BEM Malang Raya Ingatkan Bahaya Narasi yang Berpotensi Adu Domba dalam Polemik MBG

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Polemik seputar pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Malang terus memunculkan beragam respons. Setelah kemunculan sejumlah spanduk dukungan terhadap program tersebut menjadi sorotan, Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Malang Raya turut angkat bicara.

Aktivis mahasiswa yang tergabung dalam BEM Malang Raya, Wahyuddin Fahrurrijal, menegaskan bahwa pihaknya menghormati setiap bentuk dukungan masyarakat terhadap program pemerintah. Menurutnya, dukungan terhadap MBG merupakan hak yang dilindungi dalam sistem demokrasi.

Namun demikian, Wahyu menyayangkan adanya narasi pada sejumlah spanduk yang dinilai berpotensi memecah belah masyarakat. Terlebih jika pesan yang disampaikan mengarah pada penyudutan kelompok tertentu, termasuk mahasiswa.

“Kami berpandangan bahwa aksi yang mendukung Program Makan Bergizi Gratis adalah hal yang sah dalam demokrasi. Namun narasi yang berpotensi mengadu domba tentu perlu disayangkan,” ujarnya.

Kritik Mahasiswa untuk Perbaikan Kebijakan

Wahyu menjelaskan bahwa mahasiswa memiliki fungsi kontrol terhadap berbagai kebijakan publik yang dijalankan pemerintah. Karena itu, kritik yang disampaikan tidak seharusnya dimaknai sebagai bentuk penolakan terhadap program yang bertujuan membantu masyarakat.

Menurutnya, kritik yang muncul justru bertujuan memastikan pelaksanaan kebijakan berjalan sesuai prinsip transparansi, akuntabilitas, dan tepat sasaran. Mahasiswa, kata dia, berkepentingan agar program yang menggunakan anggaran negara dapat memberikan manfaat maksimal kepada masyarakat.

Ia menegaskan bahwa gerakan mahasiswa selama ini selalu mengedepankan pendekatan intelektual dalam menyampaikan aspirasi. Berbagai kritik yang disampaikan dilakukan melalui kajian, diskusi, hingga aksi penyampaian pendapat yang dijamin oleh undang-undang.

“Kami sangat menghindari konflik horizontal karena tujuan kami adalah memperjuangkan kepentingan masyarakat,” katanya.

Dorong Dialog yang Sehat

Lebih lanjut, Wahyu berharap perbedaan pandangan terkait Program Makan Bergizi Gratis tidak berkembang menjadi konflik antar kelompok masyarakat. Ia menilai dukungan maupun kritik terhadap kebijakan publik merupakan bagian yang wajar dalam kehidupan demokrasi.

Karena itu, seluruh pihak diharapkan dapat mengedepankan dialog yang sehat dan saling menghormati perbedaan pendapat. Menurutnya, ruang demokrasi akan berjalan baik apabila setiap pihak fokus pada substansi persoalan, bukan membangun narasi yang berpotensi memecah persatuan masyarakat.

Ia juga menekankan bahwa mahasiswa akan terus menjalankan fungsi kontrol sosial secara konstruktif. Tujuannya agar setiap kebijakan publik, termasuk Program Makan Bergizi Gratis, dapat dilaksanakan secara transparan, tepat sasaran, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Iklan
Iklan