PLTS 100 GWp Dorong Kebutuhan Talenta, Kampus Diminta Petakan Kompetensi Energi Hijau

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie bertemu dengan METI Energi Muda untuk membahas pemetaan kebutuhan industri energi terbarukan. (Foto: dok. Kemdiktisaintek)

SUARAMALANG.COM, JAKARTA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong pemetaan kebutuhan tenaga kerja dan riset industri energi terbarukan agar perguruan tinggi dapat menyiapkan lulusan sesuai kebutuhan dunia kerja. Langkah ini menjadi penting seiring pengembangan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt-peak (GWp) yang tengah dikembangkan pemerintah.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menyampaikan hal tersebut dalam pertemuan dengan METI Energi Muda di kantor Kemdiktisaintek, Rabu (7/10/2026). Pertemuan itu menjadi tahap awal untuk mengidentifikasi kebutuhan industri, persoalan yang memerlukan penelitian, serta kesiapan sumber daya manusia di perguruan tinggi.

Stella menilai perguruan tinggi perlu memahami kebutuhan industri sejak mahasiswa masih menempuh pendidikan. Dengan begitu, kampus dapat mempersiapkan kompetensi mahasiswa lebih awal dan mengurangi kesenjangan antara kemampuan lulusan dengan kebutuhan perusahaan.

“Jadi tuntutan dari industri energi terbarukan ini apa, sehingga kita bisa lebih awal dan lebih teliti mempersiapkan siswa kita di pendidikan tinggi. Jangan sampai menunggu mereka lulus, lalu ada gap, atau bahkan gap-nya ini sulit ditutup,” ujar Stella.

Pemetaan Industri Jadi Dasar Riset Perguruan Tinggi

Kemdiktisaintek ingin pemetaan kebutuhan industri menjadi landasan untuk menentukan persoalan yang perlu dipecahkan melalui penelitian. Pendekatan ini juga dapat membantu mengidentifikasi kompetensi yang dibutuhkan, ketersediaan talenta, serta kesesuaian program studi di perguruan tinggi.

Baca Juga:  Mahasiswa Menemukan Teknologi Cerdas, Membantu Tekan Kematian Ikan dan Hemat Listrik 

Hasil pemetaan nantinya diharapkan menjadi masukan bagi penentuan prioritas riset dan pengembangan kerja sama antara kampus dengan industri. Kemdiktisaintek juga membuka peluang pemanfaatan skema pendanaan dan kerja sama yang telah tersedia.

Dalam konteks pengembangan PLTS 100 GWp, politeknik turut mendapat perhatian karena berperan dalam menyiapkan lulusan dengan kompetensi yang dibutuhkan sektor energi surya.

Stella menegaskan bahwa tahap awal yang ingin dilakukan pemerintah adalah memetakan persoalan sekaligus permintaan industri terhadap tenaga kerja dan penelitian di sektor energi hijau.

Kampanye Green Jobs Didorong Lebih Praktis

Dalam pertemuan yang sama, METI Energi Muda menyoroti perlunya meningkatkan ketertarikan mahasiswa terhadap pekerjaan ramah lingkungan atau green jobs. Melalui program Youth Renewable Energy Campaign – Renewable Energy Campus Tour, organisasi tersebut telah menggelar kegiatan di sejumlah wilayah, antara lain Bandung, Padang, Sulawesi Utara, Surabaya, dan Jakarta.

Ketua METI Energi Muda Alif Zulviqar mengatakan mahasiswa membutuhkan pemahaman yang lebih konkret mengenai peluang karier, potensi ekonomi, dan kompetensi yang diperlukan untuk memasuki sektor energi terbarukan.

“Green job ini menjadi salah satu PR yang harus segera bisa terealisasikan, khususnya di Indonesia,” ujar Alif.

Baca Juga:  Universitas Brawijaya Percepat Sertifikasi Paten Melalui Klinik Drafting Bersama DJKI

Menurut METI, kegiatan kampus perlu melampaui seminar dan sesi berbagi pengalaman. Mahasiswa juga perlu memperoleh kesempatan mengikuti praktik pembuatan prototipe serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat agar dapat menerapkan pengetahuan dan membangun portofolio.

METI turut mengusulkan program Renewable Energy Youth Mentoring yang melibatkan pakar dan pelaku industri untuk pengembangan pada 2027. Sementara itu, kegiatan pada 2026 masih berfokus membangun minat dan pemahaman mahasiswa mengenai peluang kerja di sektor energi terbarukan.

Pemetaan kebutuhan industri dan penguatan pengalaman praktis mahasiswa diharapkan mempererat hubungan antara perguruan tinggi, penelitian, dan dunia kerja. Namun, pertemuan tersebut masih merupakan tahap awal, sehingga belum ada rincian hasil pemetaan atau target kompetensi yang diumumkan dalam materi sumber.