SUARAMALANG.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menguji kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Hingga Senin (10/8/2026), area terdampak kebakaran mencapai 742,70 hektare. Luasan itu membuat karhutla 2026 menjadi salah satu kebakaran terbesar dalam catatan kawasan Bromo.
Namun, besarnya luasan tersebut tidak berdiri sendiri. TNBTS sudah berulang kali menghadapi kebakaran dalam rentang waktu lebih dari satu dekade.
Api Berulang di Kawasan Konservasi
Catatan penelitian menunjukkan aktivitas kebakaran di TNBTS sudah terlihat setidaknya sejak 2014. Penelitian tentang pola kebakaran TNBTS juga mencatat aktivitas titik panas pada sejumlah periode.
Pada 2014, kebakaran melanda kawasan Bromo dengan luasan yang cukup besar. Sejumlah laporan saat itu menyebut area terbakar mencapai ratusan hektare.
Setahun kemudian, kebakaran kembali terjadi di kawasan pendakian Gunung Semeru. Sekitar 10 hektare hutan di jalur Watu Rejang terbakar dan diduga berkaitan dengan sisa api unggun pendaki.
Peristiwa serupa kembali muncul pada 2017. Kebakaran melanda kawasan savana Bromo dan menghanguskan sekitar 30 hektare vegetasi.
2018-2019, Kebakaran Kembali Terjadi
Pada September 2018, api kembali membakar kawasan savana dan hutan di sekitar Bromo. Kondisi vegetasi yang mengering selama musim kemarau membuat api lebih mudah menjalar.
Setahun berikutnya, kebakaran kembali terjadi di kawasan Penanjakan. Lebih dari 10 hektare hutan dilaporkan terbakar dalam peristiwa tersebut.
Catatan penelitian bahkan menunjukkan puluhan titik panas terdeteksi di kawasan TNBTS sepanjang 2019. Kondisi itu memperlihatkan bahwa ancaman kebakaran bukan fenomena yang muncul sesekali.
2021 hingga Kebakaran Besar 2023
Pola tersebut berlanjut pada 2021. Kebakaran kembali muncul di sejumlah titik kawasan TNBTS wilayah Pasuruan dan membakar vegetasi selama beberapa hari.
Namun, perhatian publik terhadap karhutla TNBTS mencapai titik berbeda pada September 2023. Kebakaran di savana Bromo bermula setelah penggunaan flare dalam sesi foto pranikah.
Api kemudian meluas hingga sekitar 274 hektare kawasan. Peristiwa itu juga memaksa pengelola menutup kawasan wisata Bromo untuk sementara.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa aktivitas manusia tetap menjadi salah satu faktor penting dalam risiko kebakaran. Di sisi lain, kondisi alam seperti kemarau, angin, dan vegetasi kering dapat mempercepat penyebaran api.
2024, Api Kembali Muncul
Riwayat kebakaran ternyata tidak berhenti setelah insiden besar 2023. Pada 2024, api kembali membakar sejumlah kawasan di sekitar Bromo dan Gunung Batok.
BNPB saat itu mencatat sekitar 50 hektare lahan terbakar di kawasan Gunung Bromo. Tim gabungan kemudian melakukan pemadaman dan pendinginan untuk mencegah api kembali muncul.
Beberapa titik lain juga mengalami kebakaran pada periode yang sama. Kondisi tersebut kembali memperlihatkan tingginya kerawanan kawasan saat memasuki musim kemarau.
2026, Luasan Melonjak hingga 742,70 Hektare
Memasuki Agustus 2026, kebakaran kembali muncul di kawasan Bromo. Luasan area terdampak kemudian meningkat cepat dalam hitungan hari.
Dari sekitar puluhan hektare, area terdampak meningkat menjadi 120 hektare. Angka itu kemudian melonjak menjadi 520 hektare sebelum mencapai 742,70 hektare pada 10 Agustus 2026.
Tim gabungan pun memperkuat operasi pemadaman dari darat dan udara. Helikopter, drone, kendaraan pemadam, serta personel gabungan dikerahkan untuk mengendalikan api.
Langkah tersebut menunjukkan besarnya sumber daya yang harus dikerahkan ketika api sudah terlanjur meluas. Persoalannya, pendekatan pemadaman saja belum menjawab mengapa kebakaran terus berulang.
Bukan Sekadar Soal Memadamkan Api
Jika ditarik dalam rentang lebih dari satu dekade, kebakaran TNBTS menunjukkan pola yang patut dievaluasi. Api kembali muncul pada kawasan yang sama-sama memiliki kerentanan tinggi selama musim kemarau.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya siapa yang memadamkan api. Publik juga layak mengetahui seberapa efektif sistem pencegahan, patroli, deteksi dini, serta pengawasan kawasan selama ini.
Apalagi, TNBTS bukan kawasan biasa. Kawasan tersebut merupakan wilayah konservasi yang menyimpan ekosistem penting sekaligus menjadi salah satu destinasi wisata utama Jawa Timur.
Karhutla 2026 akhirnya kembali menghadirkan pekerjaan rumah lama. Ketika kebakaran terus berulang, evaluasi seharusnya tidak berhenti setelah api berhasil dipadamkan.
Catatan kebakaran sejak setidaknya 2014 menunjukkan satu hal: persoalan TNBTS bukan hanya tentang bagaimana memadamkan api, tetapi bagaimana mencegah api yang sama kembali membesar.















