan investasi riset, kemitraan dengan sektor bioteknologi, dukungan industri pengolahan, serta regulasi yang mendorong inovasi. Pengalaman Kanada, Amerika Serikat, dan Jepang menunjukkan tembakau tidak hanya bernilai sebagai bahan baku rokok, tetapi juga dapat menjadi komoditas strategis bagi industri kesehatan, pertanian, dan energi apabila didukung ekosistem yang memadai.

Iklan
Iklan