Opini  

Sembilan Harapan untuk Ketua Umum PBNU Mendatang

Oleh: Dr. KH. Ahmad Fahrur Rozi*

Menjadi Ketua Umum PBNU bukan sekadar memimpin organisasi besar. Amanah itu berarti menjaga warisan luhur para muassis sekaligus menyiapkan Nahdlatul Ulama menghadapi tantangan abad kedua.

NU telah tumbuh menjadi organisasi Islam terbesar di dunia. Karena itu, kepemimpinan mendatang tidak cukup hanya menjaga tradisi yang telah diwariskan para ulama, tetapi juga harus mampu melakukan lompatan-lompatan strategis agar NU semakin bermanfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Ada sembilan agenda yang menurut saya layak menjadi perhatian utama.

1. Menguatkan NU di Indonesia Timur dan wilayah perbatasan

Sudah saatnya pembangunan organisasi tidak lagi berpusat di Pulau Jawa. Penguatan cabang, kaderisasi, pesantren, layanan pendidikan, kesehatan, dan dakwah di Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, serta kawasan perbatasan harus menjadi prioritas. Di sanalah wajah kebangsaan dan keindonesiaan NU benar-benar diuji.

2. Menjadikan dakwah digital sebagai gerakan besar NU

Pertarungan gagasan hari ini berlangsung di ruang digital. Karena itu, Aswaja Center perlu diperkuat menjadi pusat dakwah multimedia yang modern, profesional, dan produktif. Sebagian anggaran kegiatan seremonial sudah saatnya dialihkan untuk membangun studio digital, memperkuat media sosial, serta melahirkan ribuan kreator konten Aswaja yang mampu menjangkau generasi muda di seluruh dunia.

3. Menjaga marwah dan kemandirian jam’iyah

NU harus tetap menjadi mitra strategis pemerintah, tetapi tidak kehilangan independensinya sebagai organisasi masyarakat sipil. Kedekatan dengan kekuasaan tidak boleh mengurangi keberanian menyampaikan nasihat, kritik, dan solusi demi kepentingan umat dan bangsa. Kemandirian ekonomi jam’iyah juga harus terus diperkuat agar NU berdiri tegak dengan kehormatannya sendiri.

4. Memperluas pelayanan sosial yang langsung dirasakan masyarakat

Kehadiran NU harus semakin nyata melalui program-program yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Rumah Sakit NU, ambulans NU, beasiswa santri, sumur air bersih, layanan kesehatan, kendaraan operasional bagi guru ngaji di pedalaman, hingga transportasi untuk masyarakat kepulauan merupakan bentuk dakwah yang paling mudah dirasakan manfaatnya.

5. Mengembalikan pesantren sebagai pusat kaderisasi NU

Pesantren adalah jantung Nahdlatul Ulama. Karena itu, sebanyak mungkin rapat, pelatihan, musyawarah, dan kegiatan nasional hendaknya dilaksanakan di lingkungan pesantren. Selain lebih sederhana dan efisien, langkah ini akan memperkuat hubungan antara struktur organisasi dengan akar tradisi NU sekaligus menghidupkan ekosistem pendidikan pesantren.

6. Membangun pusat pendidikan Islam bertaraf internasional

Perguruan tinggi NU dan kampus berbasis pesantren perlu didorong menjadi destinasi pendidikan dunia Islam. Program multibahasa, kerja sama internasional, dan beasiswa bagi mahasiswa mancanegara akan melahirkan duta-duta Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah yang membawa pesan moderasi dan perdamaian ke berbagai negara.

7. Mengirim kader NU berdakwah ke berbagai belahan dunia

NU memerlukan lebih banyak ulama, dai, akademisi, dan intelektual yang menguasai bahasa asing serta mampu berdialog dengan masyarakat global. Dakwah internasional harus menjadi program kaderisasi yang terencana sehingga nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin semakin dikenal dan memberi manfaat bagi peradaban dunia.

8. Merangkul seluruh potensi terbaik bangsa

NU harus menjadi rumah besar bagi para ulama, akademisi, profesional, pengusaha, aktivis sosial, pegiat lingkungan, kaum muda, dan seluruh anak bangsa yang memiliki semangat pengabdian. Semakin banyak orang baik berhimpun dalam NU, semakin besar pula manfaat yang dapat dihadirkan bagi masyarakat.

9. Membangun gerakan wakaf produktif untuk peradaban

Abad kedua NU memerlukan fondasi ekonomi yang kuat. Gerakan wakaf produktif harus menjadi salah satu agenda utama. Tanah wakaf dapat dikembangkan menjadi perguruan tinggi, pesantren, sekolah, rumah sakit, kawasan pertanian, pusat riset, hingga hutan konservasi. Wakaf bukan sekadar amal jariyah, tetapi investasi peradaban yang manfaatnya dapat dirasakan lintas generasi.

Muktamar Menghasilkan Pemimpin Terbaik 

Pada akhirnya, siapa pun yang kelak dipercaya memimpin PBNU, harapan kita sesungguhnya sederhana: menghadirkan NU yang semakin kuat organisasinya, semakin mandiri ekonominya, semakin kokoh pesantrennya, semakin luas manfaat sosialnya, dan semakin dihormati di tingkat dunia.

NU akan tetap besar apabila terus berpijak pada khidmah, keikhlasan, dan pengabdian. Sebab sejak awal, para muassis mendirikan jam’iyah ini bukan untuk mengejar kekuasaan, melainkan untuk menjaga agama, melayani umat, serta mengabdi kepada bangsa dan kemanusiaan.

Semoga Muktamar mendatang melahirkan kepemimpinan terbaik yang mampu membawa Nahdlatul Ulama memasuki abad keduanya dengan penuh optimisme, persatuan, dan keberkahan.

Penulis :*Ketua PBNU Bidang Keagamaan

Iklan
Iklan