Opini  

Ketahanan Pangan Masa Depan dari Tanaman yang Terlupakan

Oleh: Ahmad Alif Riyan Mahdy, S.P., M.P.
Dosen lnstitut Pertanian STIPER Yogyakarta

Dalam beberapa waktu terakhir, informasi yang beredar di masyarakat Indonesia terus berputar-putar pada hal problematik, yaitu harga bahan pangan pokok yang terus naik, perubahan siklus cuaca yang semakin ekstrem sehingga banyak petani yang gagal panen, serta pemerintah yang terus melakukan impor dengan dalih menjaga kedaulatan pangan. Di waktu yang sama, dunia juga sedang berada di gejolak besar-besaran. Iklim di belahan dunia juga semakin sulit diprediksi, lahan produktif terus tergerus ekstrem di sebagian besar negara, dan ketegangan geopolitik meningkat sehingga mengganggu alur pasok, baik itu pangan, bahan bakar, maupun sektor fiskal.

Dari rangkaian persoalan yang beragam itu, dapat dirumuskan satu pertanyaan yang perlu dijawab bersama. Apakah kita siap menghadapi tantangan pangan yang semakin sulit diprediksi ini? Siapa yang akan menjadi aktor utama agar ketahanan pangan benar-benar terwujud? Dibutuhkan jawaban yang objektif agar ke depannya negeri ini dapat terus hidup dengan kekuatan pangannya sendiri.

Semuanya Sama, Tidak Ada yang Berbeda

Banyaknya persoalan membuat eskalasi pembahasan mengenai pangan terus meningkat. Jika ditelusuri lebih dalam, akar masalahnya terletak pada budaya ketergantungan yang tinggi terhadap jenis tanaman pangan tertentu saja. Karakter kebutuhan pangan di berbagai belahan dunia pun cenderung serupa, jika bukan beras, pilihannya adalah jagung atau gandum. Kondisi ini merepresentasikan kebijakan pangan global yang masih condong ke arah monokultur. Persoalan kian kompleks karena kebiasaan mengonsumsi nasi telah mengakar, sehingga masyarakat tidak terbiasa melirik pangan alternatif. Oleh karena itu, pembiasaan diversifikasi pangan perlu dilakukan sesegera mungkin.

Dari sisi kebijakan, kondisinya tidak jauh berbeda. Program-program yang diluncurkan pemerintah maupun pihak lain masih berfokus pada target swasembada komoditas utama dalam jangka pendek, tanpa disertai target jangka panjang yang mengintegrasikan diversifikasi pangan di dalamnya. Akibatnya, yang terlihat di permukaan hanyalah keberhasilan untuk hari ini, sementara fondasi untuk menghadapi krisis yang lebih besar di masa depan belum benar-benar disiapkan.

Kekayaan Pangan untuk Ketahanan Pangan

Di tengah situasi yang terus berubah cepat ini, sebenarnya ada satu hal baik yang belum banyak diangkat ke permukaan. Indonesia memiliki kekayaan pangan yang selama ini justru terpinggirkan. Dalam istilah global, kelompok tanaman ini disebut Neglected and Underutilized Crops. Agar lebih mudah dipahami masyarakat awam, kita bisa menyederhanakannya sebagai istilah “tanaman yang terabaikan dan kurang dimanfaatkan”. Meski jarang terdengar, tanaman ini punya kunci untuk membuka jalan keluar dari krisis pangan masa depan. Kelompok tanaman ini saya nilai mampu menjaga ketahanan pangan karena adaptif terhadap banyak cekaman lingkungan dan kaya nutrisi. Sehingga kita perlu menghidupkan kembali tradisi lama ini untuk menjadi kebiasaan baru yang menguntungkan.

Perlahan Mengubah Stigma Negatif

Dalam praktiknya, pengenalan produk dari tanaman ini masih tergolong sulit, karena masih terjebak dalam stigma masyarakat bahwa ini adalah bahan pangan yang kurang bernilai dan kurang populer. Stigma inilah yang justru menjadi penghambat lebih besar dibandingkan soal rasa dan gizinya.

Diperlukan sinergi hilirisasi produk, sehingga hasil pangan ini dapat diproduksi dan dikemas dalam bentuk yang lebih menarik. Dengan memadukan inovasi itu, misalnya diberi label sebagai makanan super food, harapannya akan terbuka jalan yang lebih lebar bagi banyak masyarakat untuk bisa lebih jauh mengenalinya. Hal ini juga perlu dibarengi dengan pembentukan ekosistem pasar yang menguntungkan, agar petani merasa mendapat “angin segar” atas apa yang mereka usahakan. Karena itu, kolaborasi antar pelaku industri dari hulu hingga hilir akan menjadi penting, sebab hasil produksi ini akan mampu bersaing dengan mutu produk pangan utama lainnya.

Potensi Luar Biasa yang Terpendam

Untuk memperjelas gagasan ini, pembahasan saya fokuskan pada tiga tanaman kelompok Neglected and Underutilized Crops yang berasal dari Indonesia atau sudah lama beradaptasi di sini. Informasi yang saya sajikan berikut merujuk pada buku “Neglected and Underutilized Crops – Future Smart Food”, yang saya peroleh dari dosen pembimbing saya semasa S1 Agroteknologi dan S2 Agronomi Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Kuswanto, M.P. yang juga menulis salah satu bab dalam buku tersebut tentang Kecipir (Winged Bean).

Pertama, ada Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus). Tanaman ini sebenarnya bukan pendatang baru, namanya mulai naik daun sejak pertengahan 1970-an. Hampir semua bagiannya mulai dari polong muda, biji, umbi, daun, sampai bunga dapat dikonsumsi. Kecipir memiliki kandungan protein yang setara dengan kedelai. Selain itu, akarnya mampu membantu menyuburkan tanah serta cukup tahan tumbuh di tanah yang agak asam. Sayangnya, potensi ini justru terhenti dan tidak kembali terekspos oleh banyak orang, karena opini publik masih menganggap kecipir sebagai tanaman biasa saja dengan masa panen yang lama 1.

Kedua, Kacang Bambara (Vigna subterranea). Kacang bambara memiliki banyak manfaat, mulai dari kandungan protein, lemak, karbohidrat, hingga profil asam amino sehingga sering disebut juga sebagai “complete food”. Tanaman ini juga dikenal tahan terhadap cekaman lingkungan yang minim unsur hara dan air. Namun, kacang bambara saat ini masih belum terlalu banyak dikenal di Indonesia, hanya di beberapa daerah saja yang masih membudayakannya. Kendala utamanya terletak pada belum tersedianya varietas unggul serta ekosistem pasar yang mampu menyerap hasil panen secara berkelanjutan 2.

Ketiga, ada Kacang Komak (Lablab purpureus). Tanaman ini sudah tersebar luas secara global sejak lama termasuk Indonesia. Kacang komak dinilai tahan terhadap cekaman kekeringan, salinitas, dan cemaran logam berat. Kandungan proteinnya pun cukup tinggi, sehingga cocok dijadikan sumber pangan, sekaligus pakan ternak dan pupuk hijauan. Meski memiliki banyak kelebihan, tanaman ini masih belum bisa naik daun sepenuhnya, karena kandungan antinutrisi yang perlu diolah dengan cara khusus dan minimnya varietas unggul 3.

Langkah Kecil dalam Kehidupan Sehari-Hari

Transisi menuju era diversifikasi pangan ini sebenarnya bisa dimulai dari lingkup yang paling kecil sekalipun. Ini bukan sekadar opini belaka, melainkan pengalaman nyata dari proses riset komoditas kecipir, kacang bambara, dan kacang komak, baik yang sudah saya lakukan maupun yang sedang berjalan. Pengalaman ini juga menjadi bagian dari pengabdian masyarakat yang saya lakukan di Perumahan Royal Janti Residence, Kota Malang, Jawa Timur pada tanggal 12 Januari 2025 lalu. Pada kesempatan itu, saya melakukan pendampingan kepada ibu-ibu PKK dalam pemberdayaan dan pemanfaatan lahan marginal, yang selanjutnya dari pengamatan kesesuaian lahan saya menilai cocok untuk salah satunya bisa ditanami kecipir.

Apa yang telah dilakukan ini menjadi wujud nyata pengenalan diversifikasi pangan, dimulai dari masing-masing individu. Harapannya, hasil dari kegiatan ini dapat dilanjutkan dan dikembangkan oleh banyak pihak, sehingga secara perlahan mampu menghapus stereotipe negatif dan keraguan masyarakat terhadap gagasan diversifikasi pangan.

Berubah untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Pada akhirnya, apa yang telah dipaparkan di atas menegaskan satu hal yaitu krisis pangan masa depan baru bisa dihadapi jika kita melakukan diversifikasi pangan sejak sekarang, bukan menunggu situasi krisis itu benar-benar datang. Oleh karena itu, peran aktif semua pemangku kepentingan sangat diperlukan, termasuk riset yang sesuai dengan kebutuhan, agar mampu menjawab tantangan dinamis tersebut. Upaya ini perlu dikenalkan kepada semua pihak, sehingga masing-masing merasa memiliki peran yang seimbang. Sebab, memanfaatkan kekayaan pangan lokal bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari kehidupan menuju kedaulatan pangan yang nyata. Mari mulai melangkah dan menghidupkan kebiasaan diversifikasi pangan untuk kebaikan bersama di masa mendatang.

Referensi

  1. Eagleton, G. E. et al. Winged bean (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.). in Neglected and Underutilized Crops – Future Smart Food (eds. Farooq, M. & Siddique, K. H. M.) 437–486 (Academic Press, 2023). doi:https://doi.org/10.1016/B978-0-323-90537-4.00022-3.
  2. Mateva, K. I. et al. Bambara groundnut (Vigna subterranea (L.) Verdc.). in Neglected and Underutilized Crops – Future Smart Food (eds. Farooq, M. & Siddique, K. H. M.) 557–615 (Academic Press, 2023). doi:https://doi.org/10.1016/B978-0-323-90537-4.00021-1.
  3. Naeem, M., Shabbir, A., Aftab, T., Masroor, M. & Khan, A. Lablab bean (Lablab purpureus L.) – An untapped resilient protein reservoir. in Neglected and Underutilized Crops – Future Smart Food (eds. Farooq, M. & Siddique, K. H. M.) 391–411 (Academic Press, 2023). doi:https://doi.org/10.1016/B978-0-323-90537-4.00018-1.

*) Penulis : Ahmad Alif Riyan Mahdy, S.P., M.P. Dosen lnstitut Pertanian STIPER
Yogyakarta

*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis

Iklan
Iklan