Ngopi SAM FSTeM UB Bahas Pupuk Organik hingga Pemanfaatan Limbah Industri

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) memaparkan sejumlah hasil riset dan pengembangan teknologi dalam kegiatan Ngobrol dan Ngopi Santai Bersama Media (Ngopi SAM), Jumat (18/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Talent FSTeM, Gedung MIPA (MP) tersebut menghadirkan akademisi dan peneliti untuk menjelaskan pengembangan pupuk organik cair, teknologi hayati, hingga pemanfaatan limbah industri bioetanol menjadi produk bernilai tambah.

Nanoagro Dikembangkan dari Riset di Kepanjen

Guru Besar Departemen Biologi UB Prof. Amin Setyo Leksono memaparkan pengembangan Nanoagro, pupuk organik cair multifungsi yang berawal dari penelitian di sawah padi organik di Kepanjen.

Penelitian tersebut menemukan kualitas nutrisi makro pupuk organik cair yang digunakan petani belum memenuhi standar. Temuan itu kemudian menjadi dasar pengembangan produk bersama mitra industri dari Tulungagung sejak 2022.

Nanoagro tidak hanya dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Produk tersebut juga diperkaya dengan entomopatogen yang berfungsi sebagai agen pengendali hama sehingga penggunaannya dapat mencakup tanaman hortikultura dan buah-buahan.

“Dengan adanya tambahan ini maka skala penggunaan produk ini menjadi lebih umum, lebih luas. Tidak hanya untuk tanaman hortikultura, tetapi juga bisa untuk buah-buahan,” jelas Prof. Amin.

Baca Juga:  Tim Pengabdian FISIP UB Gelar Sapa Tani di Desa Argosari Malang, Dorong Petani Perkuat Kesadaran Kolektif

Dalam pemaparan, Nanoagro disebut dapat diaplikasikan melalui penyemprotan secara berkala sekitar dua minggu sekali. Untuk penggunaan pada akar, dosis yang disampaikan sekitar 5 ml atau seperempat tutup botol yang diencerkan dengan 10 liter air. Penggunaan maksimal mencapai satu liter produk untuk satu hektare lahan.

Saat ini kapasitas produksi Nanoagro sekitar 500 liter per bulan. Mitra industri menargetkan peningkatan kapasitas hingga 10.000 liter per bulan seiring pengembangan produk dan kebutuhan pasar.

Riset tersebut merupakan kolaborasi Prof. Amin Setyo Leksono dengan Farida Rahayu, Ph.D., peneliti Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN. Tim juga mengembangkan Mikroagro sebagai produk pupuk organik dan hayati. Berbeda dengan Nanoagro yang telah memperoleh izin edar pada 2025, Mikroagro masih dalam tahap pengajuan izin edar.

Limbah Bioetanol Diolah Jadi Produk Bernilai Tambah

Peneliti Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN Farida Rahayu juga memaparkan penelitian berbasis rekayasa genetika dan pemanfaatan limbah industri bioetanol. Penelitian tersebut diarahkan untuk mengolah limbah menjadi produk bernilai tambah, antara lain glutathione dan yeast extract.

Prosesnya dilakukan dengan memisahkan yeast dari limbah industri bioetanol. Yeast yang diperoleh kemudian diproses untuk menghasilkan glutathione, sedangkan sisa sel setelah pemrosesan dapat dikeringkan dan dimanfaatkan sebagai yeast extract.

Pengembangan teknologi tersebut telah dimulai sejak 2025. Tahapannya diawali dengan pencarian teknologi yang kemudian diarahkan menuju penerapan dalam skala industri.

Baca Juga:  Alumni UB Ubah Lahan Marginal Menjadi Produktif Berbasis Pertanian Terpadu di Kota Malang dengan Berdayakan Masyarakat

Selain pengembangan produk, tim peneliti juga melakukan pendampingan kepada mitra industri dalam proses produksi dan pemanfaatan pupuk organik oleh petani. Tim turut menjembatani kebutuhan petani dengan produk yang dikembangkan mitra.

Pengembangan berbagai hasil riset tersebut menunjukkan upaya mendorong hasil penelitian menuju penerapan yang lebih luas. Kolaborasi antara peneliti dan industri menjadi bagian penting dalam proses tersebut, termasuk dalam pengembangan teknologi hingga tahap skala industri.

Melalui Ngopi SAM, FSTeM UB juga membuka ruang komunikasi antara akademisi, peneliti, dan media untuk memperkenalkan hasil riset yang dikembangkan di lingkungan kampus.