Impor dari China dan Jerman, Begini Bentuk CNG Merah Putih 3 Kg Pengganti Gas Melon

SUARAMALANG.COM, Jakarta – Pemerintah mulai memperkenalkan calon pengganti gas melon atau LPG subsidi 3 kilogram (kg). Produk baru itu bernama CNG Merah Putih dan akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG secara bertahap.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini masih menggunakan komponen impor dari China dan Jerman untuk memproduksi tabung CNG Merah Putih.

Pemerintah menargetkan uji coba tabung CNG 3 kg dimulai pada Juli 2026. Selanjutnya, pemerintah akan mendistribusikannya secara bertahap pada tahun ini.

Tabung Dirakit di China, Valve Dipasok dari Jerman

Kementerian ESDM menjelaskan CNG Merah Putih memiliki kapasitas sekitar 3,8 meter kubik gas alam. Kapasitas tersebut setara dengan isi LPG 3 kilogram.

Tabung CNG terdiri atas tiga komponen utama, yaitu tabung, casing pelindung, dan valve penurun tekanan otomatis.

Pada tahap awal, produsen membuat tabung beserta casing di China. Sementara itu, pemasok dari Jerman menyediakan komponen valve atau katup pengatur tekanan.

Setelah seluruh komponen tersedia, pabrikan merakit semuanya di China sebelum mengirimkannya ke Indonesia.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan pemerintah sedang menyiapkan sekitar 15 unit prototipe untuk tahap pengujian.

“Jadi bulan Juli ini sedang dibuat prototype untuk diuji. Belasan lah mungkin sekitar 15. Saat ini dari Cina aja,” ujarnya di Gedung DPR RI, Senin (29/6/2026).

CNG Merah Putih Gunakan Tabung Komposit yang Lebih Ringan

Laode menjelaskan prototipe CNG Merah Putih menggunakan teknologi tabung tipe 4 berbahan komposit.

Material tersebut jauh lebih ringan dibandingkan tabung baja konvensional yang selama ini dipakai untuk LPG.

Menurutnya, pemerintah memilih material ringan agar masyarakat, terutama ibu rumah tangga, lebih mudah beralih menggunakan CNG.

“Material tabung ini sudah sampai tipe 4. Oleh karena itu kita harus membuat yang lebih ringan agar emak-emak nanti nggak merasa penggantinya berat,” katanya.

Setelah prototipe tiba di Indonesia, tim Lemigas akan menguji seluruh tabung tersebut.

Tim penguji akan memeriksa tekanan, ketahanan material, dan sistem keamanan valve sebelum memberikan izin edar.

Laode menegaskan pemerintah menempatkan aspek keselamatan sebagai prioritas utama sebelum memasarkan CNG Merah Putih.

“Kita uji di Lemigas. Yang paling penting safety dari valve dan tabungnya seperti apa. Satu tahap lagi sudah bisa diimplementasikan tahun ini,” jelasnya.

Harga Disamakan dengan LPG 3 Kg

Pemerintah berencana menyamakan harga CNG Merah Putih dengan LPG subsidi 3 kilogram agar masyarakat tidak terbebani selama masa transisi.

Menurut simulasi Kementerian ESDM, kebijakan tersebut justru berpotensi menurunkan beban subsidi energi hingga sekitar 30 persen.

“Sekarang simulasinya masih disamakan. Dengan disamakan pun subsidi bisa turun sampai dengan 30 persen,” ujar Laode.

Selain menghemat subsidi, pemerintah juga ingin mengurangi impor LPG yang saat ini memenuhi lebih dari 80 persen kebutuhan nasional.

Setiap tahun Indonesia mengimpor sekitar 6,5 hingga 7 juta metrik ton LPG. Untuk itu, pemerintah mengeluarkan devisa sekitar US$5 miliar dan mengalokasikan subsidi lebih dari Rp80 triliun.

Karena itu, pemerintah terus menyusun peta jalan diversifikasi energi dengan memanfaatkan gas bumi domestik sebagai pengganti LPG subsidi.

Apabila penggunaan CNG Merah Putih berkembang secara luas, pemerintah juga membuka peluang bagi investor asal China untuk membangun fasilitas produksi tabung di Indonesia. Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor komponen pada tahap berikutnya.

Iklan
Iklan