Berita  

Dugaan Keracunan MBG di Cirebon Jangkau Keluarga, Sampel Makanan dan Pasien Diuji di Laboratorium

Dinas Kesehatan Kota Cirebon mencatat 270 orang terdampak dugaan keracunan setelah mengonsumsi MBG hingga 21 Oktober 2026. Sampel makanan dan biologis korban dikirim ke Labkesda Jawa Barat untuk pemeriksaan. (Foto: Istimewa)

SUARAMALANG.COM – Dugaan keracunan setelah konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cirebon tidak hanya berdampak pada siswa di sekolah, tetapi juga anggota keluarga yang ikut menyantap makanan setelah dibawa pulang. Dinas Kesehatan Kota Cirebon mencatat 270 orang terdampak hingga Rabu (21/10/2026), sementara sampel makanan dan biologis korban telah dikirim untuk pemeriksaan laboratorium.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria Listiawaty, menyebut jumlah tersebut terdiri dari 231 anak dan 39 orang dewasa. Dua orang dari kelompok dewasa diketahui merupakan pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Para korban berasal dari 28 institusi pendidikan dan layanan pengasuhan anak, mulai dari taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah sederajat hingga tempat penitipan anak atau daycare. Penelusuran dilakukan untuk mengidentifikasi penerima MBG yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari SPPG Kalijaga.

Menurut Siti, dugaan paparan tidak terbatas pada anak yang makan di sekolah. Sebagian makanan dibawa pulang, lalu dikonsumsi anggota keluarga lain yang bukan penerima langsung program tersebut.

“Ada juga yang dibawa pulang, jadi adiknya dapat MBG kakaknya ikut makan, ada juga yang cucunya dapat MBG, neneknya ikut makan,” ujar Siti kepada kontributor Radio Elshinta, Y. Charles, Rabu (21/10/2026).

Penelusuran Menjangkau 28 Institusi Pendidikan

Dinas Kesehatan bersama Dinas Pendidikan dan puskesmas menelusuri penerima MBG di 28 institusi pendidikan dan layanan pengasuhan anak. Langkah ini tidak hanya menyasar siswa yang mengonsumsi makanan di sekolah, tetapi juga anggota keluarga yang ikut menyantap makanan setelah dibawa pulang.

Baca Juga:  Dua WNA Rusia Terjebak Tebing Pantai Cemongkak, Dievakuasi Helikopter Basarnas Bali

Penelusuran tersebut penting untuk mendata orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan sekaligus mengetahui sebaran kejadian setelah makanan dikonsumsi. Hingga saat ini, penyebab pasti kejadian belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia.

Untuk mendukung pemeriksaan, petugas mengamankan sampel makanan dari SPPG Kalijaga serta mengambil sampel biologis dari korban, termasuk muntahan dan tinja. Sampel tersebut kemudian dibawa ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Barat di Bandung.

Siti menjelaskan, pemeriksaan dilakukan di tingkat provinsi karena pengujian sampel tersebut bukan kewenangan fasilitas laboratorium di Kota Cirebon.

“Sampel awalnya sudah kami amankan, termasuk muntah dan tinja dari korban, dan tadi pagi sudah dibawa ke Labkesda Provinsi Jawa Barat karena memang pemeriksaan sampel tidak dilakukan di sini, kewenangannya ada di provinsi,” jelasnya.

Balita Sempat Mengalami Penurunan Kesadaran

Di antara korban yang mendapat penanganan medis, seorang balita berusia empat tahun dilaporkan sempat mengalami penurunan kesadaran dan menjalani perawatan intensif di RS Siloam Putera Bahagia. Dinas Kesehatan menyebut kondisi balita tersebut telah kembali sadar sepenuhnya saat pemantauan sekitar pukul 23.00 WIB.

Baca Juga:  Pemkab Malang Ingin Sound Horeg Tak Lagi Sekadar Adu Volume

Kondisi balita itu sempat dikaitkan dengan syok hipovolemik, yakni kondisi ketika tubuh kehilangan banyak cairan. Namun, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para korban masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Secara keseluruhan, para korban mendapatkan penanganan di delapan rumah sakit di Kota Cirebon. Dinas Kesehatan juga menyatakan terus mendata kondisi pasien dan menyiapkan langkah antisipasi jika jumlah pasien bertambah, termasuk kesiapan fasilitas perawatan tambahan.

Hasil pemeriksaan sampel makanan dan biologis di Labkesda Jawa Barat akan menjadi bagian penting untuk mengungkap penyebab kejadian. Hingga hasil tersebut tersedia, dugaan keracunan MBG di Cirebon masih perlu dibedakan dari kesimpulan mengenai sumber dan penyebab gangguan kesehatan para korban.