Tekno  

Techtember 2026: Perang Chipset AI dan Adu Fitur On-Device di Smartphone Flagship

SUARAMALANG.COM, TEKNO – September kembali menjadi salah satu periode paling ramai bagi industri smartphone flagship. Namun, persaingan tahun ini tidak hanya berkutat pada kamera, desain bodi, atau angka performa. Kecerdasan artifisial (AI) yang diproses langsung di perangkat atau on-device AI semakin menjadi bagian penting dari strategi produsen.

Perubahan tersebut terlihat dari generasi chipset flagship yang membawa kemampuan pemrosesan AI semakin besar. Apple menghadirkan A20 Pro pada iPhone 18 Pro, Qualcomm memperkenalkan Snapdragon 8 Elite Gen 5, sementara MediaTek membawa Dimensity 9500 untuk generasi smartphone flagship berikutnya.

Istilah Techtember sendiri lebih tepat dipahami sebagai sebutan informal untuk ramainya peluncuran dan pemberitaan teknologi pada September, bukan nama resmi sebuah agenda industri. Yang menarik, fokus kompetisi pada periode ini semakin bergeser dari sekadar spesifikasi menuju kemampuan AI yang benar-benar terasa dalam penggunaan sehari-hari.

Chipset Kini Bukan Sekadar Mengejar CPU dan GPU

Pada generasi smartphone sebelumnya, performa sering kali dijelaskan melalui kecepatan CPU, kemampuan GPU, jumlah inti, atau skor benchmark. Kini, ada komponen lain yang semakin mendapat perhatian, yakni Neural Processing Unit (NPU) atau akselerator AI.

NPU merupakan bagian dari sistem komputasi yang dirancang untuk menangani beban kerja AI secara lebih efisien. Beban tersebut dapat berupa pengenalan suara, pemrosesan bahasa, analisis gambar, hingga menjalankan model AI generatif berukuran tertentu.

Konsep on-device AI berarti sebagian pemrosesan tersebut berlangsung langsung di smartphone, bukan seluruhnya dikirim ke server cloud. Google, misalnya, menyediakan Gemini Nano melalui sistem Android AICore agar model AI tertentu dapat berjalan tanpa koneksi jaringan dan tanpa harus mengirim data ke cloud untuk setiap proses.

Perubahan ini membuat kemampuan AI pada smartphone semakin bergantung pada kombinasi antara chipset, model AI, sistem operasi, dan aplikasi. Dengan kata lain, nama chipset saja tidak lagi cukup untuk menggambarkan pengalaman AI sebuah ponsel.

Apple Membawa A20 Pro dan Neural Engine Generasi Baru

Apple menjadi salah satu pemain yang paling jelas memperlihatkan arah tersebut melalui iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max yang diperkenalkan pada September 2026.

Kedua perangkat tersebut menggunakan A20 Pro yang dibuat dengan proses 2 nanometer. Apple menyebut chipset ini memiliki Neural Engine baru dengan dua blok 16-core, sehingga total terdapat 32 core Neural Engine. Perusahaan juga menyatakan kemampuan pemrosesan AI di perangkat meningkat dibandingkan A19 Pro.

Peningkatan tersebut diarahkan untuk menjalankan berbagai kemampuan Apple Intelligence secara lebih lokal. Apple sendiri menggunakan pendekatan gabungan: model tertentu berjalan langsung di perangkat, sementara permintaan yang lebih kompleks dapat dialihkan ke Private Cloud Compute.

Pada arsitektur tersebut, Apple menyatakan data pribadi pengguna yang diproses melalui Private Cloud Compute tidak disimpan atau dapat diakses oleh Apple. Dengan demikian, pendekatan Apple bukan berarti seluruh AI harus berjalan tanpa cloud, melainkan membagi beban antara perangkat dan cloud berdasarkan kebutuhan komputasi.

Untuk memahami pendekatan tersebut secara lebih lengkap, Apple menjelaskan arsitektur Apple Intelligence dan Private Cloud Compute melalui dokumentasi resminya.

Snapdragon 8 Elite Gen 5 Dorong AI yang Lebih Personal

Di kubu Android, Qualcomm membawa Snapdragon 8 Elite Gen 5 sebagai platform flagship generasi terbaru.

Qualcomm menempatkan kemampuan on-device AI dan agentic AI sebagai salah satu fitur penting chipset tersebut. Perusahaan menyebut platform ini menggunakan Hexagon NPU yang 37 persen lebih cepat, disertai kemampuan pembelajaran AI di perangkat dan fitur seperti Personal Knowledge Graph serta Personal Scribe.

Konsep agentic AI membuat AI tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi berpotensi memahami konteks dan menjalankan tindakan sesuai perintah pengguna. Qualcomm menggambarkan pendekatan tersebut sebagai asisten yang dapat menyesuaikan diri dengan kebiasaan, preferensi, dan percakapan pengguna, dengan pemrosesan data tertentu tetap berlangsung di perangkat.

Baca Juga:  Darurat Judi Online: Kominfo Lakukan Pemblokiran Masif terhadap 1 Juta Konten

Bagi pengguna smartphone, perkembangan ini dapat mengubah fungsi AI dari sekadar fitur tambahan menjadi lapisan yang bekerja di berbagai aplikasi. Namun, seberapa jauh kemampuan tersebut dapat digunakan tetap bergantung pada sistem operasi, aplikasi, model AI, serta kebijakan masing-masing produsen.

MediaTek Dimensity 9500 Fokus pada AI dan Efisiensi

MediaTek juga memperkuat persaingan dengan Dimensity 9500. Chipset ini diperkenalkan pada September 2025 sebagai platform flagship dengan fokus pada AI di perangkat, performa komputasi, pemrosesan gambar, gaming, dan efisiensi daya.

MediaTek menyebut Dimensity 9500 dirancang untuk menjalankan pengalaman AI generatif di perangkat sekaligus meningkatkan efisiensi pemrosesan. Platform tersebut menggunakan arsitektur CPU All Big Core generasi ketiga dan membawa peningkatan pada kemampuan komputasi serta pemrosesan AI.

Yang perlu diperhatikan, kemampuan AI pada sebuah smartphone tidak otomatis sama hanya karena menggunakan chipset yang sama. Produsen masih dapat memilih model AI, mengatur fitur yang tersedia, dan menentukan bagian mana yang berjalan secara lokal atau melalui cloud.

On-Device AI Tidak Selalu Berarti Tanpa Internet

Istilah on-device AI sering kali disalahartikan sebagai seluruh fitur AI dapat digunakan tanpa koneksi internet. Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Beberapa model AI memang dapat berjalan secara lokal tanpa koneksi jaringan. Namun, fitur yang membutuhkan model lebih besar, informasi terbaru dari internet, layanan cloud, atau pemrosesan kompleks masih dapat membutuhkan koneksi.

Apple, misalnya, secara eksplisit menggunakan kombinasi pemrosesan di perangkat dan Private Cloud Compute. Google juga membedakan penggunaan model on-device seperti Gemini Nano dari layanan AI berbasis cloud yang memiliki kemampuan lebih besar.

Karena itu, ketika produsen menyebut sebuah smartphone memiliki kemampuan AI lokal, pembaca perlu melihat fitur apa yang benar-benar berjalan di perangkat. Tidak semua fungsi dengan label AI otomatis diproses oleh NPU tanpa koneksi internet.

Privasi Menjadi Bagian dari Persaingan AI

Semakin banyak aktivitas AI yang melibatkan data pribadi, semakin penting pula pertanyaan mengenai ke mana data tersebut diproses.

Foto pribadi, rekaman suara, dokumen, isi pesan, lokasi, dan informasi dari berbagai aplikasi dapat menjadi konteks yang digunakan sistem AI. Pemrosesan langsung di perangkat dapat mengurangi kebutuhan untuk mengirim sebagian data tersebut ke server.

Google menjelaskan bahwa Gemini Nano dapat digunakan untuk pengalaman AI tertentu tanpa perlu jaringan atau mengirim data ke cloud. Android AICore juga dirancang untuk menjalankan model AI di perangkat dengan latensi rendah dan mendukung perlindungan privasi melalui pemrosesan lokal.

Samsung juga memberikan opsi kepada pengguna perangkat Galaxy tertentu untuk menentukan apakah data AI diproses di perangkat atau melalui cloud. Pengaturan tersebut dapat ditemukan pada menu Galaxy AI, meski jenis fitur yang dapat diproses secara lokal maupun cloud berbeda menurut perangkat dan versi perangkat lunak.

Artinya, privasi mulai menjadi bagian dari pengalaman AI yang dapat dikendalikan pengguna, bukan hanya klaim teknis yang berada di balik chipset.

Xiaomi dan Android Ikut Membentuk Ekosistem AI Lokal

Xiaomi juga mengembangkan kemampuan AI melalui HyperOS dan integrasi dengan ekosistem Google. Pada perangkat tertentu, perusahaan menawarkan fitur seperti AI Search yang menggunakan algoritma di perangkat untuk menganalisis data lokal.

Xiaomi juga mengembangkan pendekatan Private Cloud Compute dengan Confidential Computing dari Google Cloud untuk kebutuhan AI yang memerlukan pemrosesan cloud. Pendekatan tersebut menunjukkan pola yang semakin umum di industri: pekerjaan AI dibagi antara perangkat dan cloud berdasarkan kebutuhan fitur.

Baca Juga:  Raksasa Akuisisi Amazon, Thrasio, Mengalami Kebangkrutan Setelah Menghabiskan Rp 53 Triliun

Di sisi Android secara lebih luas, perkembangan Gemini Nano dan AICore menunjukkan bahwa kemampuan AI lokal tidak hanya menjadi fitur eksklusif satu merek. Google bahkan telah mempersiapkan Gemini Nano generasi berikutnya berbasis Gemma 4 untuk perangkat yang mendukungnya.

Apa Dampaknya bagi Pengguna Smartphone?

Bagi konsumen, perang chipset AI sebenarnya bukan tentang siapa yang memiliki jumlah inti NPU paling banyak. Yang lebih penting adalah bagaimana kemampuan tersebut diterjemahkan menjadi fungsi yang berguna.

  • Respons lebih cepat: tugas AI tertentu tidak harus menunggu perjalanan data ke server dan kembali ke perangkat.
  • Penggunaan offline: beberapa fitur AI tetap dapat bekerja tanpa koneksi internet jika model dan aplikasinya mendukung.
  • Privasi lebih terkontrol: data tertentu dapat diproses secara lokal tanpa harus dikirim ke server.
  • Efisiensi: akselerator khusus AI dirancang menangani beban kerja tertentu dengan konsumsi daya yang lebih efisien dibandingkan jika seluruh pekerjaan dibebankan kepada CPU.
  • Fitur yang lebih kontekstual: AI dapat memanfaatkan informasi yang tersedia di perangkat untuk membantu tugas seperti merangkum, menerjemahkan, mencari informasi, atau mengolah foto.

Namun, keunggulan tersebut tetap bergantung pada implementasi. Smartphone dengan chipset AI yang kuat belum tentu memberikan pengalaman AI yang lebih berguna jika fitur perangkat lunaknya terbatas atau tidak tersedia dalam bahasa dan wilayah pengguna.

Perang Smartphone Flagship Bergeser dari Spesifikasi ke Pengalaman

Perubahan arah ini membuat persaingan smartphone flagship semakin sulit diukur hanya melalui tabel spesifikasi.

Beberapa tahun lalu, konsumen dapat membandingkan kamera melalui resolusi sensor, performa melalui benchmark, atau layar berdasarkan tingkat kecerahan. Sekarang, pertanyaan yang muncul menjadi lebih kompleks: apakah fitur AI benar-benar berjalan di perangkat, apakah membutuhkan internet, data apa yang diproses, berapa lama prosesnya, dan apakah fitur tersebut tersedia di Indonesia?

Chipset seperti A20 Pro, Snapdragon 8 Elite Gen 5, dan Dimensity 9500 menunjukkan bahwa kemampuan AI sudah menjadi salah satu bagian penting dari desain platform smartphone flagship. Namun, perbedaan pengalaman pengguna pada akhirnya ditentukan oleh kombinasi hardware, model AI, sistem operasi, aplikasi, serta kebijakan privasi masing-masing ekosistem.

AI Lokal Bisa Menjadi Standar Baru Smartphone Flagship

Gelombang Techtember 2026 menunjukkan bahwa AI pada smartphone mulai bergerak dari fitur pelengkap menjadi bagian dari fondasi perangkat.

Apple mengembangkan kombinasi model on-device dan Private Cloud Compute. Qualcomm mendorong kemampuan AI yang lebih personal melalui Snapdragon 8 Elite Gen 5. MediaTek memperkuat pemrosesan AI pada Dimensity 9500, sementara Google membangun fondasi AI lokal melalui Gemini Nano dan AICore di Android.

Bagi pengguna, perubahan tersebut berarti nilai sebuah smartphone flagship ke depan tidak cukup dinilai dari kamera atau kecepatan prosesor. Kemampuan AI yang cepat, efisien, dapat bekerja secara lokal, dan memiliki kontrol privasi yang jelas akan semakin menentukan pengalaman menggunakan perangkat.

Dengan demikian, perang chipset AI bukan semata-mata perlombaan angka performa. Pertarungan sebenarnya berada pada bagaimana setiap produsen mengubah kemampuan komputasi lokal menjadi fitur yang benar-benar membantu pengguna tanpa mengorbankan efisiensi dan kendali atas data pribadi.