SUARAMALANG.COM, Rembang – Sebanyak 777 siswa, guru, dan tenaga kependidikan SMAN 1 Lasem mengalami gangguan kesehatan berupa diare, mual, dan muntah pada Kamis (3/9/2026).
Peristiwa tersebut terjadi sehari setelah para siswa dan guru mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan pada Rabu (2/9/2026).
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Pemerintah Kabupaten Rembang memutuskan menghentikan sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Soditan Lasem.
Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang, Fahrudin, mengatakan penghentian dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada pemerintah melakukan evaluasi sekaligus menentukan langkah penanganan selanjutnya.
“Operasionalnya mulai besok diberhentikan sementara untuk dikaji ulang dan bagaimana penanganannya selanjutnya,” ujar Fahrudin, Kamis (3/9/2026).
Fahrudin juga menyampaikan bahwa biaya perawatan bagi korban yang menjalani rawat inap maupun rawat jalan akan ditanggung oleh pihak pengelola SPPG.
“Itu biasanya masalah perawatan itu ditanggung oleh pemilik atau pengelola SPPG,” tambahnya.
752 Siswa dan 25 Guru Terdampak
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Ali Syofii, menyebut total 777 orang mengalami dampak dalam kejadian tersebut. Rinciannya terdiri dari 752 siswa dan 25 guru atau tenaga kependidikan.
Keluhan yang dialami antara lain diare, mual, dan muntah. Siswa dengan gejala ringan diperbolehkan pulang untuk menjalani perawatan di rumah, sedangkan mereka yang mengalami gejala lebih berat mendapatkan penanganan medis.
Dinas Kesehatan mencatat sejumlah pasien dari SMAN 1 Lasem sempat mendapatkan pelayanan di Puskesmas Lasem. Beberapa siswa harus menjalani rawat inap karena frekuensi diare cukup sering sehingga berpotensi menyebabkan dehidrasi.
“Dirawatnya karena dokter menilai mungkin diarenya frekuensinya sering dan potensi adanya dehidrasi. Sehingga mengambil langkah untuk dilakukan perawatan di Puskesmas,” jelas Ali.
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, mengatakan gejala mulai dirasakan siswa dan guru sekitar pukul 09.00 WIB.
Pihak sekolah kemudian melakukan pendataan di setiap kelas. Karena jumlah siswa yang mengalami diare cukup banyak, kegiatan belajar mengajar akhirnya dihentikan dan para siswa dipulangkan.
Menurut Juhartutik, SMAN 1 Lasem memiliki 1.174 siswa dan 95 guru. Dari hasil pendataan sekolah, ratusan siswa dan guru mengalami keluhan diare.
Menu MBG Diduga Berkaitan dengan Diare Massal
Kejadian tersebut diduga berkaitan dengan menu MBG yang dikonsumsi siswa dan guru sehari sebelumnya.
Menu yang dibagikan pada Rabu (2/9/2026) terdiri dari nasi putih, ayam bakar, mendoan, dan buah semangka.
Juhartutik mengungkapkan terdapat pemeriksaan terhadap makanan sebelum dibagikan. Dalam pengecekan tersebut, disebut ada ayam yang ditemukan dalam kondisi berlendir sehingga kemudian disisihkan.
“Sepertinya (gegara) MBG kemarin. Jadi gini ada tim yang mencicipi kan, ada satu itu menemukan yang berlendir, ada satu itu baik. Dan yang berlendir ini sudah disisihkan,” ungkap Juhartutik.
Ia juga menyebut makanan tersebut dimasak sekitar pukul 03.00 WIB, sedangkan dikonsumsi siswa sekitar pukul 12.00 WIB.
Namun, dugaan tersebut belum dapat dijadikan sebagai kesimpulan mengenai penyebab diare yang dialami siswa dan guru. Dinas Kesehatan masih melakukan pemeriksaan untuk memastikan sumber masalah.
Sampel Makanan Dikirim untuk Uji Laboratorium
Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang telah mengambil sampel makanan yang dibagikan dalam program MBG. Sampel tersebut akan diperiksa di Laboratorium Kesehatan Provinsi.
Pemeriksaan meliputi uji kimia dan uji bakteriologis untuk mengetahui ada atau tidaknya kontaminasi yang berkaitan dengan kejadian tersebut.
“Sementara hipotesisnya di situ. Selanjutnya kami sudah mengambil sampel. Insyaallah besok kita kirimkan ke Labkes Provinsi. Kita tunggu hasilnya untuk uji kimia dan uji bakteriologis terkait dengan kasus ini,” kata Ali.
Dengan demikian, keterkaitan antara makanan MBG dengan gangguan kesehatan yang dialami siswa dan guru masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium serta penelusuran lebih lanjut dari Dinas Kesehatan.
DPRD Rembang Tinjau Penanganan di Puskesmas
Komisi IV DPRD Rembang turut meninjau kondisi di Puskesmas Lasem setelah menerima laporan mengenai kejadian diare yang dialami ratusan siswa dan guru SMAN 1 Lasem.
Ketua Komisi IV DPRD Rembang, Muhammad Rofi’i, mengatakan pihaknya datang untuk memastikan penanganan terhadap siswa dan guru yang mengalami gejala.
Berdasarkan informasi dari pihak Puskesmas Lasem, sejumlah pasien telah mendapatkan perawatan dan sebagian di antaranya diperbolehkan pulang.
Rofi’i menegaskan DPRD belum dapat menyimpulkan penyebab kejadian tersebut. Pihaknya masih menunggu hasil penelusuran Dinas Kesehatan.
“Terkait dugaan penyebab yang sebenarnya, apakah gara-gara MBG atau tidak kita masih menunggu penelusuran dari pihak Dinkes,” ujarnya.
Penghentian sementara operasional SPPG Soditan Lasem menjadi langkah pemerintah sembari menunggu hasil pemeriksaan. Hasil uji laboratorium nantinya akan menjadi dasar untuk mengetahui penyebab kejadian dan menentukan langkah penanganan berikutnya.















