SUARAMALANG.COM – CEO Microsoft Satya Nadella mengingatkan perusahaan agar tidak menyerahkan terlalu banyak data dan informasi sensitif kepada layanan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Menurutnya, ketergantungan terhadap AI tanpa kendali atas data internal dapat mengancam keberlangsungan bisnis.
Nadella menilai perusahaan yang tidak memiliki kontrol penuh terhadap data dan proses penggunaan AI berisiko kehilangan pengetahuan strategis yang selama ini menjadi keunggulan kompetitif. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat membuat perusahaan sulit bertahan dalam jangka panjang.
Peringatan itu disampaikan Nadella saat membahas strategi pemanfaatan AI di lingkungan perusahaan. Ia menekankan pentingnya membangun sistem AI yang tetap menempatkan kepemilikan data di tangan organisasi.
Data Perusahaan Dinilai Menjadi Aset Paling Berharga
Menurut Nadella, perusahaan sebaiknya tidak sembarangan membagikan data maupun prompt kepada model AI yang dikelola pihak lain. Informasi tersebut merupakan bagian dari pengetahuan internal yang memiliki nilai bisnis tinggi.
“Menurut saya, perusahaan mana pun yang tidak memiliki kendali penuh atas datanya tidak akan bertahan lama. Sebab, pada dasarnya Anda telah mengalihdayakan (outsource) proses berpikir perusahaan Anda,” kata Nadella, dikutip dari Futurism, Jumat (31/7/2026).
Ia menyarankan perusahaan menyimpan seluruh data mengenai cara karyawan memanfaatkan berbagai alat AI. Data tersebut dapat dimanfaatkan untuk melatih atau menyempurnakan model AI open-weight milik perusahaan sendiri.
Dengan pendekatan tersebut, organisasi tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga tetap menguasai pengetahuan yang dihasilkan dari aktivitas bisnis sehari-hari.
Nadella Sarankan Beralih ke Platform AI yang Lebih Terbuka
Selain menjaga kepemilikan data, Nadella juga menyarankan perusahaan mengurangi ketergantungan pada layanan agentic AI berbasis closed-source. Ia mendorong penggunaan platform AI yang mampu mengintegrasikan berbagai model secara lebih fleksibel.
Menurutnya, pemisahan antara framework, model AI, konteks, dan memori akan memberikan keleluasaan bagi perusahaan untuk memilih model terbaik sesuai kebutuhan.
“Dengan memisahkan kerangka kerja (framework) dari model, serta memisahkan konteks dan memori dari model tersebut, Anda dapat menggunakan berbagai model AI sesuai keunggulannya masing-masing,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut membuat perusahaan dapat mengganti atau menghentikan penggunaan model tertentu tanpa kehilangan kendali terhadap sistem yang telah dibangun.
“Pada saat yang sama, model mana pun dapat diganti atau dihapus, sehingga Anda tetap memegang kendali atas arah dan masa depan bisnis Anda sendiri,” lanjut Nadella.
Penggunaan AI Disebut Memiliki Biaya Tersembunyi
Peringatan ini melengkapi pandangan Nadella yang sebelumnya juga menyoroti biaya tersembunyi dalam penggunaan AI. Ia menilai perusahaan tidak hanya membayar layanan AI dengan uang, tetapi juga dengan data dan pengetahuan internal.
Dalam unggahan blog yang dikutip TechCrunch, Nadella menyebut perusahaan pada dasarnya melakukan “pembayaran ganda” saat menggunakan AI komersial.
“Pada dasarnya Anda membayar dua kali: sekali dengan uang, dan sekali lagi dengan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu pengetahuan eksklusif perusahaan agar kecerdasan AI tersebut dapat bermanfaat,” ungkapnya.
Menurut Nadella, kebutuhan akan performa AI yang semakin tinggi juga akan meningkatkan jumlah informasi internal yang harus diberikan kepada model tersebut.
“Makin tinggi kinerja yang Anda harapkan dari model AI tersebut, makin banyak pula pengetahuan internal yang harus Anda serahkan kepadanya,” pungkasnya.
Meski Microsoft menjadi salah satu perusahaan yang memimpin pengembangan AI global, Nadella secara konsisten mengingatkan pentingnya tata kelola data dan strategi penggunaan AI yang berkelanjutan. Baginya, penguasaan terhadap data perusahaan akan menjadi faktor utama dalam menjaga daya saing bisnis di era AI.













