SUARAMALANG.COM – Pohon beringin selalu memiliki tempat khusus dalam ingatan masyarakat Jawa. Ukurannya yang besar, usia panjang, akar menjuntai, serta tajuknya yang rindang melahirkan banyak mitos.
Di sejumlah daerah, masyarakat menganggap beringin tua sebagai pohon keramat. Cerita tentang penunggu, tempat berkumpul makhluk gaib, hingga larangan menebangnya terus hidup dari generasi ke generasi.
Beringin dan Mitos Pohon Keramat
Mitos tersebut tidak muncul tanpa alasan. Bentuk fisik beringin memang berbeda dari kebanyakan pohon yang tumbuh di sekitar permukiman.
Akar gantungnya dapat tumbuh dari cabang menuju tanah. Pada jenis tertentu, akar itu kemudian berkembang menjadi batang penyangga baru.
Kemampuan tersebut membuat satu individu beringin dapat membentuk struktur pohon yang sangat luas. Dalam pandangan masyarakat masa lalu, bentuk itu tentu tampak tidak biasa.
Ilmu botani justru menjelaskan fenomena tersebut secara alami. Ficus benghalensis, misalnya, mengembangkan akar udara yang dapat mencapai tanah dan berubah menjadi batang baru.
Karakter itu membuat beringin mampu memperluas tajuk secara horizontal. Penelitian genom juga mencatat kemampuan hidup panjang hingga berabad-abad pada Ficus benghalensis.
Kenapa Beringin Dikaitkan dengan Kehidupan Panjang?
Di sinilah mitos dan ilmu pengetahuan menemukan titik temu yang menarik. Struktur beringin memang memberi kesan bahwa pohon tersebut terus memperbarui dirinya.
Cabang yang menghasilkan akar udara dapat membentuk penyangga baru. Batang-batang tersebut kemudian membuat satu pohon tampak seperti kumpulan banyak pohon.
Kondisi itu menjelaskan mengapa beringin sering menjadi simbol umur panjang dan keabadian. Kajian ilmiah juga mengaitkan struktur akar udaranya dengan kemampuan beringin menyebar dalam wilayah luas.
Namun, sains tidak menemukan bukti bahwa akar, tajuk, atau batang beringin berkaitan dengan keberadaan makhluk gaib. Cerita tentang penunggu tetap berada dalam ranah kepercayaan dan budaya masyarakat.
Beringin dalam Filosofi Jawa
Dalam budaya Jawa, makna beringin bahkan melampaui cerita mistis. Pohon ini membawa simbol pengayoman, keteduhan, kekuatan, dan kehidupan.
Museum Sonobudoyo Yogyakarta menyebut masyarakat Jawa memandang beringin sebagai “pohon hayat—pohon kehidupan.” Makna itu berkaitan dengan akar kuat, tajuk rindang, serta usia panjangnya.
Keraton Yogyakarta juga menempatkan beringin sebagai bagian penting dari simbol kekuasaan dan pengayoman. Sepasang ringin kurung berdiri di tengah Alun-Alun Utara sebagai bagian dari tata ruang keraton.
Ketika Mitos Justru Membantu Melindungi Pohon
Menariknya, kepercayaan terhadap pohon keramat tidak selalu membawa dampak buruk. Dalam kondisi tertentu, kepercayaan justru dapat mendorong masyarakat menjaga pohon tersebut.
Penelitian tentang kawasan hutan sakral menunjukkan larangan berbasis kepercayaan dapat membantu melindungi habitat dan spesies tertentu. Fenomena serupa juga tercatat dalam kajian tentang beringin yang dianggap sakral di Indonesia.
Artinya, mitos dapat menjalankan fungsi sosial yang nyata. Masyarakat menjaga pohon karena alasan budaya, sementara lingkungan ikut memperoleh manfaat dari perlindungan tersebut.
Beringin Bukan Sekadar Pohon yang Menakutkan
Beringin juga menyediakan ruang teduh dan menjadi bagian dari lingkungan perkotaan maupun kawasan budaya. Buahnya berperan dalam ekosistem karena menarik berbagai satwa pemakan buah.
Pada jenis Ficus benghalensis, reproduksi bahkan melibatkan hubungan khusus dengan tawon penyerbuk. Hubungan tersebut menunjukkan posisi penting kelompok Ficus dalam jaringan ekologi.
Karena itu, anggapan bahwa beringin hanya identik dengan dunia gaib tentu terlalu sederhana. Pohon ini sekaligus memiliki nilai ekologis, budaya, sejarah, dan simbolik.
Mitos tentang penunggu beringin mungkin tidak dapat dibuktikan melalui metode ilmiah. Namun, ilmu pengetahuan dapat menjelaskan mengapa pohon tersebut tampak begitu tua, besar, rindang, dan berbeda dari pohon lainnya.
Pada akhirnya, beringin menjadi contoh menarik bagaimana manusia memberi makna pada alam. Masyarakat melihat sesuatu yang misterius, sementara sains membaca proses biologis di balik keunikannya.
Di antara mitos dan fakta tersebut, satu hal tetap sama: beringin telah menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Pohon yang dahulu dianggap memiliki kekuatan gaib itu ternyata juga menyimpan kekuatan ekologis yang nyata.
















