ISPA Masih Mengintai Saat Pancaroba, Kenali Tanda yang Berbahaya

Warga menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikel udara saat beraktivitas di luar ruangan. (Foto: Ilustrasi)

SUARAMALANG.COM, MALANG – Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi salah satu keluhan kesehatan yang banyak ditangani fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Malang. Kondisinya sempat melonjak hingga sekitar 6.000 kunjungan dalam sepekan pada pertengahan Agustus 2026, meski Dinas Kesehatan Kota Malang menyebut tren kasus dalam beberapa pekan terakhir mulai melandai dan terkendali.

Perubahan cuaca pada masa pancaroba, paparan debu, asap rokok, serta kualitas udara menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan. Kelompok balita, anak-anak, dan lansia termasuk yang perlu mendapat perhatian lebih ketika muncul batuk, pilek, demam, atau gangguan pernapasan.

Masalahnya, gejala awal ISPA sering terlihat seperti penyakit ringan. Padahal, ketika muncul sesak napas, napas cepat, nyeri dada, atau kondisi tubuh memburuk, masyarakat perlu segera membedakannya dari keluhan flu biasa dan memeriksakan diri.

Kasus ISPA di Malang Sempat Mencapai 6.000 Pasien

Dinkes Kota Malang mencatat kunjungan pasien ISPA dari 39 fasilitas kesehatan sempat mencapai sekitar 6.000 pasien pada pekan ke-33 atau 16–22 Agustus 2026. Angka tersebut jauh di atas kondisi normal yang berada di kisaran 2.200 pasien per pekan.

Dalam perkembangan terbaru, Dinkes menyebut kasus ISPA mulai melandai dalam tiga pekan terakhir. Meski demikian, ISPA tetap menjadi penyakit yang perlu diperhatikan karena faktor lingkungan dan perubahan kondisi cuaca dapat memengaruhi gangguan saluran pernapasan.

Data Dinkes juga menunjukkan balita usia 0–4 tahun menjadi kelompok dengan jumlah penderita terbanyak, disusul anak usia 5–14 tahun dan kelompok lanjut usia. Kondisi ini membuat keluarga perlu lebih cepat mengenali perubahan gejala pada anggota keluarga yang rentan.

Kenapa Pancaroba Bisa Memicu Gangguan Pernapasan?

ISPA tidak hanya berkaitan dengan perubahan cuaca. Penyakit ini dapat disebabkan berbagai mikroorganisme, terutama virus, dan dapat menular melalui percikan saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara.

Di sisi lain, kondisi lingkungan juga dapat memperburuk keluhan pernapasan. Debu, asap rokok, polusi udara, serta partikel lain yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan dan menjadi masalah terutama bagi anak-anak serta orang yang sudah memiliki penyakit pernapasan.

Dinkes Kota Malang juga mewaspadai paparan debu dan asap akibat kondisi lingkungan. Masyarakat diminta memperhatikan kualitas udara dan mengurangi paparan ketika kondisi lingkungan tidak mendukung.

Baca Juga:  Dianggap Berhasil, Kota Malang Menjadi Model Percontohan Penanggulangan TBC Nasional

Batuk dan Pilek Belum Tentu Pneumonia

Batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, bersin, sakit kepala, nyeri otot, dan tubuh lemas termasuk gejala yang dapat muncul pada ISPA. Sebagian besar keluhan dapat bersifat ringan, tetapi kondisi pasien perlu terus dipantau jika gejala berubah atau memburuk.

Pneumonia berbeda karena merupakan infeksi pada paru-paru. Menurut Kementerian Kesehatan, gejalanya dapat berupa batuk, demam atau menggigil, kelelahan, nyeri dada saat bernapas atau batuk, serta sesak napas.

Karena gejala dapat saling menyerupai, masyarakat tidak sebaiknya menentukan sendiri bahwa batuk atau demam pasti merupakan pneumonia. Pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan untuk menilai kondisi pasien dan menentukan pemeriksaan maupun penanganan yang sesuai.

Waspadai Sesak Napas dan Napas Cepat

Salah satu perubahan yang perlu mendapat perhatian adalah munculnya gangguan pernapasan. Kementerian Kesehatan menyebut sesak napas, napas cepat, nyeri dada, atau bibir yang tampak kebiruan sebagai tanda kondisi yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis segera.

Perhatian khusus perlu diberikan ketika keluhan pernapasan muncul pada balita, lansia, atau orang dengan penyakit penyerta. Jangan menunggu terlalu lama jika kondisi pasien terlihat semakin lemah atau sulit bernapas.

Demam yang disertai batuk juga perlu dipantau, terutama ketika kondisi umum pasien terus memburuk. Pemeriksaan dokter menjadi penting untuk menentukan apakah keluhan hanya berupa infeksi saluran pernapasan atau sudah berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

Anak dan Lansia Perlu Mendapat Perhatian Lebih

Anak kecil memiliki saluran pernapasan yang masih berkembang sehingga paparan lingkungan dapat memberi dampak lebih besar. Di Kota Malang, data Dinkes menunjukkan balita termasuk kelompok yang paling banyak mengalami ISPA.

Orang tua sebaiknya memperhatikan perubahan perilaku anak ketika sakit. Anak yang tampak sangat lemas, sulit makan atau minum, mengalami kesulitan bernapas, atau menunjukkan perubahan kondisi yang mengkhawatirkan perlu segera diperiksa.

Hal serupa berlaku pada lansia. Penyakit pernapasan dapat menjadi lebih serius pada orang dengan usia lanjut, terlebih jika memiliki penyakit kronis seperti penyakit jantung, paru-paru, atau gangguan kesehatan lainnya.

Masker Masih Relevan Saat Udara Berdebu

Ketika aktivitas di luar ruangan tidak dapat dihindari, masyarakat dapat menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikel dan droplet. Dinkes Kota Malang juga mengimbau masyarakat, terutama anak-anak, tidak terlalu lama berada di luar ketika kondisi lingkungan berdebu atau kualitas udara memburuk.

Baca Juga:  WHO dan Kemenkes Waspadai Malaria Monyet, Risiko Meningkat di Kawasan Hutan

Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit juga membantu mengurangi risiko penularan infeksi saluran pernapasan.

Orang yang sedang mengalami gejala pernapasan sebaiknya tidak memaksakan diri beraktivitas di tempat ramai. Langkah tersebut membantu melindungi orang lain sekaligus memberi kesempatan tubuh untuk beristirahat.

Jangan Sembarangan Minum Antibiotik

ISPA tidak otomatis membutuhkan antibiotik. Banyak infeksi saluran pernapasan disebabkan virus, sedangkan antibiotik digunakan untuk menangani infeksi bakteri tertentu berdasarkan penilaian tenaga kesehatan.

Menggunakan antibiotik tanpa pemeriksaan dapat meningkatkan risiko penggunaan obat yang tidak tepat dan resistensi antimikroba. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak membeli atau mengonsumsi antibiotik berdasarkan pengalaman sebelumnya tanpa anjuran tenaga kesehatan.

Informasi lain mengenai influenza dan gangguan pernapasan juga dapat dibaca melalui artikel Dinkes Kota Malang Waspadai Influenza H3N2 di SUARAMALANG.COM.

Kapan Harus Segera ke Fasilitas Kesehatan?

Batuk atau pilek ringan dapat dipantau sambil menjaga istirahat, asupan cairan, dan kebersihan. Namun, kondisi berubah ketika pasien mengalami sesak napas, napas cepat, nyeri dada, bibir kebiruan, kebingungan, atau kondisi tubuh memburuk.

Pada kelompok rentan seperti balita dan lansia, keluarga sebaiknya memiliki ambang kewaspadaan yang lebih tinggi. Pemeriksaan lebih awal dapat membantu tenaga kesehatan menemukan penyebab keluhan dan menentukan penanganan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih berat.

Dengan mengenali perbedaan gejala dan tanda bahaya, masyarakat tidak perlu panik menghadapi ISPA pada musim pancaroba. Yang lebih penting adalah menjaga kebersihan, mengurangi paparan polusi dan asap, serta tidak menunda pemeriksaan ketika gangguan pernapasan mulai mengkhawatirkan.

Untuk informasi resmi mengenai pneumonia, pembaca dapat merujuk pada informasi pneumonia dari Kementerian Kesehatan.