Deklarasi Ngalam Hebak, Merawat Malang sebagai Ruang Bersama dalam Berbudaya

SUARAMALANG.COM, Kota Malang– Gerakan budaya Ngalam Hebak dijadwalkan dideklarasikan pada 27 September 2026 di Sasana Krida Budaya Celaket, Kota Malang. Gerakan ini membawa semangat “Malang Kabeh, Kabeh untuk Malang” dengan gagasan menjadikan Malang sebagai ruang bersama yang terbuka, inklusif, dan dapat diisi kontribusi masyarakat dari berbagai latar belakang.

Ngalam Hebak digagas sejumlah tokoh dari berbagai unsur, mulai dari kepolisian, akademisi, tokoh masyarakat, pelaku budaya hingga media massa.

Para penggagasnya antara lain Kapolresta Malang Kota Kombespol Danang Setiyo Pambudi Sukarno, Ketua Umum Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI) Dr. Wadji, M.Pd., akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Rinekso Kartono, M.Si. dan, Dr Drs.Mohammad Solikin, M.Si,  yang juga jurnalis senior.

Penggagas lain Dr. Ahmad Imron Rozuli, SE, M.Si. yang juga Dekan FISIP UB, tokoh masyarakat sekaligus pelaku budaya Hanan Djalil, sejumlah pelaku media massa di Malang, serta Bambang Rukminto,o pengamat kepolisian dari ISSES .

Osob Kiwalan Tidak Hanya Alat Berkomunikasi

Dr.Drs.Mohammad Solikin, M.Si, akademisi FISIP UMM yang juga Dosen Praktisi di Ilmu Komunikasi FISIP UB, menegaskan Osob Kiwalan tidak sekedar alat komunikasi warga Malang antar generasi sampai, melainkan semua budaya baru dalam berkomunikasi yang khas dan tidak ada dalam kultural daerah lain.

” Ngalam Hebak menjadi salah satu ajang untuk membangkitkan kembali bahasa walikan atau Osob Kiwalan, ditengah bahasa komunikasi lain yang  saat ini sedang trend,” ujar Solihin Bahari panggilan akrab Mohammad Solikin, sebagai jurnalis di media televisi ini.

Sebagai warga asli Malang kelahiran jodipan, Mohammad Solikin, cukup senang atas inisiatif membangkitkan kembali bahasa walikan atau Osob Kiwalan dalam kegiatan Ngalam Hebak. Pasalnya, selama ini tidak pernah dilakukan secara khusus, hanya lewat even-even seperti malang tempo dulu/MTD atau lainnya, yang tidak spesifik terkait Osob Kiwalan.

Salah satu penggagas Ngalam Hebak, Dr. Wadji, M.Pd., mengatakan gerakan tersebut tidak sekadar mengajak masyarakat mencintai Kota Malang. Lebih dari itu, Ngalam Hebak ingin membangun kesadaran bahwa Malang merupakan ruang bersama yang dapat dirawat dan dikembangkan oleh siapa pun.

“Ngalam Hebak ini semangatnya adalah Malang Kabeh, Kabeh untuk Malang. Kita ingin menggali identitas, merawat budaya, tetapi juga membangun Malang sebagai ruang bersama,” kata Wadji, Senin (21/9/2026).

Baca Juga:  Prestasi Gemilang Hilla di Tari Tunggal Kategori A, Lenggang Dara Torehkan Kemenangan di Love Holiday 2025

Menurut Wadji, semangat ruang bersama tersebut juga berarti tidak membangun batas antara warga lokal dan pendatang. Setiap orang yang hidup, berkarya maupun beraktivitas di Malang memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi bagi kota.

Karena itu, Ngalam Hebak membawa pesan “Berkontribusi untuk Ngalam, tanpa merasa paling Ngalam.” Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan bahwa kecintaan terhadap Malang tidak harus diwujudkan dengan merasa lebih memiliki dibandingkan orang lain.

“Menjadi bagian dari Ngalam bukan berarti merasa paling Ngalam. Justru yang penting adalah bagaimana kita berkontribusi untuk Ngalam,” ujar Wadji.

Dalam Ngalam Hebak Ada Komitmen Bersama

Semangat tersebut kemudian dituangkan dalam sejumlah komitmen Ngalam Hebak. Komitmen itu antara lain mengenal dan menjaga sejarah Ngalam sebagai bagian dari sejarah dan kebudayaan Nusantara, serta merawat budaya lokal yang mencakup Osob Kiwalan atau boso walikan, bahasa, sastra, seni, tradisi dan kearifan lokal.

Ngalam Hebak juga mendorong masyarakat bangga menjadi bagian dari Malang tanpa merasa lebih unggul atau lebih berhak. Malang diharapkan menjadi ruang bersama yang terbuka tanpa diskriminasi berdasarkan asal, suku, agama, profesi, generasi maupun latar belakang.

Komitmen lainnya adalah menghormati martabat manusia dengan menolak penghinaan, diskriminasi, kekerasan dan intoleransi. Masyarakat juga diajak bersama-sama menjaga Malang agar tetap aman, damai, rukun dan nyaman.

Osob Kiwalan Gerakan Budaya Diaspora

Gerakan ini juga mendorong setiap orang memberikan kontribusi nyata melalui ilmu pengetahuan, pendidikan, ekonomi, budaya, teknologi, lingkungan maupun pengabdian kepada masyarakat.

Hubungan antara warga lokal dan pendatang, khususnya generasi muda, juga menjadi bagian dari komitmen tersebut. Ngalam Hebak mendorong pergaulan dan dialog terbuka agar perbedaan latar belakang tidak menjadi penghalang untuk bersama-sama membangun Malang.

Di sisi lain, masyarakat diajak menghormati daerah dan budaya lain. Kecintaan terhadap Malang tidak dimaksudkan untuk merendahkan daerah maupun kebudayaan lain, tetapi menjadikan identitas lokal sebagai kekuatan untuk memberikan kontribusi bagi bangsa dan kemanusiaan.

Salah satu wujud pelestarian identitas lokal yang mendapat perhatian adalah Osob Kiwalan atau boso walikan, yang menjadi salah satu ciri khas bahasa Malang.

Pengunjung Disarankan Gunakan Osob Kiwalan

Ngalam Hebak mendorong boso walikan tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tapi tetap dikenal dan digunakan dalam kehidupan masyarakat, terutama oleh generasi muda.

Baca Juga:  Inspirasi OOTD dan Warna Keberuntungan Imlek 2026

Dalam rangkaian deklarasi, bahkan direncanakan terdapat kawasan yang mendorong pengunjung, pembeli maupun penjual menggunakan Osob Kiwalan atau boso walikan dalam aktivitas mereka.

“Kita ingin budaya itu tetap hidup dan digunakan. Salah satunya melalui boso walikan yang menjadi ciri khas bahasa Malang. Jadi bukan hanya menjadi cerita tentang masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” kata Wadji.

Rangkaian deklarasi Ngalam Hebak juga akan diisi dengan kegiatan seni dan budaya. Sejumlah pertunjukan dari Malang, Banyuwangi dan Bali direncanakan hadir.

Hadirkan Budaya Lain

Penyanyi asal Banyuwangi Demy juga dijadwalkan tampil. Sementara pada malam hari, kegiatan akan diisi dengan pertunjukan pencak silat.

Pelaku UMKM turut dilibatkan. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya mempertemukan gerakan budaya dengan aktivitas ekonomi masyarakat, sehingga ruang bersama yang dibangun tidak hanya berkaitan dengan seni dan kebudayaan, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk bergerak dan berkembang.

Osob Kiwalan Membangun Identitas Lokal

Keseluruhan komitmen tersebut bermuara pada upaya menjadikan identitas lokal sebagai kekuatan yang mempererat masyarakat, bukan menjadi pembatas.

“Kenali sejarahnya, rawat budayanya, hormati warganya, jaga kotanya, dan kontribusikan Ngalam untuk Indonesia dan dunia. Itu semangat yang ingin kita bangun melalui Ngalam Hebak,” ujar Wadji yang juga dosen Sastra Indonesia Unikama itu

Deklarasi Ngalam Hebak pada 27 September 2026 di Sasana Krida Budaya Celaket diharapkan menjadi awal gerakan bersama untuk merawat Malang sebagai ruang yang terbuka bagi seluruh masyarakat.

Identitas budaya tetap dijaga, sementara setiap orang diberi ruang untuk berkontribusi tanpa harus merasa paling memiliki Malang.

Pewarta: *MS Alkatiri