Opini  

Idle Time Tinggi, Port Stay Panjang: Tantangan Efisiensi Logistik Nasional

Oleh: Capt. Budiansyah, S.A.B*

Idle time di pelabuhan sering menjadi masalah krusial yang berdampak pada kelancaran operasional logistik dan rantai pasok. Waktu tunggu yang tidak produktif ini tidak hanya memperlambat proses bongkar muat, tetapi juga berpotensi menimbulkan biaya tambahan yang signifikan bagi perusahaan. Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, mengelola dan meminimalkan Idle Time menjadi kunci utama untuk menjaga efisiensi, mengoptimalkan sumber daya, dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

Apa itu Idle Time di Pelabuhan ?

Idle time di pelabuhan merujuk pada waktu ketika peralatan bongkar muat, seperti quay crane atau kendaraan internal, tidak digunakan secara produktif. Kondisi ini bisa terjadi karena berbagai faktor, mulai dari keterlambatan koordinasi, masalah teknis, hingga kurangnya kesiapan tenaga kerja. Akibatnya, kapasitas operasional pelabuhan tidak dimanfaatkan secara optimal, throughput menurun, dan biaya operasional meningkat.

Dalam konteks manajemen logistik, Idle Time dianggap sebagai bentuk inefisiensi yang merugikan. Selain menambah konsumsi energi dan biaya internal, Idle Time juga memperlambat proses bongkar muat petikemas. Jika dibiarkan, hal ini akan menurunkan daya saing pelabuhan karena pelayanan menjadi lebih lambat dibandingkan pelabuhan lain yang lebih efisien.

Apa itu Port Stay ?

Port stay adalah durasi waktu kapal bersandar di pelabuhan untuk menyelesaikan seluruh aktivitas bongkar muat. Semakin panjang port stay, semakin besar biaya yang harus ditanggung perusahaan pelayaran, baik berupa biaya operasional kapal maupun potensi keterlambatan jadwal keberangkatan. Port stay yang panjang biasanya menjadi indikator adanya hambatan dalam proses operasional pelabuhan.

Ketika Idle Time tinggi, port stay kapal otomatis bertambah panjang. Hal ini menciptakan efek domino: jadwal kapal terganggu, biaya logistik meningkat, dan arus distribusi barang menjadi lebih lambat. Dalam skala nasional, port stay yang panjang berkontribusi pada tingginya biaya logistik Indonesia, yang selama ini menjadi tantangan besar dalam meningkatkan daya saing ekonomi.

Baca Juga:  Soal Anggaran Renovasi Rumdin Rp 2,4 M Wali Kota & Wawali Malang, AWAS Solidarity: Pemborosan Tidak Berguna untuk Masyarakat

Pada beberapa penelitian menunjukan bahwa hubungan erat antara kedua komponen di atas, seperti penelitian yang dilakukan oleh Fa, L, Wu, L, Wang, S et al (2026) dimana penelitian ini menunjukan bahwa keputusan Idle kapal di terminal kontainer berhubungan erat dengan lamanya port stay, dan Idle Time yang tinggi memperburuk efisiensi rantai logistik global. Sementara Santoso, P.B, Armono et al (2025) dalam penelitian di indonesia menyoroti bahwa idle time peralatan bongkar muat menjadi salah satu penyebab tingginya biaya logistik nasional (14,6% dari PDB).

Penelitian di atas menegaskan hubungan linier antara Idle Time dan portstay kapal dipelabuhan bahwa semakin tinggi Idle Time maka semakin panjang pula portstay kapal dipelabuhan. Hal ini akan sangat berdampak pada rantai pasok logistik yang tentunya akan mempengaruhi biaya logistk secara keseluruhan.

Pengurangan Idle Time ini juga berdampak pada efisiensi operasional yang memberikan keuntungan strategis bagi bisnis. Setiap detik dari Idle Time maka akan menjadi waktu operasi yang lebih efektif dan produktif sehingga akan berdampak pada penghematan biaya dan meningkatnya Return of Investment (ROI) karena sumber daya yang di manfaatkan akan menjadi lebih optimal.

Selain itu, adanya peningkatan layanan dalam pemenuhan Service Level Agreement (SLA) kepada pengguna jasa dalam hal ini Shipping Line selaku pemilik kapal karena proses lebih cepat dan minim waktu tunggu sehingga meningkatkan kepuasan pelanggan dan membantu atau memenuhi atau bahkan melampaui target SLA tadi.

Dalam akuntansi manajemen penggunaan data analitik untuk pengambilan keputusan guna perencanaan masa depan menjadi penting karena pengurangan Idle Time di dukung oleh sistem monitoring dan pelaporan yang presisi juga canggih. Data yang akurat memungkinkan manajemen untuk melakukan analisis secara mendalam sebelum mengambil keputusan yang lebih akurat yang berguna bagi kebutuhan operasional.

Bagaimana cara mengurangi Idle Time di pelabuhan ?

Mengurangi Idle Time dipelabuhan memerlukan perencanaan secara strategis dan presisi sehing dapat meningkatkan efesiensi yang nantinya akan mempercepat proses operasional. Secara umum ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk meminimalkan Idle Time tersebut di antaranya ; Perencanaan yang dilakukan secara efektif dengan membuat jadwal bongkar muat secara terstruktur sesuai dengan ketersediaan peralatan yang optimal, mengintegrasikan penggunaan sistem digital sebagai penunjang kegiatan secara real-time, optimasi penggunaan peralatan dan tenaga kerja dengan menyediakan jumlah armada yang cukup serta pemenuhan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan, melakukan koordinasi dan komunikasi secara berkelanjutan baik antar lini ataupun antar pelabuhan sehingga proses bongkar muat bisa dipantau secara real-time.

Baca Juga:  LEBARAN 2026 DALAM SATU FRAME : KETUPAT, TAWA, DAN VIDEO KELUARGA LINTAS GENERASI

Sesuai dengan yang sudah diuraikan di atas maka dapat disimpulkan jika Idle time yang tinggi di pelabuhan bukan sekadar masalah teknis, melainkan tantangan besar bagi efisiensi logistik nasional. Setiap menit peralatan bongkar muat berhenti bekerja berarti kapal harus lebih lama bersandar, port stay pun semakin panjang. Dampaknya jelas: biaya logistik melonjak, distribusi barang melambat, dan daya saing ekonomi ikut tergerus. Mengurangi Idle Time berarti memangkas port stay, mempercepat arus barang, dan menekan biaya logistik. Inilah kunci agar pelabuhan Indonesia bisa lebih gesit, efisien, dan siap bersaing di panggung global.

*) Penulis merupakan Mahasiswa Magister Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang ([email protected])

**) Penulis merupakan Manager Pengelolaan Operasi di PT. Terminal Petikemas Surabaya

***) Isi tulisan opini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis