SUARAMALANG.COM – Kemampuan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) menghasilkan video dan film realistis menghadirkan tantangan baru bagi sistem penyensoran di Indonesia. Teknologi ini mempercepat produksi konten, tetapi juga membuka peluang munculnya materi pornografi, kekerasan seksual, hingga konten yang berpotensi melanggar hukum di ruang digital.
Persoalan tersebut bukan hanya menyangkut kemampuan teknologi mengenali gambar atau adegan, melainkan juga bagaimana menilai konteks dan pesan di balik sebuah karya. Di tengah meningkatnya produksi konten berbasis AI, proses penyensoran tetap membutuhkan pertimbangan manusia agar penilaian tidak semata-mata bergantung pada identifikasi mesin.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai perkembangan AI generatif perlu diikuti peningkatan kompetensi sumber daya manusia, termasuk di lingkungan Lembaga Sensor Film (LSF). Menurutnya, teknologi tersebut dapat membantu proses penilaian, tetapi memiliki keterbatasan dalam memahami konteks cerita.
“AI bisa membantu mengenali adegan, tetapi belum tentu memahami konteks dan pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah karya. Ketika kita hanya melihat hasil identifikasi mesin, ada kemungkinan pesan cerita yang sebenarnya tidak tertangkap. Karena itu, proses penilaian tetap membutuhkan manusia,” ujar Nezar dalam kegiatan Peningkatan Kompetensi dan Pengembangan Diri di Lingkungan LSF di Bogor, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026).
Produksi Konten Makin Mudah, Beban Pengawasan Bertambah
AI generatif memungkinkan seseorang membuat gambar, suara, hingga video tanpa harus memiliki kemampuan produksi film seperti sebelumnya. Perkembangan ini memperluas akses terhadap teknologi kreatif, tetapi sekaligus meningkatkan kebutuhan pengawasan terhadap konten yang beredar di berbagai platform digital.
Nezar menyebut LSF menghadapi volume pekerjaan yang besar. Lembaga tersebut memiliki sekitar 110 orang yang menangani penyensoran terhadap 40 ribu film setiap tahun. Kondisi ini menunjukkan pentingnya dukungan teknologi untuk membantu proses identifikasi adegan dan mempercepat pemeriksaan materi audiovisual.
Namun, penggunaan AI dalam penyensoran tidak dapat dilepaskan dari risiko kesalahan penilaian. Sebuah adegan yang teridentifikasi oleh mesin belum tentu dapat dipahami secara utuh tanpa melihat alur cerita, tujuan penyajian, dan konteks karya. Karena itu, pemanfaatan AI perlu ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti keputusan manusia.
Nezar mendorong peningkatan literasi AI di lingkungan LSF, termasuk pemahaman mengenai cara kerja teknologi, keterbatasan sistem, aspek hukum, dan etika. Transparansi, akuntabilitas, keamanan, serta penilaian risiko juga dinilai penting dalam merespons perubahan industri perfilman.
Konten Bermasalah Tak Selalu Berhenti di Media Sosial
Tantangan pengawasan tidak hanya muncul pada film yang diproduksi menggunakan AI, tetapi juga pada distribusinya. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencermati kemunculan mini drama berbasis AI yang memuat pornografi, kekerasan seksual, dan unsur perjudian.
Menurut Nezar, sebagian konten memanfaatkan media sosial sebagai pintu masuk untuk mengarahkan pengguna ke platform lain yang menawarkan konten berbayar dengan penyaringan terbatas. Pola tersebut membuat pengawasan tidak cukup hanya dilakukan pada platform tempat konten pertama kali ditemukan.
Komdigi menyatakan bekerja sama dengan platform media sosial melalui dashboard bersama untuk mengawasi konten yang berpotensi melanggar hukum. Pemerintah juga membuka peluang kolaborasi dengan LSF, terutama untuk memperkuat kemampuan penilaian konten audiovisual.
Pengawasan terhadap layanan digital atau over-the-top (OTT) membutuhkan koordinasi lebih lanjut dengan perusahaan teknologi agar pemantauan dapat mencakup platform tujuan pengguna, bukan hanya media sosial sebagai jalur awal distribusi.
Perkembangan AI pada akhirnya menghadirkan dua kebutuhan yang harus berjalan beriringan: membuka ruang bagi inovasi kreatif dan memastikan teknologi tidak memperluas peredaran konten yang merugikan masyarakat. Penguatan kemampuan manusia, dukungan teknologi, dan koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan tersebut.













