Tekno  

AI Bikin Hidup Manusia Lebih Mudah, tetapi Benarkah Kita Jadi Kurang Mandiri?

SUARAMALANG.COM – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan menjalani aktivitas sehari-hari. Teknologi ini menawarkan efisiensi, tetapi sejumlah penelitian juga mengungkap risiko ketergantungan.

Dampak AI kini tidak hanya menjadi perbincangan di dunia teknologi. Sejumlah peneliti mulai mengukur pengaruhnya terhadap produktivitas pekerja dan kemampuan manusia mengembangkan keterampilan.

Salah satu penelitian yang diterbitkan dalam The Quarterly Journal of Economics pada 2025 menemukan peningkatan produktivitas setelah pekerja menggunakan asisten AI. Studi Erik Brynjolfsson, Danielle Li, dan Lindsey Raymond itu melibatkan 5.172 agen layanan pelanggan.

Hasilnya, penggunaan AI meningkatkan jumlah persoalan pelanggan yang diselesaikan per jam sebesar 15 persen secara rata-rata. Namun, besarnya manfaat berbeda menurut pengalaman dan kemampuan masing-masing pekerja.

Produktivitas Meningkat, Waktu Kerja Berubah

Temuan tersebut memperlihatkan potensi AI dalam membantu manusia menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Pekerja pemula bahkan memperoleh manfaat lebih besar dibandingkan pekerja berpengalaman dalam penelitian tersebut.

Studi lain yang dipublikasikan National Bureau of Economic Research (NBER) pada 2025 meneliti 7.137 pekerja di 66 perusahaan. Penelitian ini mengamati perubahan pola kerja setelah peserta memperoleh akses ke perangkat AI generatif.

Hasilnya, pekerja yang rutin menggunakan perangkat tersebut menghabiskan sekitar dua jam lebih sedikit untuk mengurus email setiap minggu pada paruh kedua eksperimen enam bulan. Mereka juga mengurangi waktu bekerja di luar jam reguler.

Meski demikian, peneliti tidak menemukan perubahan signifikan pada jumlah dan komposisi tugas akibat pemberian akses AI secara individual.

Baca Juga:  Membangun Layanan Kesehatan Masa Depan: Mengintip 2 Kunci Transformasi Digital Kemenkes

Artinya, AI dapat menghemat waktu untuk pekerjaan tertentu. Namun, efisiensi tersebut tidak otomatis mengubah seluruh pola kerja atau menghilangkan kebutuhan terhadap tenaga manusia.

Nilai Tugas Meningkat, Belum Tentu Memahami Materi

Dampak berbeda terlihat dalam dunia pendidikan. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 2025 menguji penggunaan AI dalam pembelajaran matematika siswa sekolah menengah.

Penelitian Hamsa Bastani dan timnya melibatkan siswa sekolah menengah. Mereka membandingkan penggunaan AI generatif biasa dengan tutor AI yang dirancang untuk mendukung proses belajar.

Hasilnya, penggunaan AI meningkatkan nilai latihan matematika sebesar 48 persen pada kelompok dengan antarmuka AI biasa. Sementara itu, kelompok yang menggunakan tutor AI dengan dukungan pembelajaran memperoleh peningkatan 127 persen.

Namun, muncul temuan penting ketika siswa harus mengerjakan soal tanpa bantuan AI. Kelompok yang sebelumnya menggunakan AI biasa memperoleh nilai ujian 17 persen lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol.

Sebaliknya, rancangan tutor AI yang memberikan dukungan pembelajaran membantu mengurangi dampak negatif tersebut.

Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan menyelesaikan tugas dengan bantuan AI tidak selalu sejalan dengan penguasaan materi secara mandiri. Cara manusia menggunakan teknologi turut menentukan hasil akhirnya.

Tantangan Baru bagi Kemandirian Manusia

Berbagai penelitian tersebut memperlihatkan bahwa AI membawa manfaat sekaligus tantangan. Teknologi ini dapat membantu pekerjaan rutin, mempercepat penyelesaian tugas, dan mendukung proses belajar.

Baca Juga:  Tips Prompt NotebookLM: Cara Bertanya ke AI agar Jawabannya Lebih Akurat dan Relevan

Namun, penggunaan tanpa pertimbangan dapat membuat seseorang terlalu mengandalkan jawaban instan. Risiko tersebut menjadi perhatian ketika pengguna berhenti memeriksa informasi atau tidak lagi berusaha memahami proses di balik suatu jawaban.

Meski begitu, penelitian yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa AI secara umum membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir mandiri. Dampaknya bergantung pada konteks, desain teknologi, dan perilaku pengguna.

Karena itu, tantangan utama bukan sekadar menguasai AI, melainkan memastikan teknologi tersebut benar-benar memperkuat kemampuan manusia.

AI dapat menjadi alat bantu yang efektif ketika pengguna tetap aktif berpikir, memeriksa kebenaran informasi, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi tidak hanya diukur dari seberapa cepat mesin menyelesaikan pekerjaan. Ukuran lainnya adalah sejauh mana manusia mampu memanfaatkan kemudahan tersebut tanpa kehilangan keterampilan, daya kritis, dan kemandirian.