Burnout atau Depresi? Kenali Bedanya Saat Tekanan Kerja Makin Berat

Tekanan pekerjaan yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan mental. Mengenali tanda burnout dan depresi membantu seseorang menentukan kapan membutuhkan jeda atau bantuan profesional. (Foto: Ilustrasi)

SUARAMALANG.COM – Rasa lelah setelah bekerja merupakan hal yang wajar. Namun, ketika kelelahan berubah menjadi kehilangan energi berkepanjangan, menjauh dari pekerjaan, sulit menikmati aktivitas yang biasanya disukai, atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, persoalannya perlu mendapat perhatian lebih serius.

Istilah burnout semakin sering muncul di tengah budaya kerja yang menuntut seseorang selalu produktif. Masalahnya, burnout kerap disamakan dengan depresi, padahal keduanya memiliki karakteristik yang berbeda dan membutuhkan penanganan yang tidak selalu sama.

Mengenali perbedaannya penting agar seseorang tidak menganggap semua kelelahan sebagai sekadar kurang istirahat. Sebaliknya, seseorang juga tidak perlu buru-buru menyimpulkan dirinya mengalami depresi hanya karena sedang mengalami tekanan pekerjaan.

Burnout Berkaitan Erat dengan Tekanan Pekerjaan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan burnout dalam ICD-11 sebagai fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan, bukan sebagai kondisi medis atau diagnosis penyakit. WHO mendefinisikannya sebagai sindrom yang muncul akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola.

WHO menggambarkan burnout melalui tiga karakteristik utama. Pertama, rasa kehabisan energi atau kelelahan; kedua, meningkatnya jarak mental terhadap pekerjaan atau munculnya sikap negatif dan sinis terhadap pekerjaan; ketiga, berkurangnya efektivitas profesional.

Artinya, seseorang yang mengalami burnout dapat merasa sangat terkuras setelah menghadapi tekanan kerja terus-menerus. Ia mungkin mulai kehilangan motivasi terhadap pekerjaan, mudah sinis terhadap tugas atau lingkungan kerja, serta merasa kemampuannya menurun.

Tekanan pekerjaan yang berlangsung lama memang dapat menjadi salah satu faktor risiko burnout. WHO mencatat tekanan waktu, jam kerja panjang, kurangnya kendali terhadap pekerjaan, serta minimnya dukungan sebagai sejumlah risiko psikososial di tempat kerja.

Lalu Apa Bedanya dengan Depresi?

Depresi memiliki cakupan yang lebih luas daripada persoalan pekerjaan. WHO menjelaskan depresi sebagai gangguan mental yang berbeda dari perubahan suasana hati biasa dan perasaan sedih yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Gejalanya dapat berupa suasana hati depresif, kehilangan minat atau kesenangan terhadap berbagai aktivitas, energi yang rendah, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kesulitan berkonsentrasi, perasaan tidak berharga atau putus asa, hingga pikiran tentang kematian atau bunuh diri.

Perbedaan penting lainnya terletak pada ruang lingkup dampaknya. Burnout secara khusus berkaitan dengan konteks pekerjaan, sedangkan depresi dapat memengaruhi hubungan dengan keluarga, kehidupan sosial, pekerjaan, serta aktivitas sehari-hari lainnya.

Karena gejalanya dapat saling beririsan, seseorang tidak seharusnya menentukan sendiri apakah dirinya mengalami burnout atau depresi hanya berdasarkan satu atau dua tanda. Diagnosis membutuhkan penilaian tenaga kesehatan.

Tanda Lelah Biasa, Burnout, dan Depresi Tidak Sama

Lelah setelah menyelesaikan pekerjaan berat biasanya membaik setelah seseorang memperoleh tidur cukup, waktu istirahat, atau jeda dari rutinitas. Aktivitas yang menyenangkan juga masih dapat membantu mengembalikan energi.

Baca Juga:  They.we: Rahasia Kulit Cerah Berkilau dan Aroma Unikuntuk Remaja Percaya Diri

Pada burnout, masalah lebih banyak terasa dalam kaitannya dengan pekerjaan. Seseorang dapat tetap menjalankan aktivitas di luar pekerjaan, tetapi merasa sangat terkuras ketika harus kembali menghadapi tugas, lingkungan, atau tuntutan pekerjaannya.

Sementara itu, depresi dapat membuat seseorang kehilangan minat terhadap berbagai aktivitas yang sebelumnya menyenangkan. Gangguan tidur, perubahan nafsu makan, sulit berkonsentrasi, rasa tidak berharga, dan kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari juga dapat muncul.

Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukan hanya “seberapa lelah saya?”, tetapi juga “seberapa jauh kondisi ini mengubah kehidupan saya?”

Kapan Saatnya Tidak Cukup Hanya Self-Care?

Perawatan diri dapat menjadi langkah awal ketika seseorang mengalami tekanan ringan. Tidur yang cukup, aktivitas fisik, makan secara teratur, mengurangi aktivitas yang tidak perlu, melakukan kegiatan yang menyenangkan, serta tetap terhubung dengan orang terdekat dapat membantu menjaga kesehatan mental.

Namun, self-care bukan pengganti pertolongan profesional ketika gejala terus berlangsung atau semakin berat. National Institute of Mental Health (NIMH) menyarankan mencari bantuan profesional ketika gejala yang mengganggu berlangsung selama dua minggu atau lebih, terutama jika mulai menghambat aktivitas sehari-hari.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain kesulitan tidur, perubahan nafsu makan atau berat badan, sulit bangun karena kondisi suasana hati, sulit berkonsentrasi, kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya disukai, serta kesulitan menyelesaikan tugas sehari-hari.

Kementerian Kesehatan RI juga mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu sampai masalah kesehatan jiwa berkembang menjadi krisis. Perubahan pada tidur, energi, berat badan, emosi, konsentrasi, kecemasan, maupun aktivitas yang berlangsung konsisten perlu mendapat perhatian.

Psikolog atau Psikiater, Harus ke Mana?

Psikolog dan psikiater sama-sama dapat berperan dalam penanganan masalah kesehatan mental, tetapi memiliki kompetensi dan pendekatan yang berbeda. Psikolog dapat memberikan asesmen psikologis dan psikoterapi, sedangkan psikiater merupakan dokter spesialis yang dapat melakukan diagnosis medis dan memberikan pengobatan, termasuk obat apabila memang diperlukan.

Jika seseorang belum mengetahui harus mulai dari mana, fasilitas kesehatan primer juga dapat menjadi pintu masuk untuk mendapatkan penilaian awal dan rujukan sesuai kebutuhan.

Kemenkes menyediakan skrining kesehatan jiwa melalui SATUSEHAT Mobile sebagai salah satu sarana deteksi dini. Skrining bukan diagnosis, tetapi hasilnya dapat menjadi bahan untuk mempertimbangkan apakah seseorang membutuhkan konsultasi lebih lanjut.

Self-Care Murah untuk Mengurangi Beban Mental

Perawatan diri tidak harus identik dengan liburan mahal, healing ke luar kota, atau membeli berbagai produk wellness. Langkah sederhana justru bisa menjadi bagian penting untuk mengembalikan pola hidup yang lebih seimbang.

  • Beri batas waktu kerja. Jika memungkinkan, tentukan jam untuk berhenti memeriksa pesan pekerjaan agar tubuh dan pikiran memiliki jeda.
  • Jangan mengorbankan tidur. Kurang tidur dapat membuat tubuh semakin sulit menghadapi tekanan dan memperburuk kelelahan.
  • Bergerak secara rutin. Jalan kaki, peregangan, olahraga ringan, atau aktivitas fisik lain dapat menjadi jeda dari rutinitas duduk dan bekerja.
  • Kurangi multitasking. Selesaikan satu pekerjaan pada satu waktu ketika memungkinkan agar beban perhatian tidak semakin berat.
  • Bicarakan kondisi dengan orang tepercaya. Berbagi cerita dapat membantu seseorang tidak menghadapi tekanan seorang diri.
  • Berikan ruang untuk aktivitas nonkerja. Membaca, memasak, berkebun, bermain bersama keluarga, atau sekadar berjalan santai dapat menjadi bagian dari pemulihan.
Baca Juga:  Selalu Online tapi Jarang Update? Ini 5 Tipe Kepribadian yang Diam-diam Aktif di Media Sosial

Namun, perubahan gaya hidup tersebut sebaiknya tidak digunakan untuk menutupi masalah yang sudah mengganggu fungsi sehari-hari. Jika kondisi terus memburuk, mencari bantuan profesional merupakan langkah yang lebih tepat.

Jangan Menunggu Sampai Kondisi Menjadi Krisis

Kesadaran mengenai kesehatan mental bukan berarti setiap rasa lelah harus dianggap sebagai gangguan mental. Yang perlu diperhatikan adalah pola, durasi, intensitas gejala, serta seberapa jauh kondisi tersebut mengganggu kehidupan seseorang.

Burnout dapat menjadi sinyal bahwa pola kerja dan tekanan pekerjaan membutuhkan perubahan. Depresi membutuhkan perhatian yang lebih luas karena dampaknya tidak terbatas pada pekerjaan.

Jika seseorang mengalami pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau mengakhiri hidup, kondisi tersebut membutuhkan pertolongan segera. Jangan menghadapi situasi tersebut seorang diri dan segera hubungi layanan darurat atau layanan kesehatan terdekat.

Kementerian Kesehatan RI juga menyediakan Healing119 melalui nomor 119 ekstensi 8 untuk dukungan psikologis dan membantu menghubungkan masyarakat dengan pertolongan yang sesuai.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental bukan soal menjadi kuat setiap saat. Mengenali batas diri, mengambil jeda, berbicara dengan orang yang dipercaya, dan mencari bantuan ketika diperlukan justru merupakan bagian dari menjaga diri.