SUARAMALANG.COM – Lonjakan jumlah pasien rumah sakit hingga tiga kali lipat menjadi salah satu indikator serius dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat di Kalimantan Tengah (Kalteng). Di tengah kualitas udara yang memburuk, pemerintah memperkuat kesiapan fasilitas kesehatan dan menyalurkan bantuan peralatan medis untuk menangani warga terdampak.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan temuan tersebut saat melakukan kunjungan kerja ke Palangka Raya, Jumat (23/10/2026). Kunjungan itu dilakukan untuk memantau dampak pencemaran udara akibat asap karhutla sekaligus memastikan layanan kesehatan siap menghadapi peningkatan kebutuhan penanganan gangguan pernapasan.
Menurut Budi, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di sejumlah lokasi di Kalimantan Tengah telah menembus angka 300, yang masuk kategori berbahaya. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap kesehatan warga, terutama kelompok rentan yang lebih berisiko mengalami gangguan akibat paparan polusi.
Angka kenaikan pasien tersebut menjadi perhatian karena fasilitas kesehatan harus menangani warga dengan tingkat gangguan pernapasan yang beragam, mulai dari keluhan ringan hingga kondisi yang memerlukan perawatan rumah sakit.
Rumah Oksigen dan Bus Keliling Jadi Penopang Penanganan
Untuk memperkuat penanganan, Kementerian Kesehatan menyiapkan percepatan distribusi peralatan medis ke rumah sakit di kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah. Bantuan yang disalurkan mencakup 50 unit oxygen concentrator, 35 unit nebulizer, 100 tabung oksigen, serta 37 unit air purifier.
Dukungan lainnya berupa 137.000 masker KN95, 500.000 masker bedah, multivitamin dalam bentuk sirup dan tablet, serta obat-obatan untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat terdampak karhutla.
Dalam kunjungan tersebut, Budi meninjau sejumlah fasilitas, termasuk Puskesmas Menteng, Puskesmas Panarung, Rumah Oksigen di kawasan Ruang Terbuka Hijau Bundaran Besar, dan RSUD Doris Sylvanus di Palangka Raya.
Rumah Oksigen dan Bus Oksigen menjadi bagian dari upaya menyediakan akses bantuan bagi warga yang mengalami keluhan akibat asap. Bus Oksigen milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah juga diarahkan untuk membantu masyarakat yang kesulitan menjangkau fasilitas layanan oksigen, termasuk relawan dan petugas pemadam kebakaran yang terpapar polusi saat bertugas.
Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin menyebut layanan Bus Oksigen berpeluang dikembangkan sebagai proyek percontohan di tingkat nasional. Namun, pengembangan tersebut masih perlu ditindaklanjuti oleh pihak terkait.
Di sisi lain, Budi turut meluruskan narasi yang beredar di media sosial mengenai foto dirinya menggunakan oksigen saat mengunjungi fasilitas tersebut. Ia membenarkan foto itu, tetapi menyatakan tidak mengalami sesak napas. Menurutnya, penggunaan oksigen merupakan bagian dari upayanya menunjukkan fasilitas yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Kelompok Rentan Diminta Membatasi Aktivitas di Luar
Selain memperkuat fasilitas kesehatan, pemerintah mengingatkan masyarakat agar mengurangi paparan asap selama kualitas udara masih buruk. Budi secara khusus meminta balita, ibu hamil, dan lanjut usia membatasi aktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak.
Warga yang harus beraktivitas di luar ruangan juga dianjurkan menggunakan masker KN95 atau N95 dengan pemasangan yang benar untuk membantu mengurangi paparan partikel. Masyarakat yang mengalami keluhan pernapasan perlu memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan agar kondisinya dapat dinilai oleh tenaga medis.
Budi mengingatkan bahwa gangguan pernapasan yang memburuk, termasuk kondisi seperti pneumonia, memerlukan penanganan di rumah sakit. Karena itu, puskesmas tetap memiliki peran penting sebagai fasilitas pertama yang dapat didatangi warga untuk memperoleh pemeriksaan.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, melalui Gubernur Agustiar Sabran, menyatakan terus berupaya memastikan kesiapan fasilitas kesehatan serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dalam menangani dampak kabut asap.
Meski bantuan medis dan fasilitas oksigen disiapkan, upaya perlindungan kesehatan tetap perlu berjalan bersamaan dengan penanganan kebakaran. Selama asap masih menyelimuti permukiman dan kualitas udara berada pada tingkat berbahaya, pembatasan paparan serta akses cepat ke layanan kesehatan menjadi langkah penting untuk melindungi masyarakat.













