DBD di Malang Raya Capai 796 Kasus, Perlukah Vaksin Dengue?

DBD Mengintai, Sudahkah Anda melakukan 3M Plus di rumah minggu ini. (Foto: Ilustrasi/AI)

SUARAMALANG.COM, MALANG – Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman kesehatan di Malang Raya. Hingga September 2026, tercatat 270 kasus DBD di Kota Malang, sementara jumlah kasus di kawasan Malang Raya mencapai 796 kasus sejak awal tahun dengan delapan kematian yang dilaporkan di Kabupaten Malang.

Data tersebut menunjukkan pencegahan DBD tetap perlu dilakukan meski tren kasus di sejumlah wilayah mulai menurun. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M Plus tetap menjadi langkah penting, sementara vaksin dengue kini menjadi salah satu pilihan perlindungan tambahan yang perlu dipahami masyarakat.

Vaksin tidak berarti seseorang sepenuhnya kebal terhadap dengue. WHO menempatkan vaksinasi sebagai bagian dari strategi terpadu yang tetap harus disertai pengendalian nyamuk, deteksi dini, penanganan pasien, serta keterlibatan masyarakat.

Kasus DBD di Malang Raya Masih Perlu Diwaspadai

Dinkes Kota Malang mencatat 270 kasus DBD sepanjang Januari hingga September 2026. Angka tersebut masih berpotensi bertambah hingga akhir tahun karena secara historis jumlah kasus DBD di Kota Malang dapat menembus lebih dari 300 kasus dalam setahun.

Di Kabupaten Malang, hingga 21 September 2026 tercatat 518 kasus DBD dengan delapan kematian. Sementara itu, Kota Batu melaporkan delapan kasus sehingga total kasus yang dihimpun dari tiga wilayah mencapai 796 kasus.

Meski demikian, kondisi di Kabupaten Malang menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Data Dinkes Kabupaten Malang mencatat 4.175 kasus pada 2024, turun menjadi 1.815 kasus pada 2025, dan kembali turun menjadi 518 kasus hingga 21 September 2026.

Jangan Menunggu Kasus Naik untuk Memberantas Sarang Nyamuk

Nyamuk Aedes penyebar dengue berkembang biak di tempat yang dapat menampung air. Karena itu, menghilangkan tempat perkembangbiakan nyamuk menjadi salah satu langkah utama untuk memutus rantai penularan.

PSN 3M Plus dilakukan dengan menguras dan membersihkan tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air hujan.

Langkah Plus dapat dilakukan dengan mencegah gigitan nyamuk, menggunakan obat antinyamuk sesuai petunjuk, memasang kasa pada ventilasi atau jendela, serta menjaga lingkungan agar tidak menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Fogging Bukan Satu-satunya Cara Mencegah DBD

Fogging sering dianggap sebagai solusi utama ketika kasus DBD muncul di lingkungan. Padahal, pengasapan tidak menggantikan PSN karena fokus pengendalian juga harus diarahkan pada tempat nyamuk berkembang biak.

WHO merekomendasikan pengelolaan lingkungan untuk mengurangi habitat nyamuk, termasuk membersihkan wadah buatan manusia yang dapat menampung air. Perlindungan dari gigitan nyamuk juga tetap penting karena nyamuk penyebar dengue aktif terutama pada siang hari.

Baca Juga:  They.we: Rahasia Kulit Cerah Berkilau dan Aroma Unikuntuk Remaja Percaya Diri

Karena itu, pencegahan paling efektif membutuhkan tindakan rutin. Membersihkan halaman hanya ketika ada tetangga terkena DBD tidak cukup jika masih terdapat wadah air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Vaksin Dengue Kini Menjadi Pilihan Pencegahan Tambahan

Selain pengendalian nyamuk, vaksin dengue menjadi salah satu perkembangan dalam strategi pencegahan penyakit. Salah satu vaksin yang telah mendapat prakualifikasi WHO adalah TAK-003 atau Qdenga, vaksin hidup yang dilemahkan dan dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap empat serotipe virus dengue.

WHO merekomendasikan Qdenga untuk anak usia 6–16 tahun di wilayah dengan intensitas penularan dengue yang tinggi. Jadwal vaksin terdiri atas dua dosis dengan jarak tiga bulan.

Namun, rekomendasi WHO tidak berarti vaksin tersebut harus diberikan kepada semua orang tanpa mempertimbangkan kondisi daerah dan karakteristik penerima. Keputusan mengenai vaksinasi perlu mengikuti izin penggunaan dan rekomendasi resmi yang berlaku di Indonesia serta mempertimbangkan kondisi kesehatan individu.

Seberapa Efektif Vaksin Dengue?

Data uji klinis utama Qdenga menunjukkan efektivitas 80,2 persen dalam mencegah dengue yang terkonfirmasi secara virologis pada periode tahun pertama setelah dosis kedua. Dalam periode penelitian awal, efektivitas terhadap rawat inap akibat dengue mencapai sekitar 90 persen.

Angka tersebut tidak berarti delapan dari sepuluh orang yang divaksin pasti terbebas dari DBD sepanjang hidup. Efektivitas vaksin dapat berbeda menurut periode pengamatan, serotipe virus, status infeksi dengue sebelumnya, usia, serta karakteristik populasi.

Data EMA juga menunjukkan efektivitas terhadap dengue terkonfirmasi dapat berubah pada tahun-tahun setelah vaksinasi. Karena itu, informasi efektivitas harus dibaca sesuai periode dan populasi penelitian, bukan dipahami sebagai jaminan perlindungan mutlak.

Vaksin Tidak Menggantikan 3M Plus

WHO menegaskan vaksinasi dengue harus menjadi bagian dari strategi pengendalian yang lebih luas. Pengendalian vektor, penanganan kasus, edukasi masyarakat dan keterlibatan komunitas tetap diperlukan.

Artinya, keluarga yang memilih vaksinasi tetap perlu memberantas tempat perkembangbiakan nyamuk di rumah. Vaksin juga tidak membuat lingkungan terbebas dari nyamuk Aedes yang dapat menularkan dengue.

Pendekatan berlapis menjadi semakin penting di wilayah yang masih memiliki kasus dengue. Masyarakat dapat melakukan PSN secara rutin sekaligus mencari informasi dari tenaga kesehatan mengenai pilihan vaksin yang sesuai.

Baca Juga:  Mengantisipasi Penanggulangan HIV/AIDS, Tekankan Mitigasi dan Pencegahan Terintegrasi

Kenali Tanda Bahaya DBD Sejak Awal

Gejala dengue pada fase awal dapat menyerupai penyakit demam lainnya. Demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, atau nyeri di belakang mata dapat muncul pada penderita dengue.

Yang perlu diperhatikan adalah perubahan kondisi ketika penyakit memasuki fase berikutnya. Demam yang mulai turun tidak selalu berarti pasien sudah sembuh, sehingga keluarga tetap perlu memantau kondisi secara cermat.

Muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, perdarahan dari gusi atau hidung, darah dalam muntah atau tinja, tubuh sangat lemah, gelisah, atau tanda gangguan sirkulasi membutuhkan pertolongan medis segera.

Siapa yang Perlu Membicarakan Vaksin dengan Dokter?

Vaksin dengue bukan pilihan yang dapat diputuskan hanya berdasarkan keinginan untuk mencegah DBD. Usia, riwayat kesehatan, kondisi lingkungan, risiko penularan, serta aturan penggunaan vaksin perlu menjadi pertimbangan.

WHO menyebut terdapat kelompok tertentu yang tidak dianjurkan menerima TAK-003, termasuk orang dengan gangguan kekebalan tertentu serta perempuan hamil atau menyusui. Karena itu, konsultasi dengan tenaga kesehatan penting sebelum vaksinasi.

Informasi mengenai pencegahan DBD dan kesehatan keluarga juga dapat menjadi bahan untuk memahami langkah perlindungan lainnya. Untuk informasi resmi mengenai dengue, pembaca dapat merujuk pada panduan WHO tentang dengue dan dengue berat.

Malang Raya Tidak Boleh Lengah

Ratusan kasus DBD yang tercatat sepanjang 2026 menjadi pengingat bahwa pengendalian dengue membutuhkan tindakan yang konsisten. Penurunan kasus di sejumlah wilayah merupakan perkembangan positif, tetapi tidak berarti risiko penularan telah hilang.

Keluarga dapat memulai pencegahan dari lingkungan terdekat dengan memastikan tidak ada wadah yang menampung air dan menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Ketika ada anggota keluarga mengalami demam yang mencurigakan, pemeriksaan medis perlu dipertimbangkan, terutama jika kondisi memburuk atau muncul tanda bahaya.

Vaksin dengue dapat menjadi salah satu lapisan perlindungan bagi kelompok yang sesuai dengan rekomendasi. Namun, perlindungan tersebut tetap perlu berjalan bersama PSN 3M Plus dan kebiasaan mencegah gigitan nyamuk.