SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Kejuaraan taekwondo grade C di Kota Malang menjadi ajang uji kemampuan bagi 2.053 atlet dari lima provinsi. Mereka datang dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Bali, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ketua Pengurus Kota (Pengkot) Taekwondo Indonesia (TI) Kota Malang Thomas Tri Budi Dharma mengatakan, peserta berasal dari berbagai latar belakang. Mereka mewakili instansi, klub, pemerintah daerah, hingga perguruan tinggi.
“Pesertanya sebanyak 2.053 atlet dari lima provinsi. Ada kelas prestasi dan semi prestasi,” kata Thomas.
Kejuaraan tersebut juga mencakup beberapa kelompok usia. Mulai dari pra-kadet, kadet, junior, senior, hingga master.
Menurut Thomas, persaingan diperkirakan berlangsung ketat. Setiap provinsi membawa atlet terbaiknya dalam kejuaraan tersebut.
Bahkan, sejumlah atlet yang turun merupakan bagian dari tim Pusat Pelatihan Daerah (Puslatda) dan Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPOP).
Bagi Jawa Timur, kejuaraan ini sekaligus menjadi bagian dari agenda evaluasi atlet. Tim Puslatda menjadikan ajang tersebut sebagai salah satu uji coba sebelum menghadapi agenda berikutnya.
Sementara bagi kabupaten dan kota di Jawa Timur, kejuaraan ini menjadi ajang pemantauan atlet menuju Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) dan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).
“Ini menjadi bahan evaluasi untuk tim Popda dan Porprov,” ujar Thomas.
Ia menjelaskan, komposisi atlet Kota Malang untuk Popda dan Porprov sebagian sudah terbentuk. Sejumlah atlet bahkan telah masuk tim inti.
Namun, beberapa kelas masih memiliki dua kandidat atlet. Karena itu, Pengkot TI Kota Malang masih melakukan evaluasi untuk menentukan atlet yang akan diberangkatkan.
Thomas menyebut evaluasi tidak hanya berorientasi pada hasil pertandingan. Kemampuan teknik, fisik, serta potensi meraih medali juga menjadi pertimbangan.
“Yang pasti kita akan mengevaluasi lebih detail. Kekurangan-kekurangan, baik teknik, fisik, dan lainnya,” katanya.
Dengan demikian, kejuaraan grade C tersebut tidak sekadar menjadi arena perebutan gelar. Ajang ini juga menjadi kesempatan untuk menemukan atlet potensial sekaligus mematangkan atlet yang sudah diproyeksikan tampil di Popda dan Porprov.
Di sisi lain, pembinaan atlet Kota Malang masih menghadapi persoalan nonteknis. Salah satu kendala yang paling sering muncul adalah izin dari sekolah dan perguruan tinggi.
Thomas mengatakan, jadwal latihan dan pertandingan terkadang berbenturan dengan kegiatan pendidikan atlet. Tugas sekolah maupun perkuliahan juga menjadi tantangan tersendiri.
“Yang paling krusial itu izin sekolah dan izin kuliah. Kadang mereka terhambat jam sekolah dan tugas-tugas kuliah,” ujarnya.
Karena itu, Thomas berharap seluruh atlet yang tampil dapat memberikan kemampuan terbaiknya. Penampilan mereka akan menjadi bahan evaluasi bagi tim pelatih untuk mempersiapkan skuad secara lebih matang.
“Harapan saya semua atlet bermain maksimal. Hasilnya nanti menjadi bahan evaluasi para pelatih,” pungkasnya.














