SUARAMALANG.COM – Kebiasaan memendam marah, kecewa, sedih, atau cemas tidak otomatis menyebabkan penyakit tertentu. Namun, tekanan psikologis yang berlangsung lama dapat memengaruhi berbagai sistem tubuh melalui respons stres.
Psikiater bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa otak dan tubuh memiliki hubungan biologis yang erat. Ketika seseorang mengalami stres, tubuh mengaktifkan sistem hormonal dan saraf untuk menghadapi tekanan.
Masalah dapat muncul ketika respons tersebut berlangsung terus-menerus. Stres kronis dapat memengaruhi regulasi hormon, sistem saraf, respons inflamasi, dan fungsi kekebalan tubuh.
Stres Mengaktifkan Sistem Hormon dan Saraf
Saat seseorang menghadapi tekanan, otak dapat mengaktifkan hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis dan sistem saraf simpatis. Aktivasi ini kemudian memicu pelepasan hormon serta mediator stres, termasuk kortisol dan katekolamin.
Respons tersebut sebenarnya merupakan mekanisme normal tubuh. Sistem ini membantu seseorang menjadi lebih waspada dan siap menghadapi situasi yang dianggap mengancam.
Persoalan muncul ketika tubuh terus berada dalam kondisi stres tanpa cukup waktu untuk kembali ke keadaan normal. Menurut dr. Lahargo, stres kronis dapat mengubah regulasi kortisol dan sensitivitas reseptor glukokortikoid.
Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi keseimbangan sitokin. Akibatnya, respons inflamasi dan fungsi sel imun berpotensi mengalami disregulasi.
Dengan kata lain, tekanan psikologis dapat memengaruhi otak, sistem hormonal, sistem saraf, hingga sistem kekebalan tubuh. Hubungan inilah yang menunjukkan adanya keterkaitan biologis antara kesehatan mental dan kesehatan fisik.
Memendam Emosi Bukan Penyebab Langsung Autoimun
Hubungan antara stres dan sistem kekebalan tubuh tidak berarti semua penyakit fisik muncul akibat masalah psikologis. Masyarakat juga tidak perlu menyalahkan diri sendiri ketika mengalami suatu penyakit.
Dr. Lahargo mencontohkan penyakit autoimun. Kondisi tersebut memiliki penyebab yang kompleks dan tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu faktor.
Faktor genetik, hormonal, infeksi, lingkungan, kebiasaan merokok, mikrobioma, epigenetik, serta faktor psikososial dapat berperan dalam perkembangan penyakit autoimun. Karena itu, tidak tepat menyebut seseorang mengalami autoimun hanya karena sering memendam masalah.
“Memendam emosi bukan penyebab langsung penyakit autoimun. Namun stres kronis memang dapat berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh,” jelas dr. Lahargo.
Perbedaan tersebut penting dipahami agar masyarakat tidak menganggap gangguan kesehatan sebagai akibat dari kegagalan seseorang dalam mengelola emosinya. Penyakit pada tubuh umumnya melibatkan berbagai faktor yang saling berinteraksi.
Memendam Emosi Berbeda dengan Stres Kronis
Tidak setiap orang yang menahan emosi akan mengalami gangguan kesehatan. Begitu pula, tidak semua orang yang mengalami stres berat akan mengalami penyakit tertentu.
Seseorang dapat menghadapi tekanan psikologis tanpa kemudian mengalami penyakit autoimun. Sebaliknya, seseorang juga dapat mengalami penyakit autoimun tanpa merasa memiliki stres berat atau kebiasaan memendam emosi.
Karena itu, stres lebih tepat dipandang sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi kondisi tubuh. Stres bukan penyebab tunggal dari suatu penyakit.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika tekanan psikologis berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu fungsi sehari-hari. Gangguan tidur, kecemasan atau kesedihan berat, serta masalah dalam pekerjaan dan hubungan sosial dapat menjadi tanda bahwa seseorang membutuhkan bantuan.
Cara Sehat Mengelola Emosi dan Stres
Menurut dr. Lahargo, menjaga kesehatan mental tidak berarti seseorang harus menghilangkan seluruh stres dalam hidupnya. Kemampuan untuk pulih setelah menghadapi tekanan justru menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran.
Beberapa kebiasaan dapat membantu proses tersebut, seperti tidur cukup dan teratur, melakukan aktivitas fisik sesuai kondisi kesehatan, serta menerapkan pola makan seimbang. Berhenti merokok, membatasi alkohol, dan menjaga hubungan sosial juga dapat mendukung kesehatan secara keseluruhan.
Pengelolaan emosi juga dapat dilakukan dengan berbagai cara. Latihan pernapasan, relaksasi, mindfulness, menulis jurnal, atau berbicara dengan orang yang dipercaya dapat menjadi pilihan.
Menyalurkan emosi tidak berarti seseorang harus menceritakan semua persoalan kepada orang lain. Yang penting, emosi tidak terus-menerus diabaikan dan seseorang memiliki cara yang sehat untuk mengelolanya.
Kapan Perlu Berkonsultasi dengan Profesional?
Stres perlu mendapat perhatian lebih ketika mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Kondisi seperti sulit tidur berkepanjangan, kecemasan atau kesedihan yang berat, serta kesulitan menjalankan pekerjaan dan menjaga hubungan sosial tidak sebaiknya dibiarkan.
Jika tekanan sulit dikendalikan sendiri, berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat. Bantuan profesional dapat membantu seseorang memahami sumber tekanan sekaligus menemukan strategi pengelolaan yang sesuai.
Dengan demikian, memendam emosi tidak dapat disebut sebagai penyebab langsung penyakit fisik tertentu. Namun, mengelola stres secara sehat tetap penting karena tekanan psikologis yang berlangsung lama dapat memengaruhi berbagai proses biologis dalam tubuh.
















