SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Penyampaian aspirasi di Gedung DPRD Kabupaten Malang berujung laporan polisi. Anggota DPRD Kabupaten Malang, Zulham Mubarok, mengaku menjadi korban kekerasan saat berupaya meredakan ketegangan.
Politisi Fraksi PDI Perjuangan itu mengaku mendapat serangan fisik dari seorang warga. Zulham menyebut kepalanya dibenturkan hingga tujuh kali ke bagian wajah dan kepala.
Insiden tersebut membuat Zulham mengalami luka pada bibir dan benjolan di sejumlah bagian kepala. Ia kemudian menjalani rawat inap di RSUD Kanjuruhan untuk menjalani pemeriksaan medis.
Tim medis melakukan CT Scan dan observasi terhadap Zulham. Pemeriksaan juga mempertimbangkan riwayat vertigo yang dimiliki anggota dewan tersebut.
Ketegangan Bermula dari Penyampaian Aspirasi
Menurut Zulham, kericuhan bermula ketika warga bernama Hadi Wiyono alias Pak Dur (48) datang ke DPRD Kabupaten Malang sekitar pukul 14.00 WIB.
Pak Dur datang bersama seorang rekannya untuk menyerahkan surat kepada DPRD. Mereka juga mendesak pembukaan akses jalan Bendungan Lahor selama 24 jam.
Aspirasi tersebut kemudian diterima Dofic Soroanggomo dari Fraksi Golkar dan Alaik Mubarok dari Fraksi Gerindra. Keduanya merupakan anggota dewan dari daerah pemilihan setempat.
Pertemuan awalnya berjalan sebagai ruang penyampaian aspirasi. Namun, situasi berubah ketika pembicaraan antara warga dan anggota dewan mulai memanas.
Zulham menyebut Pak Dur melontarkan tuduhan serta umpatan dengan nada tinggi. Situasi kemudian semakin tegang hingga pertemuan bergeser ke luar gedung DPRD.
“Awalnya tidak ada debat apa pun dengan saya, santai. Tapi situasi emosi ketika yang bersangkutan menuduh Mas Dofiq sambil marah-marah dan mengumpat. Akhirnya semua berdiri dan keluar ke depan,” ujar Zulham, Jumat (11/9/2026).
Zulham Mengaku Diserang Saat Mencoba Menenangkan Situasi
Zulham mengatakan dirinya turun tangan setelah Ketua DPRD Kabupaten Malang Darmadi meminta bantuan untuk menenangkan situasi.
Ia mengaku tidak datang untuk berdebat dengan warga tersebut. Namun, upaya mengajak Pak Dur berbicara justru berujung kontak fisik.
“Niat saya melerai, tapi malah diumpat. Begitu saya tanya dengan nada tinggi, dia langsung membenturkan kepalanya ke saya,” ungkap Zulham.
Zulham menyebut serangan tersebut terjadi hingga tujuh kali. Ia juga mengaku menerima lemparan botol air mineral setelah benturan tersebut.
Menurut pengakuannya, serangan itu mengarah ke bagian wajah dan kepala. Akibat kejadian tersebut, Zulham harus mendapat perawatan medis.
Laporan Polisi dan Visum
Setelah memperoleh perawatan, Zulham melaporkan kejadian tersebut ke Polres Malang. Ia juga menjalani visum untuk mendukung laporan yang telah dibuat.
Zulham berharap aparat penegak hukum memproses laporan tersebut hingga tuntas. Ia menilai perbedaan pendapat tidak seharusnya berujung pada tindakan kekerasan.
“Saya menjalankan tugas negara menemui masyarakat, tetapi justru mendapat tindakan kekerasan. Saya mohon keadilan. Menyampaikan pendapat tidak boleh dengan cara arogan,” tegas Zulham.
LIRA Soroti Cara Penyampaian Aspirasi
Insiden tersebut juga mendapat sorotan dari Bupati LIRA Malang, Wiwid Tuhu P. Ia menilai penyampaian aspirasi tetap harus mengedepankan etika dan sikap saling menghormati.
Menurut Wiwid, perbedaan pandangan tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan serangan fisik maupun tindakan yang merugikan pihak lain.
“Itu menciderai demokrasi, dan seperti mengubur nilai yang sedang digagas,” ujar Wiwid.
Wiwid menilai negara perlu memastikan proses hukum berjalan secara objektif. Ia meminta aparat mengusut seluruh rangkaian peristiwa tanpa mengabaikan fakta yang muncul dari masing-masing pihak.
“Dalam hal ini negara harus hadir netral dengan mengusut dugaan pidana dalam rangkaian peristiwa yang terjadi,” pungkasnya.














