SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Deklarasi Ngalam Hebak 2026 tidak hanya menempatkan seni dan budaya di atas panggung. Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mendapat ruang khusus karena gerakan kebudayaan dinilai harus ikut memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat.
Ketua Pelaksana Ngalam Hebak 2026, Hanan Djalil, mengatakan UMKM sengaja menjadi salah satu unsur yang diutamakan dalam kegiatan di Sasana Krida Budaya Celaket, Kota Malang, Minggu (27/9/2026).
Menurutnya, konsep Malang Kabeh tidak cukup diterjemahkan melalui pertunjukan budaya. Kebudayaan juga harus bertemu dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
“UMKM kami utamakan karena Ngalam Hebak harus memberikan ruang kepada masyarakat untuk tumbuh. Budaya jangan hanya menjadi tontonan. Harus ada manfaat yang dirasakan masyarakat, termasuk pelaku usaha lokal,” kata Hanan.
Posisi UMKM bahkan masuk dalam rundown utama kegiatan.
Ngalam Hebak Bukan Hanya Seni dan Budaya
Setelah prosesi Deklarasi Ngalam Hebak dan penandatanganan, tamu undangan dijadwalkan mengunjungi stan-stan UMKM. Musik akan mengiringi kunjungan sekaligus aktivitas transaksi di area tersebut.
Panitia juga mendorong interaksi di kawasan UMKM menjadi bagian dari pengalaman budaya Ngalam Hebak.
Salah satunya melalui penggunaan Osob Kiwalan atau Boso Walikan.
Pengunjung dan pedagang diimbau mencoba menggunakan bahasa khas Arek Malang ketika berkomunikasi maupun melakukan transaksi.
“Seluruh peserta di dalam venue atau area acara kami imbau menggunakan Osob Kiwalan atau Boso Walikan, termasuk saat melakukan transaksi jual beli dengan UMKM,” ujar Hanan.
Tidak berhenti pada komunikasi, Hanan melihat Boso Walikan mempunyai potensi dikembangkan menjadi identitas kreatif produk lokal Malang.
Kosakata seperti Ngalam, nakam, ayas, sam, maupun berbagai ungkapan khas Malang dapat dieksplorasi dalam penamaan produk, kemasan, desain, merchandise hingga komunikasi pemasaran.
Namun penggunaannya tetap perlu memahami karakter Boso Walikan dan tidak sekadar membalik kata secara sembarangan.
Transaksi Gunakan Boso Walikan Malang
Dengan pendekatan tersebut, pelestarian bahasa dapat bertemu dengan ekonomi kreatif.
Produk makanan, fesyen, kerajinan hingga merchandise lokal berpeluang membawa identitas Malang melalui nama dan cerita produknya. Boso Walikan tidak lagi hanya terdengar dalam percakapan, tetapi hadir pada produk yang dibeli dan dibawa masyarakat.
“Kalau Boso Walikan bisa masuk ke produk UMKM, desain dan branding, budaya itu ikut bergerak bersama ekonomi masyarakat. Ini yang ingin kita tumbuhkan,” kata Hanan.
Konsep itu sejalan dengan kehadiran batik tulis Celaket dalam rangkaian Ngalam Hebak. Produk budaya lokal tersebut akan mendapatkan panggung melalui fashion show yang berkolaborasi dengan Andre Modelling School (AMS).
Bagi Ngalam Hebak, model seperti itu menunjukkan bahwa merawat budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan produk lokal.
Seni dan Budaya, UMKM Ramaikan Ngalam Hebak
Panggung deklarasi juga akan diisi berbagai kesenian, mulai Beskalan, Tari Topeng Malang, Remo, Gandrung Banyuwangi, kesenian Bali, Reog Ponorogo, kalapan jaranan hingga pencak silat. Penyanyi Banyuwangi Demy turut dijadwalkan tampil.
Namun di antara kemeriahan tersebut, UMKM tetap mendapat tempat sebagai bagian dari ekosistem Ngalam Hebak.
Hanan berharap pendekatan ini berkembang setelah deklarasi. Boso Walikan dapat menjadi salah satu sumber kreativitas bagi pelaku usaha untuk membangun produk yang mempunyai karakter kuat dan mudah dikenali sebagai produk Malang.
Dengan demikian, semangat Ngalam Hebak—Malang Kabeh tidak hanya hidup melalui bahasa dan pertunjukan.
Budaya dirawat, Boso Walikan digunakan, produk lokal memperoleh identitas, dan UMKM ikut bergerak. Dari situlah kebudayaan dapat memberi nilai tambah bagi ekonomi masyarakat Malang.














