Kenapa Gaya Hidup Sehat Kini Makin Bergantung pada Teknologi?

SUARAMALANG.COM – Dulu, menjaga kesehatan mungkin cukup dengan berolahraga, mengatur makanan, dan tidur teratur. Kini, rutinitas tersebut semakin sering ditemani aplikasi, smartwatch, fitness tracker, hingga kecerdasan buatan (AI) yang membantu pengguna memantau berbagai aspek kesehatan.

Perubahan ini terlihat dalam survei PwC Voice of the Consumer 2026. Sebanyak 86 persen konsumen Indonesia mengaku sudah menggunakan aplikasi kesehatan atau perangkat wearable. Pada konsumen yang lebih muda, tingkat adopsinya bahkan mencapai 90 persen.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa teknologi gaya hidup sehat mulai menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Orang tidak hanya ingin hidup lebih sehat, tetapi juga ingin mengetahui apakah kebiasaan yang mereka jalankan benar-benar membawa perubahan.

Wellness Kini Bisa Dipantau dari Pergelangan Tangan

Smartwatch dan perangkat wearable membuat berbagai aktivitas sehari-hari menghasilkan data. Jumlah langkah, detak jantung, durasi tidur, aktivitas olahraga, hingga beberapa indikator kesehatan lain dapat muncul dalam satu aplikasi.

Data tersebut kemudian memberi pengguna gambaran mengenai pola hidup mereka. Seseorang yang merasa sudah cukup tidur, misalnya, bisa membandingkan perkiraannya dengan data tidur dari perangkat yang digunakan.

PwC mencatat 37 persen konsumen Indonesia menggunakan perangkat digital untuk membantu meningkatkan kualitas tidur. Sebanyak 29 persen memanfaatkannya untuk memantau aktivitas olahraga, sedangkan 21 persen menggunakannya untuk mendukung kesehatan mental.

Perubahan ini membuat konsep wellness-tech semakin menarik. Teknologi tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat komunikasi atau hiburan, tetapi ikut masuk ke rutinitas tidur, olahraga, nutrisi, dan pemulihan tubuh.

Namun, data dari perangkat tersebut tetap perlu dipahami sebagai informasi pendukung, bukan diagnosis medis. Akurasi setiap perangkat juga dapat berbeda berdasarkan teknologi, cara penggunaan, dan jenis indikator yang diukur.

Dari Menghitung Langkah hingga Bertanya kepada AI

Peran teknologi dalam perjalanan kesehatan juga semakin luas karena kehadiran AI.

Baca Juga:  Resmi! Gaji PNS, ASN, dan PPPK Naik 8% Mulai Januari 2024, Cek Rinciannya

Ketika seseorang merasa penasaran tentang pola tidur, makanan, olahraga, atau keluhan kesehatan tertentu, mesin pencari dan chatbot AI dapat menjadi tempat pertama untuk mencari informasi.

PwC menemukan bahwa 71 persen konsumen Indonesia akan mencari jawaban melalui AI terlebih dahulu ketika memiliki pertanyaan terkait kesehatan. Angka tersebut menunjukkan betapa cepat teknologi masuk ke tahap awal perjalanan seseorang dalam mencari informasi kesehatan.

AI juga dapat membantu membuat rencana makan, menyusun rutinitas olahraga, merangkum informasi kesehatan, atau mengingatkan jadwal tertentu. Dalam laporan globalnya, PwC mencatat konsumen muda semakin nyaman menggunakan AI untuk berbagai aktivitas wellness, termasuk perencanaan makanan, program kebugaran, dan pemantauan kesehatan.

Meski praktis, kemudahan tersebut membutuhkan literasi digital. PwC mengingatkan bahwa informasi kesehatan di internet tidak selalu akurat dan dapat mengandung misinformasi atau klaim yang menyesatkan.

Karena itu, teknologi sebaiknya membantu seseorang mengajukan pertanyaan yang lebih baik, bukan menggantikan tenaga kesehatan ketika kondisi memang membutuhkan pemeriksaan profesional.

Teknologi Membuat Hidup Sehat Terasa Lebih Personal

Salah satu alasan wellness-tech berkembang adalah kemampuannya memberikan pengalaman yang terasa lebih personal.

Target aktivitas fisik dapat disesuaikan. Pengguna bisa melihat pola tidurnya sendiri. Aplikasi tertentu dapat memberikan pengingat minum obat atau membantu mencatat asupan makanan.

PwC mencatat 35 persen konsumen Indonesia menggunakan teknologi untuk mendapatkan pengingat konsumsi obat. Sementara itu, 28 persen secara aktif merencanakan pola makan atau asupan nutrisi mereka.

Perangkat wearable juga mulai terhubung dengan layanan kesehatan. Sebanyak 77 persen konsumen Indonesia dalam survei PwC menyatakan bersedia membayar lebih untuk wearable yang datanya dapat ditinjau tenaga kesehatan. Angka tersebut mencapai 78 persen pada konsumen muda.

Artinya, sebagian konsumen tidak hanya menginginkan perangkat yang bisa menghitung langkah. Mereka mulai melihat nilai lebih ketika data tersebut dapat membantu proses pemantauan kesehatan bersama profesional.

Baca Juga:  Arti dan Makna "Fastabiqul Khairat": Pesan Penting di Era Modern

Sehat dengan Teknologi Tetap Butuh Batas

Meski teknologi menawarkan banyak kemudahan, semakin banyak data tidak otomatis berarti seseorang semakin sehat.

Terlalu fokus pada angka juga dapat membuat aktivitas wellness berubah menjadi kewajiban baru. Target langkah harus tercapai setiap hari. Durasi tidur harus memenuhi angka tertentu. Kalori harus terus dipantau. Olahraga terasa gagal hanya karena skor aplikasi tidak sesuai target.

Karena itu, teknologi sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan sumber tekanan baru.

Hal yang sama berlaku untuk AI. Informasi dari chatbot dapat membantu seseorang memahami sebuah topik secara umum, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan dan penilaian tenaga kesehatan.

Pada akhirnya, teknologi hanya salah satu bagian dari gaya hidup sehat. Tidur yang cukup, makanan bergizi, aktivitas fisik, hubungan sosial, pengelolaan stres, dan akses terhadap layanan kesehatan tetap memiliki peran penting.

Tren wellness-tech menunjukkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar meningkatnya penggunaan smartwatch. Cara orang memahami kesehatan sedang berubah. Kesehatan semakin dipantau, dicatat, dan dibicarakan melalui perangkat digital.

Tantangannya sekarang bukan lagi sekadar bagaimana menggunakan teknologi untuk hidup lebih sehat, tetapi bagaimana menggunakan data tersebut secara bijak tanpa membiarkan angka mengambil alih seluruh keputusan tentang tubuh dan kesejahteraan kita.