SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Pemerintah Kota Malang mulai mengembangkan wisata malam untuk memperpanjang lama tinggal wisatawan. Alun-Alun Merdeka menjadi salah satu ruang yang disiapkan untuk menggabungkan hiburan, budaya, seni, musik, dan produk UMKM.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang Arif Tri Sastyawan mengatakan, Kota Malang perlu menawarkan lebih banyak aktivitas setelah wisatawan menikmati berbagai destinasi pada siang hari.
Menurutnya, wisata malam dapat menjadi alasan tambahan agar wisatawan tidak menjadikan Kota Malang sekadar tempat kuliner atau kota persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah lain.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang yang diperbarui 1 Oktober 2026 mencatat rata-rata lama menginap tamu (RLMT) pada Agustus 2026 mencapai 1,31 hari. Angka itu turun dari 1,38 hari pada Juli 2026.
Alun-Alun Merdeka Disiapkan Jadi Ruang Wisata Malam
Arif menyebut Alun-Alun Merdeka memiliki potensi untuk menjadi salah satu titik aktivitas malam. Lokasinya yang berdekatan dengan Kayutangan Heritage dinilai dapat memperluas pilihan kegiatan wisatawan setelah sore hari.
Area air mancur di tengah alun-alun juga berpeluang dimanfaatkan sebagai panggung dengan konsep amfiteater. Bentuk ruang yang melingkar memungkinkan penonton menikmati pertunjukan dari berbagai sisi.
Konsep itu tidak diarahkan untuk satu pertunjukan saja. Disporapar ingin menyediakan ruang tampil bagi musisi dan pelaku seni lokal dengan beragam genre, mulai dangdut, jazz, rock hingga pop.
“Ini sebagai trigger saja, sebagai ini lho Malang akan kita tampilkan terus, sambil nanti kita mengangkat musisi-musisi lokal yang ada di Kota Malang,” ujar Arif.
Gelaran Hiber Padhang Bulan pada Minggu (4/10/2026) menjadi salah satu pemantik konsep tersebut. Acara di Alun-Alun Merdeka memadukan Bantengan khas Malang, penampilan kelompok anak-anak difabel, band Tugu Amarta hingga penyanyi Yeni Inka.
Event Malam Ditargetkan Gerakkan UMKM dan Ekonomi Kota
Pengembangan wisata malam juga dikaitkan dengan pergerakan ekonomi lokal. Pemkot Malang melibatkan UMKM binaan Disporapar dan Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) dalam agenda tertentu.
Arif menegaskan, pelibatan tersebut bukan berarti menjadikan Alun-Alun Merdeka sebagai kawasan berjualan bebas bagi pedagang kaki lima. UMKM yang tampil merupakan binaan pemerintah dan disesuaikan dengan agenda.
“Selain kita mengangkat pariwisata, ada multiplier effect yang bisa dirasakan oleh UMKM yang ada di Kota Malang,” katanya.
Pemkot Malang juga berencana memetakan dampak ekonomi setiap event, termasuk perputaran dari hotel, kafe, parkir dan UMKM. Hasilnya akan menjadi bahan evaluasi untuk melihat efektivitas penyelenggaraan kegiatan terhadap anggaran yang dikeluarkan.
Bagi Pemkot Malang, wisata malam diharapkan membentuk rangkaian pengalaman yang lebih lengkap. Wisatawan tidak hanya menikmati kuliner atau singgah, tetapi juga mengenal budaya, kesenian, hiburan dan produk lokal sebelum melanjutkan perjalanan.














