Tekno  

Kapasitas Pusat Data Indonesia Masih Kalah dari Malaysia, Kedaulatan AI Jadi Tantangan

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyampaikan strategi penguatan kedaulatan digital dan industri AI Indonesia dalam Digital Economy Policy Forum 2026 di Denpasar, Bali, Kamis (22/10/2026). (Foto: Komdigi)

SUARAMALANG.COM, Denpasar – Indonesia menghadapi tantangan memperkuat kedaulatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), meskipun kapasitas pusat data nasional terus bertambah. Selain memperbesar infrastruktur komputasi, Indonesia dinilai perlu mengembangkan industri semikonduktor dan menguasai teknologi strategis agar tidak hanya menjadi pengguna AI.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut kapasitas pusat data Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 580 megawatt. Pemerintah menargetkan kapasitas tersebut meningkat menjadi 1,3 gigawatt pada 2027–2028.

Namun, kapasitas itu masih berada di bawah Malaysia yang disebut memiliki sekitar 3 gigawatt. Perbandingan tersebut menjadi salah satu gambaran tantangan Indonesia dalam menyiapkan infrastruktur komputasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital dan pengembangan AI.

Nezar menyampaikan hal tersebut dalam Digital Economy Policy Forum 2026, bagian dari rangkaian Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Bali, Kamis (22/10/2026). Menurut dia, pembangunan pusat data perlu disertai strategi yang lebih luas untuk memperkuat industri teknologi nasional.

“Kalau kita bicara tentang strategi kita untuk kedaulatan digital, kita harus mengamankan sejumlah choke point dari rantai pasok global untuk memperkuat industri AI,” ujar Nezar.

Kedaulatan AI Tidak Cukup Mengandalkan Pusat Data

Nezar menegaskan bahwa kedaulatan digital harus dibangun melalui ekosistem yang mencakup infrastruktur fisik, data, keamanan siber, tata kelola, serta kemampuan riset dan inovasi. Ketersediaan pusat data saja belum menjamin Indonesia mampu menguasai teknologi yang menopang AI.

Baca Juga:  Tren Foto 80-an Viral di Media Sosial, Begini Cara Membuatnya dengan AI dan Prompt Siap Pakai

Kapasitas komputasi atau compute power menjadi salah satu fondasi utama. Kemampuan tersebut membutuhkan dukungan pasokan energi yang andal, konektivitas, pusat data, layanan komputasi awan, serta industri semikonduktor.

“Di era artificial intelligence ini, komputasi punya posisi seperti listrik bagi ekonomi digital. Jadi, listriknya ekonomi digital itu compute power,” tegasnya.

Karena itu, pemerintah menilai pembangunan pusat data perlu ditata dengan perencanaan dan tata kelola yang memadai agar pertumbuhannya berkelanjutan serta mampu menjawab kebutuhan ekonomi digital nasional.

Potensi Mineral Perlu Diolah Menjadi Teknologi Bernilai Tambah

Selain memperkuat komputasi, Nezar menyoroti peluang Indonesia mengembangkan industri semikonduktor dengan memanfaatkan potensi sumber daya mineral. Indonesia memiliki sejumlah komoditas, seperti nikel, bauksit, timah, emas, dan logam tanah jarang, yang menurutnya relevan dalam pengembangan rantai pasok teknologi.

Potensi tersebut, kata Nezar, perlu dikembangkan agar Indonesia tidak hanya memasok bahan mentah, tetapi juga mengambil bagian dalam proses produksi komponen teknologi. Pengembangan industri hulu perlu berjalan beriringan dengan penguatan riset, inovasi, dan kemampuan komputasi nasional.

Baca Juga:  Microsoft Perkuat Chip AI Sendiri, Apa Dampaknya bagi Pengguna?

Untuk mendukung pengembangan AI sesuai kepentingan nasional, pemerintah menyiapkan peta jalan nasional AI hingga 2029. Strategi tersebut mencakup akuntabilitas, transparansi, keamanan, penelitian dan pengembangan, kolaborasi, serta panduan etika yang mengadopsi nilai-nilai Pancasila.

Nezar menegaskan, kolaborasi pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan lembaga riset diperlukan untuk memperkuat kemampuan teknologi nasional. Upaya tersebut menjadi bagian dari visi Indonesia Digital 2045 agar Indonesia semakin berdaulat secara teknologi, berdaya saing, dan inklusif.

Tantangannya bukan hanya menambah kapasitas pusat data, melainkan membangun kemampuan nasional di berbagai lapisan industri AI. Tanpa penguatan teknologi dari hulu, pertumbuhan infrastruktur digital belum tentu sejalan dengan meningkatnya penguasaan teknologi oleh Indonesia.