Regenerasi Sepak Bola Tak Bisa Instan, Asifa Malang Buka Akses Talenta Usia Dini

SUARAMALANG.COM, Malang — Regenerasi sepak bola Indonesia membutuhkan jalur panjang sejak anak mengenal bola. Proses itu menuntut pembinaan terukur, pelatih berkualitas, kompetisi sesuai usia, serta akses yang terbuka.

Kebutuhan tersebut mendorong Aji Santoso International Football Academy (Asifa) Malang memperluas pembinaan pemain usia dini. Asifa kini membuka kelas baru untuk kelompok usia 9-10 tahun.

Langkah tersebut tidak sekadar menambah kelas latihan. Asifa ingin membuka pintu pembinaan bagi lebih banyak anak di Malang dan sekitarnya.

Asifa Dorong Pembinaan Sebelum Spesialisasi

Direktur Operasional Asifa, Nuzul Kifli, menilai anak perlu menikmati sepak bola sebelum masuk tahap spesialisasi. Menurutnya, pengalaman awal tersebut menjadi fondasi penting dalam perkembangan pemain.

“Kelas baru kami buat untuk membuka ruang selebar mungkin untuk warga Malang dan sekitarnya terutama untuk bisa berkembang,” ujar Nuzul Kifli.

Ia menilai anak perlu mengenal cara bermain sepak bola dengan baik sejak usia dini. Namun, proses itu tetap harus menjaga kesenangan anak dalam berolahraga.

“Usia sedini mungkin anak-anak harus dikenalkan bagaimana main bola yang baik. Supaya lebih senang dan enjoy bermain sepak bola sebelum spesialisasi,” lanjutnya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan pembinaan sepak bola modern. FIFA mencatat Indonesia mulai memperkuat pengembangan grassroots melalui sejumlah program bersama PSSI.

Program FIFA Football for Schools telah menjangkau seluruh 38 provinsi Indonesia. Sementara itu, FIFA Talent Development Scheme membantu memperkuat identifikasi dan pengembangan pemain muda.

Baca Juga:  Arsenal vs AC Milan di Singapura: Adu Strategi dan Debut Bintang Baru di Laga Pramusim 2025

PSSI juga mengembangkan platform All-Scout untuk membantu identifikasi pemain usia 13-18 tahun. Sistem tersebut mempertimbangkan aspek psikologis atau sosial, taktik, teknik, dan fisik.

Beasiswa Buka Peluang bagi Talenta

Persoalan pembinaan tidak berhenti pada kualitas latihan. Biaya juga menjadi tantangan ketika seorang anak harus menjalani proses pembinaan selama bertahun-tahun.

Asifa membuka peluang beasiswa olahraga bagi pemain yang memenuhi standar kemampuan dari tim scouting. Skema tersebut memberi kesempatan kepada talenta yang memiliki kemampuan, tetapi menghadapi keterbatasan akses.

“Untuk beasiswa terbuka bagi seluruh talenta muda. Kami ada ambang batas tertentu kompetensi pemain,” kata Nuzul.

Ia menjelaskan Asifa akan menilai kemampuan pemain sebelum menentukan penerima beasiswa. Pemain yang memenuhi standar dapat memperoleh dukungan pembinaan dari akademi.

Hingga kini, 44 anak tercatat sudah mendaftar kelas usia 9-10 tahun tersebut. Asifa masih membuka peluang bagi peserta baru untuk bergabung.

“Targetnya kita sebanyak-banyaknya, sejauh ini ada 44 siswa yang sudah mendaftar, dan bakal terus bertambah,” ujar Nuzul.

Menurutnya, tantangan olahraga usia muda juga muncul dari semakin kuatnya daya tarik aktivitas digital. Karena itu, pembinaan sepak bola dapat menjadi ruang bagi anak untuk tetap aktif sekaligus membangun karakter.

Baca Juga:  Bongkar Pasang Pemain Asing Arema FC Berlanjut, Ian Puleio Resmi Angkat Kaki

“Kami harap dengan kelas ini dapat membangun generasi muda yang kuat dan sportif dengan olahraga,” pungkasnya.

Regenerasi pemain pada akhirnya tidak cukup mengandalkan pusat latihan nasional. Indonesia tetap membutuhkan akademi dan sekolah sepak bola daerah yang mampu menjaga aliran talenta dari grassroots menuju level elite.

FIFA mencatat National Training Centre PSSI di Ibu Kota Nusantara memiliki luas 34,52 hektare. Fasilitas tersebut mendapat dukungan FIFA Forward senilai 5,4 juta dolar AS dan investasi pemerintah Indonesia.

Namun, fasilitas nasional membutuhkan pasokan pemain dari berbagai daerah. Karena itu, pembinaan seperti yang dilakukan Asifa dapat mengambil peran pada lapisan paling awal dalam perjalanan seorang pemain.

Sebab, pemain profesional tidak muncul ketika memasuki level senior. Mereka tumbuh dari latihan pertama, kompetisi usia muda, pelatih, lingkungan, serta kesempatan untuk berkembang secara konsisten.