SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Puluhan mahasiswa internasional penerima beasiswa The International Asia Scholarship (TIAS), Kemitraan Negara Berkembang (KNB), dan SUMMIT Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi menyelesaikan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Selama satu tahun, mereka tidak hanya mempelajari bahasa Indonesia, tetapi juga memahami budaya dan kehidupan masyarakat sebagai bekal mengikuti perkuliahan sekaligus menjadi duta Indonesia di negara asal masing-masing.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membangun lingkungan pendidikan internasional yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga penguatan adaptasi sosial dan budaya mahasiswa asing.
Program BIPA Bekali Mahasiswa Asing dengan Bahasa dan Budaya Indonesia
Selama mengikuti Program BIPA, mahasiswa internasional mendapatkan pembelajaran tata bahasa, komunikasi, hingga pengenalan budaya lokal. Mereka juga dibiasakan menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari agar lebih mudah beradaptasi ketika mengikuti perkuliahan reguler.
Keberhasilan proses pembelajaran tersebut ditunjukkan melalui berbagai penampilan pada penutupan program, mulai dari permainan angklung, pembacaan puisi, hingga penyampaian kesan dan pesan menggunakan bahasa Indonesia.
Kepala UPT BIPA UMM, Riski Lestiono, M.A., Ph.D., mengatakan kelulusan dari Program BIPA bukan menjadi akhir proses belajar, melainkan fondasi penting untuk menjalani pendidikan di program studi masing-masing.
“Selama satu tahun ini Anda tidak hanya belajar bahasa Indonesia, tetapi juga memasuki budaya lokal. Ketika kembali ke negara asal, ini bukan akhir dari perjalanan belajar Anda. Justru ini adalah permulaan untuk menjadi duta bahasa Indonesia dan duta Indonesia di negara masing-masing. Ceritakan kepada masyarakat di negara Anda tentang Indonesia dan terus kembangkan kemampuan bahasa Indonesia yang telah diperoleh di UMM,” ujarnya.
Lulusan BIPA Diharapkan Perkuat Diplomasi Budaya Indonesia
Salah satu peserta, Hamdan Cheloh, mahasiswa asal Thailand, mengaku memperoleh pengalaman yang melampaui pembelajaran bahasa. Menurutnya, Program BIPA juga membangun pemahaman mengenai toleransi, keberagaman, dan kerja sama lintas budaya.
“Saya sangat bersyukur dan senang bisa mengikuti Program BIPA di UMM selama satu tahun. Saya belajar bukan hanya tentang bahasa Indonesia, tetapi juga memahami budaya Indonesia, toleransi, dan bagaimana bekerja sama dengan banyak orang. Terima kasih kepada seluruh pengajar BIPA yang selalu sabar membimbing. Saya juga bangga melihat teman-teman internasional yang kini dapat berbicara bahasa Indonesia karena kami menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Hamdan.
Melalui pembekalan tersebut, mahasiswa internasional diharapkan mampu mengikuti proses pembelajaran di UMM dengan lebih baik sekaligus membangun jejaring lintas budaya selama menempuh pendidikan di Indonesia.
Program BIPA juga menjadi bagian dari strategi internasionalisasi kampus yang tidak hanya menarik mahasiswa dari berbagai negara, tetapi juga memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada masyarakat global. Informasi mengenai Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) menunjukkan program ini memang dirancang untuk meningkatkan kemampuan berbahasa sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia kepada warga negara asing.
Keberhasilan Program BIPA memperlihatkan bahwa internasionalisasi perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa asing, tetapi juga dari kemampuan kampus membangun pemahaman bahasa, budaya, dan nilai-nilai sosial yang dapat menjadi bekal mahasiswa ketika kembali ke negara asal sebagai duta Indonesia.















