Benarkah Gemar Makan Pedas Bisa Bikin Panjang Umur?

Makanan pedas kerap menjadi pilihan karena mampu menggugah selera makan melalui sensasi panas dari cabai, sambal, jalapeno, hingga kari. Di balik sensasi yang membuat bibir terasa terbakar dan mata berair, kandungan capsaicin di dalamnya ternyata dihubungkan dengan berbagai manfaat kesehatan dan risiko kematian akibat penyakit tertentu yang lebih rendah.

Mengenal Peran Capsaicin dan Kesehatan Kardiometabolik

Capsaicin merupakan senyawa aktif utama yang memberikan sensasi pedas pada cabai dan berkaitan dengan berbagai proses di dalam tubuh seperti metabolisme, kesehatan jantung, serta respons peradangan. Mengutip Real Simple, sejumlah penelitian populasi menemukan adanya korelasi antara konsumsi cabai dan kesehatan kardiometabolik yang lebih baik.

Meskipun demikian, hubungan tersebut tidak secara otomatis membuktikan bahwa makanan pedas dapat membuat seseorang hidup lebih lama secara langsung. Terdapat beberapa mekanisme yang diduga berperan mengapa konsumsi makanan pedas berpotensi mendukung umur panjang.

Berpotensi Mendukung Kesehatan Jantung

Senyawa capsaicin diketahui mampu memengaruhi pembuluh darah dengan merangsang produksi nitric oxide, yang membantu pembuluh darah menjadi lebih rileks dan melebar guna menjaga tekanan darah. Selain itu, konsumsi cabai turut dikaitkan dengan profil lemak darah yang lebih baik dan diduga membantu melindungi kolesterol LDL dari oksidasi yang memicu pembentukan plak.

Sebuah penelitian terhadap hampir 23 ribu orang menunjukkan bahwa konsumsi cabai sebanyak empat kali atau lebih dalam sepekan berkaitan dengan risiko kematian akibat penyakit jantung, penyakit jantung iskemik, dan stroke yang lebih rendah. Kendati demikian, hasil riset ini menunjukkan korelasi dan bukan bukti langsung bahwa cabai menghindarkan seseorang dari penyakit tersebut.

BACA JUGA  Awet Muda di Usia 50-an: Yuni Shara Bongkar Rahasia Perawatannya

Membantu Meningkatkan Metabolisme

Di sisi lain, capsaicin banyak diteliti karena potensinya dalam memengaruhi metabolisme tubuh melalui proses termogenesis, yakni saat tubuh menghasilkan panas dan menggunakan energi. Senyawa ini dapat meningkatkan aktivitas pembakaran energi serta memengaruhi jaringan lemak cokelat atau brown adipose tissue yang berbeda dari lemak putih.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan potensi capsaicin dalam memengaruhi nafsu makan dan jumlah energi yang dikonsumsi. Meskipun begitu, efek tersebut tidak menjadikan makanan pedas sebagai pengganti pola makan sehat atau solusi tunggal untuk menurunkan berat badan.

Berpotensi Membantu Mengendalikan Peradangan

Kajian mengenai hubungan makanan pedas dan kesehatan juga merambah ke mikrobioma usus. Capsaicin terbukti dapat memengaruhi komposisi bakteri di dalam usus serta mendukung bakteri yang memproduksi short-chain fatty acids (SCFA), termasuk butirat.

Senyawa SCFA berperan penting dalam menjaga kesehatan lapisan usus dan mempertahankan fungsi penghalang usus agar zat pemicu peradangan tidak mudah masuk ke aliran darah. Kendati demikian, penelitian mengenai hal ini masih terus berkembang sehingga belum tepat disimpulkan bahwa memperbanyak makan pedas saja mampu mencegah peradangan atau penyakit kronis.

BACA JUGA  Akun Instagram Terhindar dari Hack dengan 5 Cara Ini

Haruskah Makan Pedas Lebih Banyak?

Temuan seputar capsaicin tentu menjadi kabar menarik bagi para pencinta sambal. Namun, hal tersebut tidak berarti semakin pedas makanan yang dikonsumsi maka usia seseorang akan semakin panjang.

Manfaat makanan pedas perlu dilihat sebagai bagian dari pola makan secara keseluruhan yang dikombinasikan dengan sayuran, sumber protein, biji-bijian, serta makanan bergizi lainnya. Mengingat toleransi tubuh setiap orang terhadap rasa pedas berbeda-beda dan berisiko memicu ketidaknyamanan pencernaan pada sebagian orang, konsumsilah dalam jumlah yang sesuai dengan toleransi tubuh serta tetap imbangi dengan pola makan bergizi seimbang.

Iklan
Iklan