Panggung Budaya 14 Jam Siap Meriahkan Ngalam Hebak

SUARAMALANG.COM,Kota Malang – Tiga hari menjelang deklarasi Ngalam Hebak 2026, panggung budaya di Sasana Krida Budaya Celaket, Kota Malang, mulai dipersiapkan. Berlangsung Minggu (27/9/2026), rangkaian kegiatan dijadwalkan berjalan selama 14 jam, mulai pukul 09.00 hingga 23.00 WIB.

Tidak hanya menampilkan kesenian khas Malang, panggung Ngalam Hebak akan mempertemukan sejumlah ekspresi budaya dari berbagai daerah. Tari Beskalan, Tari Topeng Malang, Remo, Gandrung Banyuwangi, Joget Bumbung Bali, kalapan jaranan hingga pencak silat akan hadir dalam satu rangkaian.

Ketua Pelaksana Ngalam Hebak 2026, Hanan Djalil, mengatakan konsep tersebut menjadi bagian dari semangat Malang Kabeh. Kebudayaan Malang tetap menjadi identitas utama, tetapi terbuka untuk berjumpa dengan kebudayaan lain yang ikut hidup dan berkembang di Malang.

Penyanyi Demmy Meriahkan Ngalam Hebak

Panggung juga akan menghadirkan penyanyi asal Banyuwangi, Demy, yang dikenal melalui lagu Kanggo Riko dan Gerigis. Penampilannya akan menjadi salah satu bagian hiburan dalam rangkaian deklarasi Ngalam Hebak.

“Acara tinggal tiga hari lagi. Kami ingin deklarasi ini menjadi ruang pertemuan masyarakat dan kebudayaan. Mulai pagi sampai malam akan ada berbagai pertunjukan seni,” kata Hanan.

Warna Malang akan diperkuat melalui penampilan Beskalan dan Tari Topeng Malang. Sementara kesenian daerah lain hadir melalui Tari Remo, Gandrung Banyuwangi hingga Joget Bumbung, tari pergaulan khas Bali.

Baca Juga:  Selain Pulihkan Ekosistem, Ini Agenda di Balik Penutupan Gunung Bromo

Pertunjukkan Seni, Pameran UMK dan Pentas Warnai Ngalam Hebak

Kalapan jaranan dan pencak silat juga disiapkan untuk mengisi rangkaian kegiatan hingga malam hari.

Selain seni pertunjukan, batik tulis Celaket akan mendapat panggung tersendiri. Karya batik khas Malang tersebut akan ditampilkan melalui fashion show yang berkolaborasi dengan Andre Modelling School (AMS).

Menurut Hanan, keterlibatan berbagai unsur tersebut sejalan dengan gagasan Ngalam Hebak yang tidak ingin memaknai budaya sebatas pertunjukan.

Gerakan ini membawa semangat untuk mengenali sejarah, merawat identitas lokal dan membangun Malang sebagai ruang bersama bagi masyarakat dari beragam latar belakang.

Salah satu identitas yang akan mendapatkan perhatian khusus adalah Osob Kiwalan atau Boso Walikan.

Panitia mengimbau pengunjung, peserta hingga pelaku UMKM di area kegiatan menggunakan Boso Walikan dalam interaksi selama acara. Termasuk ketika melakukan transaksi jual beli.

“Seluruh peserta di dalam venue atau area acara kami imbau menggunakan Osob Kiwalan atau Boso Walikan, termasuk saat melakukan transaksi jual beli dengan UMKM,” ujar Hanan.

Pendekatan tersebut menjadi cara sederhana untuk membawa Boso Walikan dari simbol kebudayaan kembali menjadi bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Puncak Acara Akan Dideklarasikan 10 Janji

Puncak kegiatan akan ditandai dengan pembacaan Holopes Janji Ngalam Hebak sebagai momentum deklarasi.

Baca Juga:  Prestasi Gemilang Hilla di Tari Tunggal Kategori A, Lenggang Dara Torehkan Kemenangan di Love Holiday 2025

Komitmen tersebut membawa sejumlah semangat, mulai merawat sejarah dan kebudayaan Malang, menjaga keamanan dan kerukunan, menghargai keberagaman hingga menjadikan Malang sebagai wilayah yang terbuka dan inklusif.

Penggagas Ngalam Hebak sekaligus Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi Sukarno dijadwalkan hadir. Sejumlah unsur pemerintah, akademisi, mahasiswa, komunitas, tokoh pemuda, pelaku budaya dan UMKM juga diundang dalam kegiatan tersebut.

Namun deklarasi 27 September tidak dirancang sebagai akhir gerakan. Selesainya deklarasi, Ngalam Hebak menyiapkan sarasehan Boso Walikan pada pertengahan Oktober 2026. Agenda berikutnya berupa city run pada akhir Oktober yang direncanakan melintasi sejumlah kampung tematik dan kawasan bersejarah Kota Malang.

Pewarta: *MS Alkatiri