SUARAMALANG.COM, Jawa Timur – Agustus menjadi bulan paling kering bagi sebagian besar wilayah Jawa Timur pada musim kemarau 2026. Namun, masyarakat belum bisa menganggap September sebagai tanda kemarau berakhir.
Data BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur menunjukkan puncak kemarau tidak datang bersamaan. Sebagian wilayah baru menghadapi periode terkering pada September.
Agustus Jadi Bulan Paling Kering
BMKG membagi Jawa Timur ke dalam 74 Zona Musim atau ZOM. Dari jumlah tersebut, 53 ZOM menghadapi puncak kemarau pada Agustus.
Jumlah itu mencapai 71,6 persen dari seluruh ZOM di Jawa Timur. Sebanyak 12 ZOM lainnya baru mencapai puncak kemarau pada September.
BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur menyebut, “Puncak Musim Kemarau 2026 diprediksi dominan terjadi pada bulan Agustus 2026.”
September Masih Jadi Periode Kritis
Data tersebut membuat September tetap menarik perhatian. Sebab, 12 ZOM masih menghadapi puncak kemarau pada bulan tersebut.
Artinya, hujan yang mulai muncul di sejumlah daerah tidak otomatis mengakhiri kemarau seluruh Jawa Timur. Kondisi tiap wilayah tetap mengikuti karakter Zona Musim masing-masing.
BMKG mendefinisikan puncak kemarau sebagai periode dengan curah hujan terendah selama tiga dasarian berturut-turut. Dasarian sendiri mencakup periode sepuluh hari.
Malang Punya Cerita Berbeda
Kondisi tersebut juga berlaku di wilayah Malang. Kota Malang masuk wilayah yang menghadapi puncak kemarau pada Agustus.
Namun, beberapa kawasan Kabupaten Malang memiliki periode puncak yang berbeda. Karena itu, warga Kabupaten Malang tidak bisa memakai kondisi Kota Malang sebagai patokan tunggal.
Perbedaan tersebut menunjukkan satu hal penting. Kalender tidak bisa menjadi satu-satunya patokan untuk membaca akhir kemarau.
Kemarau 2026 Tak Boleh Diremehkan
BMKG juga mengingatkan adanya potensi kemarau yang lebih kering pada 2026. Kondisi tersebut berkaitan dengan perkembangan El Niño yang perlu mendapat perhatian.
BMKG memprediksi peluang El Niño lemah mencapai 100 persen. Peluang El Niño moderat juga mencapai 98 persen dalam pemutakhiran Juni 2026.
Situasi itu dapat memperpanjang persoalan kekeringan di sejumlah wilayah. Pemerintah daerah perlu menjaga ketersediaan air sekaligus mengantisipasi dampak pada pertanian.
Ancaman lain juga muncul dari panjangnya hari tanpa hujan. BMKG mencatat sejumlah wilayah Indonesia mengalami periode tanpa hujan hingga kategori ekstrem panjang.
Jadi, September atau Agustus?
Jika pertanyaannya puncak kemarau Jawa Timur secara umum, jawabannya jelas: Agustus 2026. BMKG menempatkan 53 dari 74 ZOM pada puncak kemarau bulan tersebut.
Namun, September tetap menyimpan risiko. Sebanyak 12 ZOM masih menghadapi puncak kemarau pada bulan itu.
Karena itu, September bukan tepat disebut sebagai puncak kemarau Jatim. Istilah yang lebih tepat ialah periode lanjutan yang masih menyimpan risiko kekeringan di sejumlah wilayah.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat sebaiknya tidak buru-buru menganggap kemarau selesai ketika kalender memasuki September. Hujan yang turun di satu wilayah belum tentu menandai perubahan musim di wilayah lainnya.













